Ilmu Tak Pernah Tergerus Cukai: Petani Tetap Belajar Meski Harga Anjlok
Oleh: Sutoyo
____________________
Ditengah kabar buram mengenai industri tembakau yang sedang gonjang-ganjing, semangat para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani "Suka Tani" desa Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo tak ikut runtuh. Gudang Garam, salah satu raksasa industri rokok nasional dikabarkan terancam bangkrut akibat beban cukai yang terus melambung. Situasi ini ikut mengguncang ekosistem hulu, yaitu petani tembakau. Harga tembakau tahun ini anjlok drastis, membuat para pelaku usaha—terutama petani kecil—menjerit lirih. Namun satu hal yang tak ikut jatuh bersama harga adalah semangat untuk belajar dan bertahan.
Pagi yang mendung di Desa Gowong, berubah menjadi cerah saat puluhan petani berkumpul di lahan tanaman tembakau milik Kelompok Tani "Suka Tani". Mereka hadir bukan untuk panen atau protes, tapi untuk menyimak pemaparan teknis dari tim BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) tentang teknik pemupukan berimbang dan efisien. Sebuah momentum langka, mengingat isu-isu besar tengah menekan sektor pertanian tembakau. Petani tetap memilih untuk membuka telinga dan hati, menerima ilmu dengan tangan terbuka.
Belajar Ditengah Krisis
Dalam dunia pertanian, ada satu prinsip lama yang tetap relevan: “Saat musim tak bersahabat dan harga jatuh, ilmu menjadi satu-satunya investasi yang tak pernah rugi.” Prinsip inilah yang diam-diam dipraktikkan oleh para petani di desa Gowong. Mereka tidak larut dalam kesedihan akibat harga tembakau yang jeblok, mereka justru menyiapkan diri untuk menanam yang lebih baik, dengan cara yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.
BRIN hadir bukan hanya membawa pupuk, tetapi membawa harapan baru. Mereka memperkenalkan pendekatan pemupukan presisi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan karakteristik tanah. Bukan asal tabur, tapi cermat dalam dosis dan waktu. Jika dulu pupuk kerap dianggap beban biaya, kali ini ilmu pemupukan justru menjadi kunci efisiensi produksi.
“Ilmu ini penting, Mas,” ujar Pak Munshorip, petani senior sekaligus ketua di kelompok. “Walaupun harga tembakau jatuh, kalau cara nanam kita makin bagus, biaya bisa ditekan, hasil tetap bisa diandalkan.” Ucapan sederhana tapi dalam maknanya. Ini bukan sekadar soal menanam daun, tapi juga menanam harapan—meski tanah pasar sedang kering.
Antara Gudang yang Goyang dan Ladang yang Bertahan
Kebijakan cukai yang terus naik memang menimbulkan efek domino. Perusahaan besar mulai mengurangi serapan bahan baku. Gudang tutup lebih cepat, tengkulak mengerem pembelian, dan petani terpaksa menjual hasil dengan harga seadanya. Ditengah realitas seperti itu, mudah bagi siapa pun untuk menyalahkan keadaan. Tetapi tidak berlaku di sini.
Petani di Gowong memilih jalan lain: tidak menyalahkan, tapi memperbaiki dari dalam. Mereka sadar tak bisa mengubah harga, tapi bisa mengubah cara tanam. Mereka sadar tak bisa menekan kebijakan pemerintah, tapi bisa mengendalikan biaya produksi. Di sinilah peran ilmu menjadi penting. Tidak instan, tapi bertahan lama.
Kehadiran penyuluh lapangan dan tim BRIN menjadi angin segar ditengah keputusasaan. Apalagi banyak petani muda seperti Kholid yang kini mulai aktif belajar, mencatat, bahkan bertanya soal teknik tanam organik dan diversifikasi lahan. Tembakau memang masih jadi andalan, tetapi bukan satu-satunya harapan.
Ilmu Tidak Pernah Murah, Tapi Jauh Lebih Mahal Kalau Diabaikan
Kalimat ini menjadi semacam benang merah dari kegiatan hari itu. Ilmu memang tidak gratis—perlu waktu, tenaga, dan kemauan untuk menerimanya. Tapi jauh lebih mahal lagi dampaknya kalau kita menutup diri darinya. Petani yang tetap belajar di tengah keterpurukan adalah petani yang sedang menanam masa depan.
BRIN mungkin hanya datang beberapa jam, tapi ilmu yang mereka bawa bisa bertahan hingga musim-musim berikutnya. Dan yang lebih penting: membentuk pola pikir baru bahwa petani bukan sekadar penggarap tanah, tapi juga pengelola ilmu.
Jika gudang-gudang rokok kini mulai sepi, jangan sampai ladang-ladang juga ikut mati. Di Gowong tanah masih digarap, ilmu masih disemai, dan harapan masih ditumbuhkan. Meski harga tembakau jatuh, ilmu tetap tinggi nilainya. Ia tak bisa digadaikan, tak bisa dicukai, dan tak akan pernah bangkrut.
Petani yang belajar, adalah petani yang memuliakan profesinya. Dan selama masih ada petani yang mau belajar, negeri ini masih punya harapan.








