HIGH VALUE CROP SOLUSI TINGKATKAN EKONOMI DAN INDEKS PERTANAMAN BAGI PETANI

By DINPPKP 07 Agu 2025, 09:33:22 WIB Penyuluhan

HIGH VALUE CROP

SOLUSI TINGKATKAN EKONOMI DAN INDEKS PERTANAMAN BAGI PETANI

 

Peningkatan produktifitas lahan dipengaruahi oleh perilaku petani bagaimana lahan di hamparan suatu wilayah itu di Kelola secara optimal atau hanya mengandalkan perilaku rutinitas. Indeks Pertanaman (IP) akan berkembang bila sentuhan teknologi dan permodalan sampai ketingkat petani. Adalah Peluang budidaya tanaman bernilai ekonomis tinggi (High Value Crop) untuk peningkatan perekonomian petani.

Pertanian merupakan pusat perputaran roda kehidupan manusia di permukaan bumi, kesemuanya saling ketergantungan. Unsur biotik dan abiotik sangat berpengaruh terhadap ekologi dalam ekosistem suatu Kawasan lahan pertanian. Petani di Indonesia yang sebagian besar merupakan petani padi dan identik dengan kemiskinan. Rata-rata kepemilikan lahan petani hanya memiliki 0,25 Ha per kepala keluarga, jadi dari kepemilikan lahan tersebut maka nilai petani itu miskin. Namun paradigma itu harus di rubah dengan perbaikan pola tanam yang semula tradisional menjadi pola tanam yang lebih terprogram lebih intensif dengan pola pergiliran tanaman dengan tanam tanaman yang bernilai ekonomis tinggi High Value Crop (HVC) seperti yang ada di program SIMURP yang berakhir di Tahun 2023 di Kabupaten Purworejo. Pola tanam yang Sebagian besar dilakukan oleh petani tradisional adalah Padi-padi-bero, ada yang Padi-padi-palawija juga ada daerah yang supali irigasinya mencukupi dengan pola tanam Padi-padi-padi bahkan padi-padi-padi-padi (IP 400). Bagi petani yang hanya menerapkan dua musim tanam yakni MT I (Rendengan-jawa) dan MT II (Gadu-jawa) maka di MT III (Ketigo-Jawa) lahan sawah yang berhektar-hektar ini akan terbengkelai nganggur tak punya nilai ekonomis. Waktu jeda lahan sawah yang tidak dimanfaatkan antara bulan Juli-November ini biasanya hanya di biarkan/bero oleh petani. Musim kering atau kemarau ini menjadi tantangan bagi semua pihak bagaimana merubah agar lahan bero ini bisa berganti menjadi hijau dengan tanaman yang bernilai ekonomis tinggi.

Mengubah sikap perilaku dan ketrampilan petani dalam suatu hamparan yang minim sentuhan teknologi merupakan tantangan bagi penyuluh pertanian maupun stakeholder yang berkepentingan dalam pemberdayaan sumberdaya manusia pertanian. Dengan melakukan sosialisasi, edukasi percontohan atau demplot, study banding maka diharapkan ada pandangan dan perubahan wawasan petani untuk melakukan perubahan perilaku agar muncul sikap yang lebih memotivasi diri petani dan lingkungan kelompok hamparan disuatu hamparan lahan agar perubahan itu muncul perlahan namun pasti. Kebiasaan petani akan selalu meniru petani lain yang berhasil sehingga dalam hamparan lahan akan muncul spot-spot usaha tani baru bahkan terkadang akan menanam dengan lahan yang lebih luas dari petani yang dicontohnya/ditiru. Ini menjadi awal adanya perubahan dalam suatu hamparan yang semula bero menjadi titik awal lahan produktif.

High Value Crop atau tanaman bernilai ekonomis tinggi di antaranya komoditas Cabai, Melon, Semangka, bawang merah merupakan beberapa contoh komoditas yang bisa dikembangkan di lahan bero setelah padi. Kelompok tani Maju Jaya Desa Bubutan di Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo yang di ketuai oleh Purnomo hampir tiga tahun terakhir di MT III setelah padi anggota kelompok tani banyak yang berusaha tani budidaya semangka di MT III yang mulai dikembangkan Tahun 2023 lalu hingga MT III 2025 yang saat ini sedang berlangsung misalnya kelompok tani ini menanam tanaman semangka jenis Black Orange Passport dan beberapa varietas lainnya, ada sekitar 25-30 orang petani dengan rata-rata setiap petani menanam dengan luasan 3400 m² total luasan kurang lebih 15-20 Ha. Pengembangan lahan bero untuk tanaman High Value Crop dengan semangka Black Orange Passport  sangat bermanfaat untuk peningkatan indeks pertanaman dari yang semula IP 200 ke IP 250 dan IP 300. Beragamnya komoditas yang dikembangkan seperti Cabai Keriting, Melon dan semangka ataupun tanaman High Value Crop lainnya pada hamparan yang sudah tersentuh teknologi dan permodalan maka akan menjadikan nilai plus bagi petani. Titik awal berkembangnya suatu hamparan lahan yang semula minim sentuhan teknologi, motivasi, dan permodalan tadi maka perlahan akan menjadi lahan hijau yang menghasilkan oksigen-oksigen bagi kehidupan di muka bumi. Tingkat perekonomian petani yang identik dengan petani miskin juga akan terkikis apabila peningkatan produktifitas lahan ini terus berkembang dengan inovasi-inovasi yang baru. Adanya program pemanfaatan dana desa melalui kegiatan dana ketahanan pangan (Ketapang) membawa perubahan yang sangat banyak di berbagai sektor usaha terutama sektor pertanian secara luas. Desa sebagai pusat agribisnis sangat berperan dalam memutar perekonomian bagi masyarakat perdesaan.

Teknologi budidaya pertanian dewasa ini telah berkembang pesat dengan hadirnya mekanisasi peralatan mesin pertanian mulai dari pra tanam hingga pasca panen. Petani yang hanya rata-rata memiliki lahan terbatas akan bisa menikmati atau bisa memanfaatkan teknologi mekanisasi tidak harus memiliki secara pribadi namun bisa memanfaatkan kelembagaan-kelembagaan petani seperti mengaktifkan atau memfungsikan kelompok tani yang ada agar peralatan yang di miliki bisa di optimalkan, tidak hanya dikuasai oleh pengurus, mengoptimalkan kelembagaan UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan) dan dan kelembagaan petani lainnya. Keterbatasan permodalan akan bisa di tanggulangi dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang di programkan pemerintah bagi masyarakat yang membutuhkan akses permodalan, serta mengoptimalkan dan pemberdayaan keberadaan dana Ketapang.

Dana desa yang saat ini sudah semua desa mendapatkan bantuan juga menyentuh untuk kegiatan ketahanan pangan, petani yang rata-rata tinggal di desa akan bisa menikmati dengan dibuatkannya program sesuai kebutuhan dari bawah Button Up  dari petani untuk petani. Seperti berkembangnya budidaya High Value Crop di salah satu kelompok tani di Desa Bubutan dan beberapa desa di selatan Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, menggunakan dana desa minim 20% untuk kegiatan ketahanan pangan dengan budidaya tanaman bernilai ekonomi tinggi salah satunya semangka. Keberhasilan kelompok tani dalam berusaha tani juga tak lepas dari keinginan yang besar para petani untuk meningkatkan perekonomian juga untuk menghijaukan lahan di MT III dengan merotasi tanaman tidak hanya terus menerus dengan pola tanam padi-padi-bero ataupun padi-padi-padi yang saat ini mulai berkembang cukup pesat di Kecamatan Purwodadi. Dengan pola tanam padi-padi-palawija/hortikultura ini ternyata sangat ampuh untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Terbaik solusi meningkatkan indeks pertanaman adalah mengidentifikasi potensi lahan, sumberdaya manusia dan potensi sumberdaya alam yang ada. Potensi sumberdaya alam yang ada sangat berpengaruh terhadap pola berpikir Masyarakat tani untuk memecahkan masalah menjadi peluang usaha tani yang menantang, seperti hasil panen semangka di Poktan Maju Jaya MT III Tahun 2024 lalu bisa panen dari lahan seluas 15 Ha dengan produktifitas rata-rata per hektar 18-20 ton maka produksi ada 270-300 ton, harga Rp 3.000,-/Kg ditingkat petani. Modal petani untuk budidaya semangka Rp 24.000.000,-/Ha. Kalkulasi  keuntungan petani bila hasil terendah 18.000 Kg x Rp 3.000,- = Rp 54.000.000,-/Ha dikurangi modal Rp 24.000.000,- maka petani mendapatkan keuntungan Rp 30.000.000,-/Ha atau bila dirata-rata kalau petani kecil menanam 1 iring (0,16 Ha) maka petani mempunyai keuntungan Rp 5.000.000,-/iring dalam kurun waktu dua bulan. Maka perputaran perekonomian dari budidaya tanaman High Value Crop di Desa Bubutan tersebut tidaklah sedikit dan ini peluang bagaimana meregenerasi petani untuk edukasi agar para insan milenial mencintai pertanian. Di MT III Tahun 2025 ini melalui dana Ketapang petani masih menggunakannya untuk kegiatan pertanian khususnya kembali mengembangkan budidaya tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi salah satunya tanaman semangka untuk mengulang kesuksesan budidaya seperti tahun sebelum-sebelumnya.

Peluang besar pemanfaatan lahan bero yang sangat luar biasa ini, untuk merubah pola tanam padi-padi-bero menjadi pola tanam lahan bero menjadi lahan produktif. Sarana produksi seperti pupuk non subsidi, pestisida kimia yang saat ini tergolong sudah “berganti harga” seakan sudah di abaikan oleh petani, karena sebuah tantangan bagaimana High Value Crop bukan lagi rintangan, tapi menjadi sebuah peluang untuk meningkatkan indeks pertanaman juga meningkatkan perekonomian bagi petani itu sendiri.**





Berita Purworejo

Counter Pengunjung