Harga Bawang Merah Bikin Nangis? Tanam Sendiri di Pekarangan, Mengapa Tidak?

By DINPPKP 12 Mar 2026, 13:41:52 WIB Penyuluhan
Harga Bawang Merah Bikin Nangis? Tanam Sendiri di Pekarangan, Mengapa Tidak?

Harga Bawang Merah Bikin Nangis? Tanam Sendiri di Pekarangan, Mengapa Tidak?

KEMIRI KEREN NEWS — Fluktuasi harga bawang merah yang kerap terjadi di pasaran menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tidak jarang harga bawang merah melonjak tajam dan membuat pengeluaran rumah tangga meningkat.

Berangkat dari kondisi tersebut, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemiri menghadirkan edukasi kepada masyarakat melalui siaran radio bertema “Bertanam Bawang Merah, Mengapa Tidak?” yang disiarkan secara langsung pada Senin, 9 Maret 2026 (9/3) pukul 10.00 hingga 11.30 WIB di Binamas FM.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Umul Khasunah, S.P., M.A.P., penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kemiri, yang memberikan informasi sekaligus motivasi kepada masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai media budidaya bawang merah.

Dalam pemaparannya, Umul Khasunah menjelaskan bahwa bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Hampir setiap masakan membutuhkan bawang merah sebagai bumbu dasar. Namun di sisi lain, harga bawang merah dikenal sangat fluktuatif sama halnya dengan cabai, kadang murah saat panen raya, namun bisa melonjak sangat tinggi ketika pasokan berkurang, terutama menjelang Lebaran.

“Permintaan bawang merah selalu tinggi, sementara produksi tidak selalu stabil. Itulah sebabnya harga bawang merah sering berubah-ubah. Ketika mendekati hari besar keagamaan seperti Lebaran, harga biasanya meningkat cukup tajam,” jelas Umul Khasunah dalam siaran tersebut.

Melalui siaran edukatif ini, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada pasokan dari pasar. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menanam bawang merah sendiri di pekarangan rumah.

Menurutnya, budidaya bawang merah sebenarnya tidak harus dilakukan di lahan yang luas. Pekarangan rumah, halaman sempit, bahkan teras rumah dapat dimanfaatkan dengan menggunakan pot, polybag, atau wadah sederhana lainnya.

Selain mudah dilakukan, waktu panen bawang merah juga relatif singkat, yakni sekitar 55 hingga 70 hari setelah tanam. Dengan perawatan yang tepat seperti pemilihan bibit berkualitas, penyiraman yang cukup, serta pengendalian hama secara sederhana, masyarakat sudah dapat memanen bawang merah sendiri untuk kebutuhan dapur.

“Jika setiap rumah tangga mulai menanam bawang merah di pekarangan, setidaknya kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi secara mandiri. Ini juga menjadi langkah kecil dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga,” tambahnya.

Siaran yang berlangsung selama satu setengah jam ini juga memberikan ruang interaksi bagi pendengar untuk bertanya secara langsung mengenai teknik budidaya bawang merah di rumah. Antusiasme masyarakat terlihat dari berbagai pertanyaan yang masuk selama program berlangsung.

Melalui media radio, pesan pertanian dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan mudah dipahami. Edukasi seperti ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.

Dengan memulai dari langkah sederhana di rumah, masyarakat tidak hanya dapat menghemat pengeluaran, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga ketersediaan pangan di lingkungan sekitar.

Karena itu, seperti pesan yang disampaikan dalam siaran tersebut, bertanam bawang merah bukanlah hal yang sulit. Justru dari pekarangan rumah sendiri, kemandirian pangan keluarga bisa dimulai. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung