- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Gugur Gunung, Tradisi Jawa yang Sarat Makna di KWT Ngudi Lestari Sumowono

Gugur Gunung, Tradisi Jawa yang Sarat Makna di KWT Ngudi Lestari Sumowono
========================
Hanang Sarwono-PPL Kec. Kaligesing.
Kaligesing, 14 Oktober 2025
Gugur gunung adalah tradisi gotong royong atau kerja bakti yang dilakukan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat, terutama di pedesaan Jawa, untuk menyelesaikan pekerjaan yang berat. Istilah ini mengandung makna semangat kerja sama untuk mencapai tujuan bersama tanpa mengharapkan imbalan, seolah-olah "meruntuhkan gunung". Kegiatan ini bisa bertujuan untuk membangun atau memperbaiki fasilitas umum atau membersihkan lingkungan sekitar, yang sarat akan filosofi. Selain meringankan pekerjaan, kegiatan ini menumbuhkan semangat kebersamaan, mempererat tali silaturahmi, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, serta menciptakan kebersamaan antar warga.
Hal itulah yang dilaksanakan oleh KWT ngudi Lestari desa Sumowono Kecamatan Kaligesing, yang pada hari Selasa 14 Oktober 2025 bersama-sama gugur gunung yang benar-benar "menggungurkan gunung" di lereng pegunungan Menoreh desa Sumowono. Pekerjaan itu tentunya sudah biasa bagi para lelaki, namun cukup "menantang" bagi ibu-ibu KWT, yang nota bene umuran nenek-nenek (di atas 55 tahun). Lereng pegunungan yang cukup terjal dan tinggi, dengan kemiringan kurang lebih 35%, tidak mudah untuk ditaklukkan dan dijadikan lahan pertanian yang ideal / terasiring. Apalagi tanpa alat berat, hanya menggunakan peralatan seadanya, cangkul dan tenaga tua, dan ketabahan...
Dikomandani oleh Ketua KWT, Ibu Tusiyah, dan disemangati oleh Penyuluh Wibi Sumowono, Deni Haryanto, S.P. bersama teman-teman PPL Kecamatan Kaligesing, ibu-ibu KWT Ngudi Lestari sangat bersemangat bahu-membahu mengolah lereng itu, yang cukup lama merana ditumbuhi perdu dan ilalang, untuk dijadikan terasiring dan bedeng-bedeng yang rencananya akan ditanami sayuran.
Selepasnya, ibu-ibu KWT beristirahat sambil bersendau gurau untuk melepaskan penat, sembari mendengarkan dan sharing informasi dari penyuluh pertanian Kecamatan Kaligesing, tentang budidaya sayuran, dan topik-topik lain seputar perikanan maupun peternakan. Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Kaligesing bergantian memberikan informasi maupun sosialisasi, dalam suasana santai kekeluargaan dan menyegarkan karena dilaksanakan di lahan. Tidak ada sekat "ewuh pekewuh" maupun kekakuan komunikasi, karena begitu mengalir layaknya obrolan sehari-hari.
Kegiatan gugur gunung seperti ini diharapkan bisa menjadi kegiatan rutin di KWT maupun kelompok-kelompok tani, karena sarat filosofi, dan multifungsi.






