- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Gugur Gunung: Cara Petani Desa Gowong Memaknai Hari Kebangkitan Nasional Meraih Ketahanan Pangan

Gugur Gunung: Cara Petani Desa Gowong Memaknai Hari Kebangkitan Nasional Meraih Ketahanan Pangan
(Storytelling)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Gowong, 26 Mei 2025___ Masih dalam suasana peringatan hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, sebuah momen historis yang menandai bangkitnya kesadaran kolektif nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, ada makna kebangkitan yang tumbuh secara senyap dari desa. Di kaki perbukitan Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, para petani Desa Gowong menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui cara yang sangat sederhana, namun berdampak besar: gugur gunung di sawah.
Jika para tokoh pergerakan nasional bangkit melalui pena, forum diskusi, dan organisasi, maka para petani di Desa Gowong bangkit melalui cangkul, benih, dan gotong royong. Bagi mereka, ketahanan pangan bukan sekadar jargon pemerintah, tapi misi hidup yang dijalankan setiap hari.
Mereka sadar bahwa ketahanan pangan nasional dimulai dari ketahanan pangan keluarga dan desa. Maka saat musim tanam tiba, warga tak segan turun bersama—tua, muda, laki-laki, perempuan—untuk mengolah tanah secara kolektif. Inilah yang disebut gugur gunung, tradisi gotong royong khas Jawa yang menjadi bentuk nyata solidaritas sosial dan cinta tanah air.
Tradisi gugur gunung bukan hanya bentuk kerja sama, tapi juga cerminan nilai-nilai luhur bangsa: kebersamaan, kemandirian, pengabdian, dan keberlanjutan. Di tengah tantangan zaman—perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan krisis pangan global—petani Gowong tetap teguh di sawah -ladang, menanam harapan di tanah sendiri.
Hari Kebangkitan Nasional dimaknai bukan sebagai seremonial, tapi sebagai panggilan untuk bangkit lewat profesi masing-masing. Bagi petani, profesi itu adalah penjaga kehidupan, penyambung nyawa negeri.
Ketika banyak orang mengira kebangkitan hanya terjadi di kota dan ruang politik, petani Gowong justru membuktikan bahwa desa juga bisa bangkit, bahkan menjadi fondasi kebangkitan bangsa. Mereka tidak menuntut perhatian, tidak meminta penghargaan. Yang mereka harapkan hanya satu: tanah tetap subur, panen tetap cukup, dan anak cucu tetap bisa makan dari negeri sendiri.
Ditengah gempuran modernitas dan budaya instan, gugur gunung di Desa Gowong adalah oase nilai-nilai kebangsaan yang terus hidup. Dari balik lumpur dan peluh, tersimpan semangat kebangkitan sejati: bangkit bersama, bertahan bersama, dan memberi arti bagi negeri.
Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang masa lalu. Di Desa Gowong, ia hidup dalam cangkul yang menari di ladang, dalam tawa petani yang saling membantu, dan dalam harapan yang tumbuh dari benih yang ditanam bersama.






