- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
GROPYOKAN TIKUS DI DESA PUNDENSARI KECAMATAN PURWODADI, WUJUD NYATA DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA PANGAN NASIONAL

GROPYOKAN TIKUS DI DESA PUNDENSARI KECAMATAN PURWODADI, WUJUD NYATA DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA PANGAN NASIONAL
Tikus sawah (Ratus argentiventer) merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17% dari total luas arel padi. Perkembangbiakan dan mobilitas tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman padi yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat,mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani.
Daya rusak tikus pada persemaian mencapai 283 bibit per malam; pada fase vegetatif tikus dapat merusak ±80 batang per malam (11-176 tunas) dan pada fase generatif dapat menyebabkan kerusakan ±130 batang per malam (24-246 tunas). 1 (satu) ekor induk tikus betina dalam 1 musim tanam dapat menghasilkan populasi tikus sebanyak ±100 ekor. Dari laporan penelitian diketahui selama 10 bulan 1 indukan tikus dapat berkembang menjadi 510 ekor. Untuk pola tanam tidak serentak (13 bulan) 1 ekor indukan tikus dapat berkembang menjadi 2.046 ekor tikus. Tikus mulai kawin saat tanaman padi berumur 20 HST . Kelahiran pertama tikus adalah saat padi berumur 48-52 HST . Berturut-turut tikus melahirkan ±setiap 21 HST sampai padi menjelang panen.
Di Desa Pundensari Kecamatan Purwodadi pada MT 2 Tahun 2025 kehilangan hasil mencapai 40% dari yang biasanya dapat mnghasilkan 1 ton GKP/iring akibat seranga tikus hanya menghasilkan 6 kuintal GKP/iring. Dalam rangka persiapan MT 3 untuk menurunkan populasi awal Pihak Desa dan Petani Desa Pundensari mengadakan Gerakan pengendalian Tikus melalui Gropyokan pada hari Selasa tanggal 12 Agustus 2025. Gerakan ini juga melibatkan BPP Purwodadi, Koramil Purwodadi dan Polsek Purwodadi. Kurang lebih 500-1000an ekor tikus berhasil dikendalikan. Gerakan gropyokan tikus ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Pundensari di lokasi yang akan di tanami padi MT 3.
Sinergitas antara BPP, pemerintah desa, TNI dan Polri dalam pendampingan kepada petani membuat petani lebih termotivasi dan memberikan semangat kepada petani dalam berbudidaya khususnya budidaya padi. Pendampingan ini sebagai bentuk dukungan terhadap program swasembada pangan nasional. Diharapkan pendampingan lintas sektoral ini dapat terus berlanjut agar petani berhasil dalam berbudidaya dan meraih hasil panen yang baik.
Penulis : Nani Haryani Setianingrum, S.P. – PPL BPP Kecamatan Purwodadi






