- JAMIN KEAMANAN PANGAN, SAMPEL PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN (PSAT) DARI DUA PASAR TRADISIONAL DI PURWOREJO DISISIR DAN DIUJI RAPID TEST
- Kelompok Tani Rukun Tani dan Sumber Harapan, Panen Varietas Unggulan dengan Tantangan Cuaca dan Harga
- SELEKSI TENAGA FASILITATOR LAPANGAN KEGIATAN RJIT 2026
- Pelatihan Penguatan Kelembagaan Petani melalui Sekolah Lapang Tembakau di Kelompok Tani Ngudi Waluyo III Desa Keduren
- DKPP PURWOREJO SALURKAN BANTUAN PANGAN CPPD KE SEJUMLAH BNBA TERDAMPAK PUSO DAN KEKERINGAN DI DESA/KELURAHAN KECAMATAN PURWOREJO
- Gerak cepat tim kolaborasi tangani aduan masyarakat terkait pelaku usaha peternakan burung puyuh
- Pemeriksaan Ketat Bahan Pangan Asal Hewan: Langkah Nyata Wujudkan Keamanan Konsumen
- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
GROPYOKAN TIKUS DI DESA PUNDENSARI KECAMATAN PURWODADI, WUJUD NYATA DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA PANGAN NASIONAL

GROPYOKAN TIKUS DI DESA PUNDENSARI KECAMATAN PURWODADI, WUJUD NYATA DUKUNGAN TERHADAP PROGRAM SWASEMBADA PANGAN NASIONAL
Tikus sawah (Ratus argentiventer) merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17% dari total luas arel padi. Perkembangbiakan dan mobilitas tikus yang cepat serta daya rusak pada tanaman padi yang cukup tinggi menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak padi di persemaian hingga menjelang panen. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat,mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani.
Daya rusak tikus pada persemaian mencapai 283 bibit per malam; pada fase vegetatif tikus dapat merusak ±80 batang per malam (11-176 tunas) dan pada fase generatif dapat menyebabkan kerusakan ±130 batang per malam (24-246 tunas). 1 (satu) ekor induk tikus betina dalam 1 musim tanam dapat menghasilkan populasi tikus sebanyak ±100 ekor. Dari laporan penelitian diketahui selama 10 bulan 1 indukan tikus dapat berkembang menjadi 510 ekor. Untuk pola tanam tidak serentak (13 bulan) 1 ekor indukan tikus dapat berkembang menjadi 2.046 ekor tikus. Tikus mulai kawin saat tanaman padi berumur 20 HST . Kelahiran pertama tikus adalah saat padi berumur 48-52 HST . Berturut-turut tikus melahirkan ±setiap 21 HST sampai padi menjelang panen.
Di Desa Pundensari Kecamatan Purwodadi pada MT 2 Tahun 2025 kehilangan hasil mencapai 40% dari yang biasanya dapat mnghasilkan 1 ton GKP/iring akibat seranga tikus hanya menghasilkan 6 kuintal GKP/iring. Dalam rangka persiapan MT 3 untuk menurunkan populasi awal Pihak Desa dan Petani Desa Pundensari mengadakan Gerakan pengendalian Tikus melalui Gropyokan pada hari Selasa tanggal 12 Agustus 2025. Gerakan ini juga melibatkan BPP Purwodadi, Koramil Purwodadi dan Polsek Purwodadi. Kurang lebih 500-1000an ekor tikus berhasil dikendalikan. Gerakan gropyokan tikus ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Pundensari di lokasi yang akan di tanami padi MT 3.
Sinergitas antara BPP, pemerintah desa, TNI dan Polri dalam pendampingan kepada petani membuat petani lebih termotivasi dan memberikan semangat kepada petani dalam berbudidaya khususnya budidaya padi. Pendampingan ini sebagai bentuk dukungan terhadap program swasembada pangan nasional. Diharapkan pendampingan lintas sektoral ini dapat terus berlanjut agar petani berhasil dalam berbudidaya dan meraih hasil panen yang baik.
Penulis : Nani Haryani Setianingrum, S.P. – PPL BPP Kecamatan Purwodadi






