Gerdal OPT Tembakau Berbasis Ekosistem:

By DINPPKP 25 Jun 2025, 08:14:09 WIB Penyuluhan
Gerdal OPT Tembakau Berbasis Ekosistem:

Gerdal OPT Tembakau Berbasis Ekosistem:

(Penggunaan Bio-Pestisida Nabati sebagai Upaya Pencegahan Dini Serangan Ulat Grayak di Desa Gowong)

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Gasspooll  on Fire 

______________

Gowong, Bruno – 24 Juni 2025__ Kelompok Tani Rukun Tani, Desa Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, melaksanakan kegiatan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (GERDAL OPT) terhadap hama  ulat grayak (Spodoptera litura) pada tanaman tembakau. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi program GAP (Good Agricultural Practices) tembakau seluas 2 hektar yang sedang dijalankan di desa tersebut.


Berbeda dari pendekatan konvensional yang mengandalkan pestisida kimia sintetis, pengendalian kali ini dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dan berbasis ekosistem, yaitu menggunakan bio-pestisida nabati. Bahan aktif utama yang digunakan adalah BT Plus, bioinsektisida yang mengandung dua jenis mikroorganisme pengendali hayati:


1. Bacillus thuringiensis,  bakteri yang secara alami menghasilkan protein kristal yang bersifat toksik terhadap larva ulat.

2. Serratia MS, bakteri antagonis yang memiliki kemampuan menghambat perkembangan berbagai jenis serangga hama.


Kegiatan ini dipandu langsung oleh Muh Fatah selaku Ketua Kelompok Tani Rukun Tani, didampingi oleh PPL Desa Gowong Sutoyo dan Aswin Barinto, serta teknis lapangan dari POPT Sugiyo yang memberikan edukasi kepada petani terkait prinsip-prinsip pengendalian berbasis ekosistem.


Menurut Sugiyo, pendekatan ekosistem dalam pengendalian OPT memiliki banyak keunggulan, terutama dalam hal pencegahan. "Prinsipnya adalah mengendalikan hama sedini mungkin sebelum populasi mencapai ambang ekonomi. Kalau sudah terlambat, kerusakan tidak bisa dihindari dan biaya penanganan akan jauh lebih tinggi,” jelasnya.


Lebih lanjut, Sugiyo menjelaskan bahwa pengendalian yang baik bukan hanya tentang membasmi hama, tetapi tentang menjaga keseimbangan alam. “Alam telah menyediakan musuh alami seperti parasitoid dan predator. Jika kita terlalu bergantung pada pestisida kimia, maka kita justru akan merusak sistem alami ini. Pendekatan berbasis ekosistem adalah bagian dari sunatullah, hukum keseimbangan yang harus kita rawat,” tambahnya.


Kegiatan Gerdal ini tidak hanya menekan serangan ulat grayak, tetapi juga memberikan edukasi penting kepada petani tentang prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam praktiknya, PHT menganjurkan kombinasi strategi: pengamatan rutin, penggunaan pestisida nabati atau hayati, serta perlindungan terhadap musuh alami.


Penggunaan bioinsektisida seperti BT Plus juga terbukti lebih aman bagi lingkungan, manusia, dan hewan peliharaan. Residunya cepat terurai, tidak mencemari air tanah, dan tidak menyebabkan resistensi tinggi pada hama seperti yang sering terjadi pada insektisida kimia.


Langkah yang diambil oleh Kelompok Tani Rukun Tani Desa Gowong ini patut diapresiasi. Selain sebagai bentuk pelaksanaan program GAP secara nyata, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa petani desa mampu menjadi pelopor pertanian berkelanjutan jika didampingi dengan baik dan diberikan akses pada teknologi ramah lingkungan.


Dengan terus mengedepankan pengendalian berbasis ekosistem, diharapkan produksi tembakau tetap optimal, lingkungan tetap sehat, dan petani semakin mandiri secara pengetahuan maupun teknis.


Dokumentasi ini dapat menjadi rujukan bagi desa atau kelompok tani lain yang ingin beralih ke pertanian yang lebih berkelanjutan dan berwawasan ekologi.

______________





Berita Purworejo

Counter Pengunjung