- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Edukasi Petani Lewat Udara: Pentingnya Sertifikasi Pangan Segar Asal Tumbuhan

Edukasi Petani Lewat Udara: Pentingnya Sertifikasi Pangan Segar Asal Tumbuhan
KEMIRI KEREN NEWS –– Suasana studio Radio Binamas FM Kemiri terasa hangat pagi itu Senin (27/10/25). Di balik mikrofon, terdengar suara lembut namun tegas dari seorang penyuluh pertanian yang sudah tak asing lagi bagi petani di wilayah Kemiri dan sekitarnya, Umul Khasunah, SP., MAP. Kali ini, ia hadir sebagai narasumber dalam program unggulan “Suara Pertanian”, membahas topik yang semakin relevan di era modern: Sertifikasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
Dalam siaran berdurasi hampir satu setengah jam tersebut, Umul mengajak pendengar untuk memahami apa itu sertifikasi PSAT dan mengapa hal ini penting bagi para petani serta pelaku usaha pangan lokal. Dengan gaya bicara yang ramah dan komunikatif, ia memaparkan bahwa sertifikasi PSAT merupakan bentuk pengakuan resmi dari pemerintah terhadap produk pangan segar yang aman, sehat, dan layak dikonsumsi masyarakat.
“Sertifikasi PSAT adalah jaminan mutu dan keamanan. Artinya, produk yang telah tersertifikasi telah melalui proses pemeriksaan dan pengujian sesuai standar. Jadi, konsumen tidak perlu ragu terhadap kualitasnya,” ujar Umul dalam siaran yang dipandu oleh penyiar senior Binamas FM, Hasan Syafiq.
Umul menambahkan bahwa sertifikasi PSAT bukan hanya penting untuk konsumen, tetapi juga menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku UMKM di sektor pertanian untuk meningkatkan daya saing produk mereka.
“Dengan memiliki sertifikat PSAT, produk petani bisa menembus pasar modern seperti supermarket, toko ritel besar, bahkan ekspor. Ini adalah kunci agar hasil pertanian kita tidak hanya berhenti di pasar tradisional,” jelasnya antusias.
Dalam dialog yang hangat itu, ia juga membagikan langkah-langkah praktis untuk mengurus sertifikasi PSAT, mulai dari pendaftaran, penilaian kesesuaian, hingga penerbitan sertifikat oleh lembaga berwenang di bawah Kementerian Pertanian. Menurutnya, proses ini tidak serumit yang dibayangkan banyak pelaku usaha, asalkan memenuhi persyaratan dasar seperti kebersihan, penanganan pascapanen yang baik, dan pelabelan yang benar.
“Banyak pelaku usaha yang awalnya ragu karena mengira prosesnya rumit. Padahal kalau didampingi dengan baik, sebenarnya mudah. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo beserta Penyuluh Pertanian siap membantu, supaya produk kita bisa naik kelas,” tambahnya dengan semangat.
Program “Suara Pertanian” yang disiarkan secara langsung setiap pekan oleh Binamas FM memang dikenal sebagai wadah edukasi bagi petani, pelaku UMKM, dan masyarakat umum. Siaran kali ini pun mendapat sambutan hangat. Beberapa pendengar bahkan mengirimkan pesan melalui WhatsApp studio, menanyakan cara pendaftaran sertifikasi PSAT dan manfaat ekonominya bagi petani kecil.
Dalam sesi penjelasan, Umul juga memaparkan secara rinci persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha atau kelompok tani yang ingin mengajukan sertifikasi PSAT. Ia menyebutkan beberapa syarat utama sebagai berikut:
1. Pelaku usaha harus memiliki legalitas usaha yang jelas, seperti NIB (Nomor Induk Berusaha) atau surat izin usaha dari pemerintah daerah.
2. Produk pangan yang diajukan harus berasal dari tumbuhan segar, seperti sayur, buah, atau umbi, yang belum melalui proses pengolahan lanjutan.
3. Memiliki fasilitas penanganan dan penyimpanan yang higienis, termasuk area sortasi, pencucian, pengemasan, dan penyimpanan yang memenuhi standar kebersihan.
4. Menerapkan cara penanganan pangan yang baik (Good Handling Practices) untuk mencegah kontaminasi fisik, kimia, maupun biologis.
5. Mempunyai sistem pencatatan terkait asal bahan, tanggal panen, dan distribusi produk, sebagai bentuk transparansi dan traceability.
6. Produk diberi label yang sesuai ketentuan, mencantumkan nama produk, asal daerah, dan keterangan lainnya yang mudah dibaca konsumen.
7. Bersedia diaudit oleh petugas pemeriksa PSAT dari dinas terkait untuk memastikan kesesuaian dengan standar keamanan pangan.
“Kalau semua persyaratan ini dipenuhi, proses sertifikasi bisa berjalan lancar. Dinas Ketahanan Pangan atau penyuluh siap mendampingi petani agar tidak bingung. Jadi jangan takut mencoba, karena ini investasi jangka panjang untuk produk kita,” jelas Umul meyakinkan pendengar.
Penyiar Hasan Syafiq yang memandu acara tersebut mengaku senang bisa menghadirkan sosok penyuluh seperti Umul.
“Bu Umul ini luar biasa. Penjelasannya mudah dipahami, dan membuat hal yang tadinya terdengar rumit jadi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari petani,” ujarnya sambil menutup acara dengan sapaan hangat bagi para pendengar setia.
Melalui siaran ini, Umul berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya keamanan pangan sejak dari sumbernya yaitu petani dan pelaku usaha lokal. Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga mutu pangan segar adalah bagian dari tanggung jawab bersama untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.
“Mulai dari ladang, dapur, hingga meja makan, keamanan pangan harus dijaga bersama. Dengan sertifikasi PSAT, kita tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga kepercayaan dan kesehatan bagi konsumen,” pungkasnya menutup siaran pagi itu.
Dengan kegiatan seperti ini, Binamas FM terus menunjukkan perannya sebagai radio edukatif dan informatif, sementara Umul Khasunah membuktikan bahwa penyuluh pertanian masa kini tak hanya hadir di sawah, tetapi juga di udara menyapa petani dan masyarakat lewat gelombang suara, menebarkan semangat menuju pertanian yang lebih aman, berkualitas, dan berdaya saing tinggi. Semoga.–






