- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
*\"Durian Tumbuh Subur Berkat Kompetensi, Tapi Nasib Tak Selalu Mujur Meski Berdedikasi\"*

*"Durian Tumbuh Subur Berkat Kompetensi, Tapi Nasib Tak Selalu Mujur Meski Berdedikasi"*
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Peduli
______________
*Bruno, Kamis 20 Maret 2025* . Di tanah berbukit Bruno ketika aroma durian mulai menjadi incaran para pemburu dari luar daerah, para petani mulai melihat peluang besar dari menanam durian unggulan. Salah satunya adalah Mbah Pardi, seorang petani dari Desa Brunorejo, yang rela merogoh kocek dalam untuk membeli bibit durian sambung pucuk. Harapannya sederhana: panen cepat, hasil melimpah, hidup sejahtera.
Namun kenyataan tak selalu seindah harapan. Bibit-bibit mahal yang ditanam dengan penuh asa satu per satu layu, mengering, hingga akhirnya mati. Bukan hanya Mbah Pardi yang mengalami kegagalan, banyak petani di Bruno pun merasakan pil pahit yang sama. Jawaban atas kegagalan itu sulit ditemukan hingga akhirnya datanglah *Suyitno*, seorang *Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) THL-TBPP* yang telah 16 tahun mendedikasikan hidupnya mendampingi petani.
Dengan sabar Suyitno menelaah akar permasalahannya. Ia duduk bersila di tepi kebun memperhatikan bibit durian yang meranggas. *Bukan bibitnya yang salah, tapi caranya yang keliru.* Dengan suara tenang ia menjelaskan,
"Begini, Mbah. Menanam bibit durian dari pot ke lahan itu tidak boleh terlalu dalam. Kalau pangkal batang tertutup tanah maka akar bisa busuk karena kelembaban berlebih. Penyakit dari jamur seperti *_Phytophthora_* bisa menyerang dan mematikan tanaman. Air juga mudah menggenang kalau tanamnya terlalu dalam, membuat akar sulit bernapas dan gagal menyerap nutrisi."
Suyitno tak hanya menjelaskan masalahnya, ia pun memberikan solusi praktis:
- Leher akar (tempat pertemuan akar dan batang) harus sejajar atau sedikit di atas permukaan tanah.
- Lubang tanam disesuaikan dengan ukuran akar, jangan terlalu dalam atau dangkal.
- Setelah tanam, tanah cukup dipadatkan ringan dan disiram secukupnya agar lembab, bukan becek.
Penjelasan Suyitno begitu jelas dan sederhana. Kalimat-kalimatnya bukan sekadar teori, tapi rangkuman dari *pengalaman panjang di lapangan*. Bagi petani seperti Mbah Pardi ilmu ini lebih berharga dari pada tumpukan makalah atau materi pelatihan daring.
Dalam hati terlintas sebuah kegelisahan:
*"Kompetensi itu lahir dari pengalaman, bukan sekadar setumpuk ijazah, sertifikat pelatihan, atau gelar akademis."*
Namun meskipun telah membuktikan keahliannya di lapangan nasib Suyitno belum seberuntung pohon durian yang mulai tumbuh subur di kebun-kebun petani. Dedikasi 16 tahun sebagai tenaga honorer belum cukup membuatnya mendapat perhatian yang layak.
Meski begitu Suyitno tak berhenti menanam harapan di hati petani Bruno. Karena baginya, selama masih ada yang membutuhkan bimbingan selama itu pula ia akan hadir di ladang dan kebun mendampingi dengan hati dan kompetensi.
______________






