- JAMIN KEAMANAN PANGAN, SAMPEL PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN (PSAT) DARI DUA PASAR TRADISIONAL DI PURWOREJO DISISIR DAN DIUJI RAPID TEST
- Kelompok Tani Rukun Tani dan Sumber Harapan, Panen Varietas Unggulan dengan Tantangan Cuaca dan Harga
- SELEKSI TENAGA FASILITATOR LAPANGAN KEGIATAN RJIT 2026
- Pelatihan Penguatan Kelembagaan Petani melalui Sekolah Lapang Tembakau di Kelompok Tani Ngudi Waluyo III Desa Keduren
- DKPP PURWOREJO SALURKAN BANTUAN PANGAN CPPD KE SEJUMLAH BNBA TERDAMPAK PUSO DAN KEKERINGAN DI DESA/KELURAHAN KECAMATAN PURWOREJO
- Gerak cepat tim kolaborasi tangani aduan masyarakat terkait pelaku usaha peternakan burung puyuh
- Pemeriksaan Ketat Bahan Pangan Asal Hewan: Langkah Nyata Wujudkan Keamanan Konsumen
- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
Dukung Swasembada Pangan dengan Tingkatkan Status Reproduksi Sapi Peternak Purworejo

Dukung Swasembada Pangan dengan Tingkatkan Status Reproduksi Sapi Peternak Purworejo
Purworejo, 23 September 2025| Tim Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo melaksanakan kegiatan perdana tim kesehatan hewan yaitu Peningkatan Status Reproduksi Sapi Peternak. Tim Keswan melaksanakan pemeriksaan reproduksi sesuai dengan keluhan yang peternak sampaikan, pemeriksaan dilaksanakan dengan palpasi rectal untuk meraba saluran dan organ reproduksi. Kegiatan ini dilaksanakan di desa yang telah menerima hibah ternak Sapi PO, yaitu Desa Paitan dan Karangwuluh Kecamatan Kutoarjo, Desa Wingkosigromulyo dan Kaliwungulor Kecamatan Ngombol, Desa Bedono Pageron Kecamatan Kemiri dan Desa Tlogorejo Kecamatan Butuh
Terdapat beberapa diagnosa dari hasil pemeriksaan palpasi rectal dan anamnesa dari peternak yaitu hipofungsi ovarium, delay pubertas dan bahkan atropi ovary. Diagnosa tersebut biasanya terjadi karena adanya malnutrisi (kekurangan nutrisi) karena asupan nutrisi dalam pakan tidak diperhatikan. Sedangkan untuk tatalaksanak pengobatan diberikan suntikan hormon dan vitamin serta peternak diedukasi untuk memberikan tambahan nutrisi yg baik kepada ternaknya.
Gangguan reproduksi ternak, seperti kegagalan kebuntingan dan penurunan kesuburan, secara langsung menghambat upaya swasembada pangan karena mengurangi populasi dan produktivitas ternak. Produktivitas yang rendah dan tingginya biaya pengobatan serta kematian ternak menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak, yang pada akhirnya juga memengaruhi pasokan pangan nasional. Maka dengan demikian dalam kegiatan Peningkatan Status Reproduksi Sapi dapat membantu peternak dalam mendapatkan angka calving interval yang baik seperti selogan ONE YEAR ONE CALF dan mendorong program Swasembada Pangan Nasional






