- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
- KWT Margo Dadi Prapaglor Belajar Buat PSB
- Seleksi Tahap Kedua Tuntas, DKPP Pastikan 55 Domba Hibah Siap Disalurkan kepada Kelompok
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Gelar Monev Alsintan di Pituruh
- PERINGATI HKG PKK KE-54, RATUSAN KADER PKK PURWOREJO ANTUSIAS SERBU GERAKAN PANGAN MURAH DI PENDOPO PURWOREJO
- Tingkatkan Angka Kebuntingan Sapi Peternak, Program Subali Sapira Beraksi Lagi di Kedungpomahan Kulon
- RAKOR PEMANTAUAN STOK DAN HARGA DI TINGKAT PRODUSEN DAN KONSUMEN BULAN AGUSTUS 2026
SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)

PURWOREJO – Inovasi sektor peternakan di Kabupaten Purworejo terus digalakkan. Program Subali Sapira (Suburkan Kembali Sapi Rakyat) yang diusung Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo tidak sekadar mengawal siklus reproduksi ternak hingga fase birahi, melainkan memberikan pendampingan komprehensif sampai ternak terkonfirmasi bunting.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui akselerasi deteksi dini kebuntingan menggunakan teknologi Ultrasonografi (USG). Berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), DKPP Purworejo menerjunkan tim untuk memastikan akurasi hasil usai dilakukannya Inseminasi Buatan (IB).
Langkah inovatif ini menawarkan lompatan efisiensi yang bagi para peternak lokal. Jika metode konvensional seperti palpasi rektal (pemeriksaan manual) umumnya baru mampu mengonfirmasi kebuntingan saat usia kebuntingan di atas tiga bulan, pemanfaatan USG mampu memangkas waktu tunggu secara mendasar.
Keunggulan Metode USG pada Program Subali Sapira
yaitu
1. sanggup mengonfirmasi status kebuntingan sapi pada usia 40 hari pasca-IB, atau setara dengan dua kali siklus birahi.
2. Efisiensi Waktu & Biaya: Kepastian status reproduksi yang lebih cepat mencegah peternak kehilangan momen reproduksi ternak, sekaligus menekan biaya pakan akibat kekosongan masa bunting yang tidak terdeteksi.
3. Kesehatan Murni Terjaga: Pemantauan visual berbasis teknologi meminimalisasi risiko penanganan yang keliru pada rahim ternak.
Langkah terpadu ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi layanan peternakan berbasis teknologi mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan peternak rakyat.





