- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Dukung Pertanian Ramah Lingkungan, BPP Purworejo Dampingi Aplikasi Trichoderma di Kelompok Tani Margo Mulyo

Dukung
Pertanian Ramah Lingkungan, BPP Purworejo Dampingi Aplikasi Trichoderma di Kelompok Tani Margo Mulyo
Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)
Kecamatan Purworejo kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pertanian
berkelanjutan. Hari ini, BPP Purworejo mendampingi Kelompok Tani Margo Mulyo di
Kelurahan Paduroso dalam aplikasi Trichoderma pada lahan pertanian
mereka. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Sekolah Lapang (SL) yang telah dilaksanakan selama dua hari penuh
pada bulan Mei lalu. Kala itu, para petani mendapatkan pelatihan tentang
budidaya tanaman cabai rawit dari persiapan lahan sampai pasca panen dan
praktik langsung dalam pembuatan Trichoderma, sebuah agens hayati
yang dikenal efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman dan meningkatkan
kesuburan tanah.
Acara ini dihadiri oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL),
Pengendali Organisme Pengganggu
Tumbuhan (POPT) Kecamatan Purworejo, Penyuluh Wilayah Binaan (Wibi), serta 15 orang pengurus Kelompok
Tani Margo Mulyo. Kehadiran mereka menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah,
penyuluh, dan petani dalam mengadopsi praktik pertanian modern dan
berkelanjutan.
Trichoderma merupakan salah satu mikroorganisme fungsional dan
agen hayati serta stimulator bagi pertumbuhan tanaman. Trichoderma dapat
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman terutama bagian akar
akan meningkat lebih banyak dan kuat karena selain hidup dipermukaan akar. Trichoderma dapat masuk hingga lapisan
epidermis akar atau hingga lebih lalu menghasilkan dan melepas zat untuk
perangsang pembentukan sistem pertahanan bagi tanaman sehingga disimpulkan
bahwa Trichoderma tidak bersifat patogen bagi tanaman inangnya.
Pendampingan aplikasi Trichoderma ini bertujuan untuk
memastikan para petani dapat mengaplikasikan agens hayati tersebut dengan benar
dan optimal. Dengan begitu, diharapkan tanaman padi atau komoditas lainnya
dapat terhindar dari serangan penyakit tular tanah, pertumbuhan tanaman lebih
sehat, dan hasil panen pun meningkat. "Kami berharap dengan pendampingan
ini, pengetahuan yang didapat dari Sekolah Lapang dapat langsung diterapkan di
lapangan. Penggunaan Trichoderma ini
adalah langkah konkret menuju pertanian yang lebih sehat dan ramah
lingkungan," ujar Koordinator PPL Kecamatan Purworejo.
Ngadiyanto
selaku POPT Kecamatan Purworejo menyampaikan cara aplikasi Trichoderma pada tanaman cabai yaitu pada perlakuan biji/bibit,
pengocoran saat tanaman umur 7-10 HST, pencampuran dalam media tanam, dan hindari
mencampur Trichoderma dengan pupuk
atau pestisida kimia, karena dapat membunuh bakteri tersebut. “Trichoderma
lebih efektif jika digunakan secara preventif sebelum tanaman terinfeksi
patogen dan berfungsi membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia dan meningkatkan
produktivitas tanaman” tambahnya.
Antusiasme
petani Margo Mulyo terlihat jelas selama kegiatan. Mereka aktif bertanya dan
berdiskusi, menunjukkan semangat tinggi untuk mengaplikasikan ilmu baru demi
kemajuan pertanian di wilayah mereka. Sumadi selaku Ketua Kelompok Tani Margo
Mulyo menyampaikan bahwa dari kelompok tani berencana akan membuat kembali
Tricoderma untuk budidaya tanaman cabai mulai dari persiapan lahan sampai untuk
pengocoran dan pemupukan. “Budidaya tanaman cabai kami selalu dihadapkan pada
berbagai tantangan, salah satunya adalah serangan jamur, sehingga petani harus
menggunakan agensi hayati sebagai solusi pengendalian yang ramah lingkungan dan
efektif” tandasnya.
Disusun
Oleh :
BAKTI WORO
HARYANTI, SP (PPL KEC PURWOREJO)






