Dukung Ketahanan Pangan : PPL Kecamatan Purworejo Dampingi Pertemuan Kelompok Tani Sri Rejeki

By DINPPKP 29 Okt 2025, 13:19:28 WIB Penyuluhan
Dukung Ketahanan Pangan : PPL Kecamatan Purworejo Dampingi Pertemuan Kelompok Tani Sri Rejeki

Dukung Ketahanan Pangan : PPL Kecamatan Purworejo Dampingi Pertemuan Kelompok Tani Sri Rejeki



Pada Hari Selasa, 28 Oktober 2025 bertempat di rumah Bapak Amat Saroni Rt 5 Rw 8 Kelurahan Baledono, dilaksanakan pertemuan rutin Kelompok Tani Sri Rejeki. Kegiatan ini dihadiri Pemerintah Kelurahan Baledono, PPL Kecamatan Purworejo, Pengurus dan anggota kelompok tani sejumlah 30 orang. Pertemuan kali ini untuk membahas beberapa kabar gembira dan langkah strategis dalam menghadapi musim tanam yang akan datang, dengan fokus acara pada pembahasan kebijakan pupuk bersubsidi terbaru, evaluasi penebusan, serta persiapan teknis budidaya padi menghadapi musim hujan.

Didik Nur Cahyo selaku perwakilan dari Lurah Baledono menyampaikan ucapan terima kasih atas kehiatan rutin pertemuan kelompok tani dan memebrikan semangat untuk terus berkarya khusunya di bidang pertanian untuk meningkatkan pendapatan keluarga sesuai dengan arahan dan bimbingan dari Petugas PPL.”Dengan adanya pertemuan kelompok tani setiap bulan sebagai sarana komunikasi dan diskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehingga hasil panen meningkat untuk mendukung progam ketahanan pangan dan mengurangi risiko gagal panen, serta meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.

Woro selaku PPL Kelurahan Baledono menyampaikan beberapa materi diantaranya kebijakan Penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Tahun 2025. “Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan strategis yang sangat menguntungkan petani: penurunan HET pupuk bersubsidi hingga 20% yang berlaku mulai Oktober 2025, dengan rincian HETyang baru  yaitu Urea Rp 1.800,- per kg (Rp 90.000,-/zak) dan Phonska Rp 1.840,- per kg (Rp 92.000,-/zak)” terangnya.  Woro menambahkan implikasi bagi petani adalah pengurangan biaya produksi karena beban pengeluaran untuk pupuk akan jauh berkurang, sehingga meningkatkan pendapatan bersih petani. Selain itu diharapkan iharapkan petani dapat memanfaatkan alokasi pupuk bersubsidi yang tersedia secara maksimal untuk mencapai pemupukan berimbang.

PPL juga menyampaikan evaluasi dan optimalisasi penebusan pupuk bersubsidi tahun 2025, di mana untuk Kelompok Tani Sri Rejeki ada 7 orang yang belum melakukan penebusan pupuk bersubsidi tahun 2025. “Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian sampai tanggal 9 Oktober 2025, ada 7 petani yang belum melakukan penebusan pupuk bersubsidi yaitu : Riyadi, Achmad Salim, Amat Tarkhim, Abdul aziez, Am Subechi, Yuliyanto dan Mulyono, jelasnya. Diharapkan Sampai Awal Desember semua petani sudah melakukan penebusan pupuk bersubsidi sehingga stok pupuk sudah aman ketika akan melakukan pemupukan di lahan amsing-masing. “Diperlukan kolaborasi kelompok tani dan anggota terkait penenusan pupuk bersubsidi sehingga bisa dilakukan penebusan secara terjadwal dan terkoordinasi di tingkat kelompok untuk menghindari antrean dan potensi kendala”, tambahnya.

Pada kesempatan ini, Woro juga menyampaikan strategi pemupukan berimbang pada tanaman padi, di mana pemupukan berimbang adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan pupuk. Ini bukan sekadar menambah dosis, tapi memenuhi kebutuhan hara spesifik tanaman dan kondisi tanah. “Prinsip Pemupukan Berimbang Padi adalah menggunakan pupuk organik, pupuk NPK pada awal pertumbuhan, pupuk Nitrogen (Urea) selama 2-3 kali aplikasi, dan gunkan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan dosis Urea yang tepat saat pemupukan susulan”, tegasnya.

Woro mengingatkan tentang persiapan Musim Tanam I (MT I) Tahun 2025/2026, untuk segera melakukan jadwal tanam dengan informasi perkiraan iklim dari BMKG dan kesepakatan pola tanam di tingkat kelompok tani. “Adanya curah hujan yang sudah cukup dapat digunakan untuk mendorong percepatan olah lahan setelah panen MT sebelumnya agar tanam dapat dilakukan serempak di awal musim hujan”, tambahnya. Hal yang tak kalah penting adalah penggunaan benih unggul bersertifikat untuk mendukung produktivitas yang tinggi pada musim tanam yang akan datang. “Pilih varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat dan memiliki ketahanan terhadap hama/penyakit utama, seperti Wereng Batang Cokelat (WBC) dan Tungro, tentu saja perlu dilakukan uji daya kecambah untuk memastikan benih yang akan ditanam memiliki daya kecambah di atas 90%.

Di akhir acara, Woro memerikan kesimpulan dan memberikan semangat kepada petani bahwa penurunan HET pupuk bersubsidi adalah peluang besar untuk menekan biaya produksi dan mengoptimalkan hasil. “Mari kita sambut MT I 2025/2026 dengan persiapan lahan yang matang, pemupukan berimbang yang bijak, dan strategi pengendalian hama/penyakit yang proaktif, terutama dalam menghadapi musim hujan, sehingga pertanian yang maju, mandiri, dan modern dapat terwujud demi kedaulatan pangan nasional.

Pengirim : Bakti Woro Haryanti, SP (PPL Kecamatan Purworejo)

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung