Dinamika Peserta Bimtek Agribisnis Tanaman Pangan di Desa Gowong: Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman

By DINPPKP 16 Mei 2025, 16:04:37 WIB Penyuluhan
Dinamika Peserta Bimtek Agribisnis Tanaman Pangan di Desa Gowong: Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman

Dinamika Peserta Bimtek Agribisnis Tanaman Pangan di Desa Gowong: Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman 

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Come Back on Fire 

______________

Purworejo, Jum'at 16 Mei 25__ Desa Gowong, sebuah desa agraris yang berada di Kecamatan Bruno, menjadi saksi geliat perubahan di bidang pertanian melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) agribisnis tanaman pangan. Bimtek ini bukan sekadar forum belajar, namun menjadi ajang interaksi lintas generasi dan lintas latar belakang pendidikan. Sebuah dinamika yang menarik tersaji di antara para peserta yang datang dari berbagai usia, latar pendidikan, hingga pengalaman bertani yang berbeda-beda.


Peserta bimtek kali ini bisa dibilang sangat berwarna. Mulai dari petani senior berusia 60 tahun yang masih setia dengan pola tanam konvensional, hingga generasi muda lulusan SLTA yang mulai melirik pertanian sebagai bisnis masa depan. Tidak ketinggalan beberapa petani lulusan SD yang mengandalkan kearifan lokal pun turut ambil bagian memperkaya diskusi dengan pengalaman lapangan yang tidak tertulis dalam buku.


Keberagaman ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Disatu sisi perbedaan pola pikir, gaya komunikasi, dan cara memandang pertanian kadang memicu perbedaan pendapat. Namun disisi lain, pertemuan lintas generasi ini juga menjadi arena saling belajar yang menyegarkan.


Suasana bimtek yang awalnya terasa kaku perlahan mencair ketika para peserta mulai berbagi cerita. Petani tua yang semula ragu dengan istilah-istilah baru seperti agribisnis, rantai nilai, atau branding produk, menjadi lebih terbuka setelah mendengar pengalaman petani muda yang mencoba menjual hasil panen melalui platform digital.


Sebaliknya, generasi muda yang terbiasa dengan teori dan teknologi belajar untuk lebih menghargai pengalaman para petani senior yang sudah puluhan tahun membaca tanda-tanda alam dan memahami karakter tanah. Diskusi pun kadang diwarnai humor khas petani yang membuat suasana lebih akrab dan cair.


"Kalau cuma teori, saya kalah sama anak-anak muda. Tapi kalau soal rasa tanah, saya yang lebih hafal," canda Pak Hindun, seorang petani senior yang tetap antusias mengikuti bimtek meski kadang kesulitan memahami istilah baru.


Fasilitator bimtek menyadari bahwa keberagaman peserta bisa menjadi kekuatan bila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Materi pun disusun dengan metode yang komunikatif, menggabungkan praktik langsung di lapangan dengan diskusi kelompok. Bahasa yang digunakan pun disesuaikan agar mudah dipahami semua peserta.


Dalam beberapa simulasi usaha tani, terlihat bagaimana ide-ide kreatif dari peserta muda berpadu dengan kearifan lokal yang dimiliki petani senior. Bahkan muncul gagasan untuk mengembangkan kelompok tani lintas usia yang saling mengisi peran. Generasi muda menjadi motor penggerak pemasaran dan inovasi, sedangkan generasi tua menjadi guru lapangan yang mengajarkan kearifan bertani yang ramah lingkungan.


Dinamika yang terjadi di bimtek agribisnis Desa Gowong mengajarkan satu hal penting: bahwa pertanian masa depan tidak bisa hanya mengandalkan satu generasi atau satu cara pandang saja. Keberagaman usia, pendidikan, dan pengalaman justru menjadi kekayaan yang harus dirawat dan disinergikan.


Desa Gowong kini memancarkan semangat baru. Bimtek bukan hanya ruang belajar tentang agribisnis, melainkan ruang tumbuh bersama, dimana perbedaan bukan menjadi penghalang, tapi justru menjadi kekuatan.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung