- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
- KWT Margo Dadi Prapaglor Belajar Buat PSB
- Seleksi Tahap Kedua Tuntas, DKPP Pastikan 55 Domba Hibah Siap Disalurkan kepada Kelompok
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Gelar Monev Alsintan di Pituruh
- PERINGATI HKG PKK KE-54, RATUSAN KADER PKK PURWOREJO ANTUSIAS SERBU GERAKAN PANGAN MURAH DI PENDOPO PURWOREJO
- Tingkatkan Angka Kebuntingan Sapi Peternak, Program Subali Sapira Beraksi Lagi di Kedungpomahan Kulon
- RAKOR PEMANTAUAN STOK DAN HARGA DI TINGKAT PRODUSEN DAN KONSUMEN BULAN AGUSTUS 2026
Dari Sambaran Petir sampai Rezeki Sepagi: Khasiat Jamur Liar yang Tak Ternilai
Dari Sambaran Petir sampai Rezeki Sepagi: Khasiat Jamur Liar yang Tak Ternilai
Oleh: Story Lab Sutoyo
___________________
Ditengah
gempuran makanan instan dan produk pabrik, alam masih menyimpan rezeki yang
tersembunyi. Salah satunya adalah jamur liar tropis — tumbuh tanpa ditanam,
dipanen tanpa pupuk, dan sering kali hanya diketahui oleh mereka yang peka pada
waktu dan tanda-tanda alam. Dua jenis jamur yang belakangan jadi sorotan adalah
jamur petir, yang viral karena harganya mencapai Rp4 juta per kg, dan jamur
sepagi, si putih bersih yang menjadi primadona petani desa saat musim hujan.
⚡ Jamur Petir: Tumbuh Setelah Langit
Menggelegar
Dikutip
dari CNBC Indonesia (2025), jamur petir adalah jamur eksotik yang hanya tumbuh
setelah tanah tersambar petir, terutama di wilayah hutan tropis di pulau Bangka.
Nama latinnya adalah Termitomyces titanicus, salah satu jenis jamur
terbesar di dunia, yang memiliki tudung lebar dan rasa umami pekat. Jamur ini
sangat langka, sulit dibudidayakan, dan hanya bisa dipetik oleh orang yang
"beruntung" — sehingga harganya setara emas: Rp4 juta/kg!
Petani
lokal percaya bahwa sambaran petir memicu pertumbuhan jamur ini karena adanya
perubahan ion dan suhu tanah yang memicu spora jamur tidur selama musim kering.
Dalam istilah Jawa, ini disebut "tumuwuh marani rejeki", tumbuh
karena sudah jatahnya jadi rezeki.
???? Jamur Sepagi: Si Putih Rezeki Pagi
Berbeda
dengan jamur petir,jamur sepagi adalah jamur liar yang biasa dipetik
sepagi-paginya, setelah hujan malam. Ciri khasnya: warna putih bersih, bentuk
bulat seperti payung kecil, dan sering muncul di kebun, sawah tua, atau semak
basah. Bagi petani desa, jamur ini adalah rezeki harian yang tak ternilai—bukan
karena harganya, tapi karena rasa, nostalgia, dan kebersahajaannya.
Meski
tidak diperjualbelikan secara masif, jamur sepagi layu begitu menjelang
siang. Biasanya langsung dimasak jadi sayur bening, oseng, atau pepes, dan
menjadi bagian dari sarapan tradisional yang menyehatkan.
???? Kandungan
Gizi dan Khasiat: Jangan Remehkan!
Baik
jamur petir maupun sepagi, ternyata kaya nutrisi dan berkhasiat untuk
kesehatan:
1.
Tinggi Protein Nabati – Membangun otot dan sistem imun.
2.
Rendah Lemak & Kalori– Cocok untuk diet sehat.
3.
Kaya Serat – Lancarkan pencernaan, cegah sembelit.
4.
Vitamin B-kompleks– Energi, fokus, dan kesehatan saraf.
5.
Mineral Esensial – Zink, fosfor, dan magnesium untuk tulang dan daya tahan.
6.
Antioksidan Ergothioneine & Beta-glukan– Cegah penuaan, perkuat imun,
potensi antikanker.
Studi
Rahayu & Yuwono (2023), menyebut bahwa beta-glukan pada
jamur liar bisa menjadi agen imunomodulator alami,
bahkan hasil kajian lebih mendalam dapat dimanfaatkan sebagai
pendukung terapi kanker dan diabetes.
???? Alam Tak Pernah Pelit, Kita Saja yang
Sering Lupa
Kisah
jamur petir dan sepagi adalah kisah tentang kearifan alam tropis. Yang
satu mewah karena langka, yang satu berlimpah karena setia hadir tiap pagi.
Kedua-duanya menyehatkan, membahagiakan, dan menyimpan potensi ekonomi.
Barangkali,
jamur sepagi takkan viral karena tak dibungkus sensasi harga. Tapi justru di
situlah letak nilai budayanya: ia hadir diam-diam, mengisi piring sarapan
petani, dan menjadi penghubung manusia dengan alam yang memberi.






