- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Dari Pisang Murah Jadi Cuan Manis: KWT Arum Sari Blimbing Gelar Inovasi Ceriping Pisang Coin

Dari Pisang Murah Jadi Cuan Manis: KWT Arum Sari Blimbing Gelar Inovasi Ceriping Pisang Coin
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Blimbing, 20 Mei 2025 — Suasana penuh kehangatan dan gelak tawa mewarnai pertemuan rutin Kelompok Wanita Tani (KWT) Arum Sari Desa Blimbing, Kecamatan Bruno, pada Senin (20/5). Agenda kali ini membahas topik yang sangat dekat dengan keseharian petani, yakni inovasi pasca panen pisang, yang disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pendamping, Martina Dewi Kusumawati, S.P.
Dalam materinya, Martina menyampaikan keprihatinannya soal anjloknya harga pisang ditingkat petani. “Saat panen raya, pisang sering kali tak laku dijual. Kalau pun laku, harganya tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Karena itu perlu inovasi agar pisang tak sekadar dimakan mentah, tapi bisa diolah jadi produk awet dan bernilai jual tinggi,” jelasnya.
Solusi yang ditawarkan cukup sederhana namun menjanjikan: ceriping pisang coin manis. Pisang dipotong melintang seperti koin, bukan memanjang seperti biasanya. Lalu digoreng dan diberi tambahan rasa manis dari gula pasir. “Selain tahan lama, bentuk unik dan rasa manisnya menjadikan produk ini lebih menarik, terutama bagi anak-anak dan kalangan muda,” imbuh Martina.
Ketua KWT, Hanik Mujiati, menyambut baik ide tersebut. Ia menyatakan bahwa inovasi ini sangat cocok diterapkan karena prosesnya mudah, tidak membutuhkan alat mahal, dan dapat dikerjakan bersama di rumah-rumah anggota. “Kami sudah biasa bikin ceriping, tapi bentuk koin dan tambahan rasa manis ini jadi hal baru yang bisa lebih menjual,” katanya.
Menariknya diskusi kali ini juga diwarnai canda tawa dan bisik-bisik khas ibu-ibu saat membahas “pisang” dalam berbagai konteks. Beberapa peserta terlihat mesam-mesem sendiri, entah karena bentuk pisangnya, nama “coin”, atau sekadar teringat hal-hal lucu di dapur. Suasana santai namun tetap fokus membuat pertemuan ini terasa sangat hidup.
Dengan semangat kreatif dan kekompakan yang terus terjaga, KWT Arum Sari optimistis mampu mengubah tantangan pasca panen menjadi peluang ekonomi baru. Pisang murah pun kini bukan lagi masalah—justru bisa jadi cuan manis dari desa Blimbing untuk dunia luar.






