Dari Madagaskar ke Bruno: Dombea Si Pink Ajaib yang Bikin Klanceng Betah

By DINPPKP 05 Agu 2025, 15:19:48 WIB Penyuluhan

Dari Madagaskar ke Bruno: Dombea Si Pink Ajaib yang Bikin Klanceng Betah

Agustus 04, 2025

 Oleh : Sutoyo

____________________

Ditangan Mas Klipi seorang peternak lebah muda dari Gowong, bunga eksotik bernama Dombea bukan sekadar tanaman hias biasa. Ia sudah menjadi sumber pakan utama bagi lebah klanceng penghasil madu lokal yang berkualitas. Siapa sangka bunga dari benua Afrika ini kini telah bersahabat akrab dengan koloni klanceng di perbukitan Bruno?

Pagi itu tampak Mas Klipi menyibak rerimbunan daun di pekarangannya. Diantara rimbunnya pohon-pohon pelindung tampak bunga-bunga merah muda menggantung seperti lampion kecil. Itulah Dombea bunga eksotik asal Madagaskar yang kini tumbuh subur di dusun Kajoran, Desa Gowong.

Lebah-lebah klanceng milik Mas Klipi tampak riuh menari-nari disekitar bunga itu. Mereka bekerja tanpa henti, mengumpulkan nektar demi nektar untuk menghasilkan madu—manis, harum, dan berkualitas tinggi.

“Saya tanam Dombea karena tahan panas, cepat berbunga, dan klanceng saya jadi betah. Madu lebih lancar, dan pekarangan juga jadi cantik,” ujar Mas Klipi, sambil tersenyum.

Dombea atau secara ilmiah disebut Dombeya wallichii, adalah tanaman berbunga dari keluarga Malvaceae. Ia berasal dari pulau Madagaskar, namun kini telah menyebar ke banyak wilayah tropis di dunia termasuk Indonesia. Di negara-negara berbahasa Inggris, ia dikenal dengan nama Pinkball Tree atau Tropical Hydrangea karena bentuk bunganya yang bulat dan warnanya yang cerah.

Ciri khas Dombea adalah bunganya tumbuh berkelompok seperti bola gantung, dengan warna pink yang mencolok. Daunnya lebar menyerupai daun jati muda, dan batangnya kuat namun lentur. Dombea tergolong tanaman yang tahan kekeringan, mudah tumbuh di dataran rendah maupun tinggi, dan tidak memerlukan perawatan yang rumit.

Menurut Plants of the World Online dari Royal Botanic Gardens Kew, Dombea termasuk tanaman penyerbuk silang yang sangat disukai oleh serangga, terutama lebah.

Kenapa Klanceng Cinta Dombea?

Lebah klanceng atau lebah tanpa sengat (Trigona spp.), adalah jenis lebah lokal yang kini banyak dibudidayakan karena madunya yan dipercaya lebih kaya antioksidan, memiliki rasa unik, dan bernilai ekonomi tinggi. Namun klanceng adalah lebah yang sangat pemilih dalam mencari pakan. Mereka membutuhkan bunga dengan nektar stabil sepanjang tahun.

Inilah keunggulan Dombea: meskipun jenis tanaman hias, ia bisa berbunga lebat dan tahan lama, bahkan dalam musim kemarau sekalipun.

Menurut penelitian Proctor (2008) dalam African Journal of Ecology, tanaman Dombeya memang menjadi daya tarik alami bagi lebah, terutama spesies tropis.

Mas Klipi adalah contoh peternak muda yang memadukan pengetahuan lokal dengan pemanfaatan tanaman eksotik untuk keberlanjutan produksi madu klancengnya. Di desa Gowong, kecamatan Bruno yang dikenal dengan udara sejuknya Dombea dapat tumbuh subur di pekarangan maupun tepi kebun.

Dengan menanam Dombea, Mas Klipi tidak lagi tergantung pada musim randu  (kapuk) atau bunga kelengkeng yang berbunga musiman. Bahkan dalam musim paceklik perbungaan, klanceng tetap bisa memanen nektar.

“Pohon Dombea itu seperti sahabat setia bagi lebah. Nggak cerewet, tapi selalu memberi,” ucap Mas Klipi.

Dombea, Klanceng dan Kemandirian Pangan 

Madu dari lebah klanceng menjadi sumber nutrisi bergizi, bernilai ekonomi tinggi, dan bisa menjadi bagian dari ketahanan pangan dan gizi keluarga. Program seperti Pekarangan Pangan Lestari (P2L) bahkan mendorong budidaya lebah sebagai bagian dari diversifikasi pangan.

Balittro (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah) Kementan RI telah mencatat bahwa madu klanceng memiliki kadar antioksidan tinggi dan aman dikonsumsi bagi penderita diabetes dalam jumlah yang wajar.

Kisah Dombea dan klanceng di kebun Mas Klipi adalah kisah sederhana, namun menyimpan makna mendalam. Tanaman hias tidak hanya mempercantik pekarangan, tapi juga terbukti menjadi penopang ekonomi dan ekologi lokal. Bunga dari seberang benua itu kini telah berpadu indah dengan lebah lokal, membentuk simfoni tropis yang menyehatkan dan menghidupi.

Bruno yang dulu dikenal sunyi dan sejuk, kini menyimpan potensi baru: madu lokal rasa internasional, lahir dari bunga eksotik yang setia berbunga.

Dombea bukan hanya soal keindahan, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi antara alam dan manusia. Ketika petani merawat bunga, lebah datang memberi madu. Ketika pekarangan terjaga, rumah tangga pun berdaya.

Di tengah dunia yang terus mengejar produksi massal dan instan, kisah Mas Klipi dan bunga Dombea mengajarkan satu hal: bahwa keberlanjutan lahir dari kesetiaan pada harmoni.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung