- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Dari Madagaskar ke Bruno: Dombea Si Pink Ajaib yang Bikin Klanceng Betah
Dari Madagaskar ke Bruno: Dombea Si Pink Ajaib yang Bikin
Klanceng Betah
Oleh : Sutoyo
____________________
Ditangan Mas Klipi seorang peternak lebah muda dari Gowong,
bunga eksotik bernama Dombea bukan sekadar tanaman hias biasa. Ia sudah menjadi
sumber pakan utama bagi lebah klanceng penghasil madu lokal yang berkualitas.
Siapa sangka bunga dari benua Afrika ini kini telah bersahabat akrab dengan
koloni klanceng di perbukitan Bruno?
Pagi itu tampak Mas Klipi menyibak rerimbunan daun di
pekarangannya. Diantara rimbunnya pohon-pohon pelindung tampak bunga-bunga
merah muda menggantung seperti lampion kecil. Itulah Dombea bunga eksotik asal
Madagaskar yang kini tumbuh subur di dusun Kajoran, Desa Gowong.
Lebah-lebah klanceng milik Mas Klipi tampak riuh menari-nari
disekitar bunga itu. Mereka bekerja tanpa henti, mengumpulkan nektar demi
nektar untuk menghasilkan madu—manis, harum, dan berkualitas tinggi.
“Saya tanam Dombea karena tahan panas, cepat
berbunga, dan klanceng saya jadi betah. Madu lebih lancar, dan pekarangan juga
jadi cantik,” ujar Mas Klipi, sambil tersenyum.
Dombea atau secara ilmiah disebut Dombeya
wallichii, adalah tanaman berbunga dari keluarga Malvaceae.
Ia berasal dari pulau Madagaskar, namun kini telah menyebar ke banyak wilayah
tropis di dunia termasuk Indonesia. Di negara-negara berbahasa Inggris, ia
dikenal dengan nama Pinkball Tree atau Tropical Hydrangea
karena bentuk bunganya yang bulat dan warnanya yang cerah.
Ciri khas Dombea adalah bunganya tumbuh berkelompok seperti bola
gantung, dengan warna pink yang mencolok. Daunnya lebar menyerupai daun jati
muda, dan batangnya kuat namun lentur. Dombea tergolong tanaman yang tahan
kekeringan, mudah tumbuh di dataran rendah maupun tinggi, dan tidak memerlukan
perawatan yang rumit.
Menurut Plants of the World Online dari Royal
Botanic Gardens Kew, Dombea termasuk tanaman penyerbuk silang yang sangat
disukai oleh serangga, terutama lebah.
Kenapa Klanceng Cinta Dombea?
Lebah klanceng atau lebah tanpa sengat (Trigona spp.), adalah
jenis lebah lokal yang kini banyak dibudidayakan karena madunya yan dipercaya
lebih kaya antioksidan, memiliki rasa unik, dan bernilai ekonomi tinggi. Namun
klanceng adalah lebah yang sangat pemilih dalam mencari pakan. Mereka membutuhkan
bunga dengan nektar stabil sepanjang tahun.
Inilah keunggulan Dombea: meskipun jenis tanaman hias, ia bisa
berbunga lebat dan tahan lama, bahkan dalam musim kemarau sekalipun.
Menurut penelitian Proctor (2008) dalam African
Journal of Ecology, tanaman Dombeya memang menjadi daya tarik alami bagi
lebah, terutama spesies tropis.
Mas Klipi adalah contoh peternak muda yang memadukan pengetahuan
lokal dengan pemanfaatan tanaman eksotik untuk keberlanjutan produksi madu
klancengnya. Di desa Gowong, kecamatan Bruno yang dikenal dengan udara sejuknya
Dombea dapat tumbuh subur di pekarangan maupun tepi kebun.
Dengan menanam Dombea, Mas Klipi tidak lagi tergantung pada
musim randu (kapuk) atau bunga kelengkeng yang berbunga musiman. Bahkan
dalam musim paceklik perbungaan, klanceng tetap bisa memanen nektar.
“Pohon Dombea itu seperti sahabat setia bagi
lebah. Nggak cerewet, tapi selalu memberi,” ucap Mas Klipi.
Dombea, Klanceng dan Kemandirian Pangan
Madu dari lebah klanceng menjadi sumber nutrisi bergizi,
bernilai ekonomi tinggi, dan bisa menjadi bagian dari ketahanan pangan dan gizi
keluarga. Program seperti Pekarangan Pangan Lestari (P2L) bahkan mendorong
budidaya lebah sebagai bagian dari diversifikasi pangan.
Balittro (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah) Kementan RI
telah mencatat bahwa madu klanceng memiliki kadar antioksidan tinggi dan aman
dikonsumsi bagi penderita diabetes dalam jumlah yang wajar.
Kisah Dombea dan klanceng di kebun Mas Klipi adalah kisah
sederhana, namun menyimpan makna mendalam. Tanaman hias tidak hanya
mempercantik pekarangan, tapi juga terbukti menjadi penopang ekonomi dan
ekologi lokal. Bunga dari seberang benua itu kini telah berpadu indah dengan
lebah lokal, membentuk simfoni tropis yang menyehatkan dan menghidupi.
Bruno yang dulu dikenal sunyi dan sejuk, kini menyimpan potensi
baru: madu lokal rasa internasional, lahir dari bunga eksotik yang setia
berbunga.
Dombea bukan hanya soal keindahan, tetapi juga menjadi simbol
kolaborasi antara alam dan manusia. Ketika petani merawat bunga, lebah datang
memberi madu. Ketika pekarangan terjaga, rumah tangga pun berdaya.
Di tengah dunia yang terus mengejar produksi
massal dan instan, kisah Mas Klipi dan bunga Dombea mengajarkan satu hal: bahwa
keberlanjutan lahir dari kesetiaan pada harmoni.






