- VERIFIKASI DAN EVALUASI PROPOSAL PERMOHONAN BANTUAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PRASARANA PERTANIAN TAHUN 2027
- PASTIKAN KETAHANAN PANGAN AMAN, DKPP PURWOREJO PANTAU STOK CPPD DI GUDANG PENYIMPANGAN
- LAPORAN HASIL VERIFIKASI LAPANGAN PERMOHONAN BANTUAN BIBIT JERUK PURUT DESA KEMANUKAN
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
BIKIN GERAH, PETANI ENGGAN PAKAI APD

BIKIN GERAH, PETANI ENGGAN
PAKAI APD
KEMIRI
KEREN NEWS, 5 Maret 2025 –– Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
saat penyemprotan pestisida di sawah masih sering diabaikan oleh petani.
Padahal, APD sangat penting untuk melindungi mereka dari paparan bahan kimia
berbahaya yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Berdasarkan pantauan di beberapa area
persawahan di wilayah Kecamatan Kemiri, masih banyak petani yang melakukan
penyemprotan tanpa mengenakan perlengkapan standar seperti masker, sarung
tangan, kacamata pelindung, atau pakaian khusus. Beberapa petani mengaku enggan
menggunakan APD karena merasa tidak nyaman dan menganggapnya tidak begitu
penting.
"Kalau pakai masker atau sarung tangan
malah bikin gerah dan ribet. Lagipula, sudah biasa kena pestisida, tidak ada
masalah," ujar salah seorang petani di Desa Rowobayem.
Namun, Petugas POPT Kecamtan Kemiri, Sugiyo,
mengingatkan bahwa paparan pestisida dalam jangka panjang dapat menyebabkan
gangguan pernapasan, iritasi kulit, bahkan penyakit serius seperti kanker dan
gangguan saraf. Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP.,MAP.,
menekankan pentingnya penggunaan APD untuk keselamatan kerja petani. "Kami
terus melakukan sosialisasi agar petani sadar akan risiko pestisida, tetapi faktanya,
banyak yang masih enggan menggunakannya. Ini yang menjadi tantangan bagi
kami," ujarnya.
Sementara itu, ditemui di tempat lain, Fitra,
seorang petani yang masih berusia relatif muda juga mengungkapkan hal yang
sama. "Menyemprot itu butuh waktu lama. Kalau pakai perlengkapan lengkap,
rasanya jadi lebih lambat dan kurang praktis. Apalagi kalau cuaca panas, jadi
lebih cepat capek," tukasnya sambil tersenyum.
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh
pengalaman Mbah Wiro, petani berusia lanjut, yang kebetulan sedang berada di
sawah. "Dari dulu saya menyemprot tanpa perlengkapan lengkap, dan sampai
sekarang baik-baik saja. Jadi, rasanya tidak perlu berlebihan,” ujarnya sambil
menghisap rokok menyan.
Sementara itu, dengan suasana penuh keakraban,
Sugiyo yang sudah berpengalaman menjadi Petugas POPT tak bosan- bosannya
memberikan edukasi ke petani terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat
penyemprotan pestisida. “Ketika menyemprot, petani dianjurkan untuk mengenakan
APD standar seperti masker, sarung tangan, kacamata pelindung, pakaian lengan
panjang, dan sepatu saat menyemprot pestisida. Hal ini bertujuan untuk mencegah
paparan langsung terhadap bahan kimia berbahaya,” tuturnya.
Menurut penuturan beliau, bahwa banyak petani
mengeluhkan ketidaknyamanan saat memakai APD. Oleh karena itu, petugas POPT
menyarankan penggunaan APD yang berbahan ringan, tidak terlalu tebal, tetapi
tetap efektif melindungi dari paparan pestisida. Masker sangat penting untuk
menghindari uap pestisida yang bisa masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu,
kacamata pelindung mencegah cairan pestisida mengenai mata yang bisa
menyebabkan iritasi. Setelah menyemprot, petani dianjurkan segera mencuci
tangan dengan sabun, mandi, dan mengganti pakaian agar tidak ada residu
pestisida yang menempel di tubuh atau terbawa ke dalam rumah. “Saya tekankan
juga, agar tidak merokok, makan, atau minum saat sedang menyemprot karena dapat
menyebabkan pestisida masuk ke dalam tubuh melalui tangan atau udara yang
terhirup,” pungkasnya.
Di sisi lain, dari sekian banyak petani, masih
ada seorang petani yang sangat aware dengan kesehatannya dan sadar akan
pentingnya penggunaan APD saat menyemprot. Adalah Mbah Surip, petani yang sudah
sepuh menceritakan pengalamannya saat menyemprot. "Dulu saya sering batuk
dan pusing setelah menyemprot tanpa masker. Saya juga pernah mengalami iritasi
kulit karena pestisida mengenai tangan. Sejak itu, saya selalu memakai sarung
tangan dan pakaian lengan panjang," tukasnya.
Awalnya beliau juga beranggapan bahwa APD
tidak penting, tapi setelah melihat beberapa teman mengalami gangguan
pernapasan dan kulit karena sering terpapar pestisida, beliau mulai terbuka
hatinya. "Kalau kita sakit akibat pestisida, keluarga yang kena dampaknya.
Jadi, lebih baik mencegah dengan memakai APD. Pakai APD memang ribet, tapi
ternyata kalau sudah terbiasa, tidak masalah,” pungkasnya sambil tersenyum.
Hanya sebagian kecil petani yang mulai sadar
akan pentingnya APD. Beberapa dari mereka, walaupun tidak memakai APD tapi
sudah menggunakan masker, sarung tangan, baju dan celana panjang terutama
setelah ada sosialisasi dari penyuluh pertanian dan pengalaman melihat dampak
buruk pestisida pada rekan sesama petani.
Diharapkan lebih banyak petani yang mulai
memahami pentingnya APD demi kesehatan dan keselamatan kerja mereka. Selain
penggunaan APD, petani juga diminta menyimpan pestisida di tempat yang tertutup
dan jauh dari jangkauan anak-anak agar tidak terjadi keracunan. ––






