Belajar Memetik Rupiah dari Daun Tembakau

By DINPPKP 15 Jul 2026, 10:42:08 WIB Penyuluhan
Belajar Memetik Rupiah dari Daun Tembakau

Belajar Memetik Rupiah dari Daun Tembakau

KEMIRI KEREN NEWS Suasana berbeda terasa di demplot Sekolah Lapang (SL) Tembakau Kelompok Tani Sido Mukti, Desa Girimulyo, Kecamatan Kemiri, pada Senin (13/7/2026). Setelah enam kali pertemuan yang membahas seluruh tahapan budidaya tembakau, mulai dari pengolahan lahan hingga pascapanen, kegiatan resmi ditutup dengan semangat optimisme bahwa petani tidak hanya mampu menghasilkan tembakau berkualitas, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan melalui kemitraan yang tepat.

Kegiatan penutupan dihadiri oleh Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, S.P., M.A.P., perwakilan Bidang Prasarana dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Legirin, POPT Kecamatan Kemiri Sugiyo, Penyuluh Pertanian Lapangan Wibi Desa Girimulyo, Agus Nugroho, S.P., serta menghadirkan narasumber istimewa, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Purworejo, Bapak Mulyanto.

Sekolah Lapang Tembakau merupakan salah satu upaya peningkatan kapasitas petani melalui pembelajaran yang dilakukan langsung di lapangan. Selama enam pertemuan, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkan setiap tahapan budidaya, mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga praktik perbanyakan Trichoderma. Pada pertemuan terakhir ini, peserta dibekali materi panen dan pascapanen tembakau, tahapan yang sangat menentukan mutu dan nilai jual hasil panen.

Dalam pemaparannya, Umul Khasunah menegaskan bahwa keberhasilan usaha tani tembakau tidak berhenti ketika tanaman tumbuh subur. Justru, kualitas hasil panen sangat dipengaruhi oleh ketepatan menentukan waktu panen dan penanganan pascapanen.

"Daun yang dipanen pada tingkat kemasakan yang tepat, diperlakukan dengan baik sejak pemetikan, sortasi, hingga proses pengeringan akan menghasilkan mutu yang lebih baik. Mutu inilah yang nantinya menentukan harga jual di pasaran," jelasnya di hadapan peserta.

Ia juga mengingatkan bahwa ketelitian petani dalam menjaga kualitas hasil panen menjadi investasi penting untuk membangun kepercayaan pembeli maupun perusahaan mitra.

Sementara itu, Mulyanto, Ketua APTI Kabupaten Purworejo, memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Berbekal pengalaman panjang sebagai petani tembakau, ia berbagi kisah nyata tentang perjalanan membangun usaha tani, menghadapi dinamika harga, hingga pentingnya menjaga kualitas produk agar memiliki daya saing.

Menurutnya, tantangan petani saat ini bukan hanya menghasilkan panen yang banyak, tetapi mampu menghasilkan tembakau yang memenuhi standar mutu pasar.

"Petani harus memahami bahwa kualitas adalah modal utama. Ketika kualitas terjaga dan petani mampu membangun hubungan kemitraan yang baik, peluang mendapatkan kepastian pasar dan harga akan semakin terbuka," ungkap Mulyanto.

Ia juga memperkenalkan konsep kemitraan tembakau yang memberikan manfaat berupa pendampingan budidaya, kepastian pemasaran, hingga standar mutu yang jelas. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemitraan hanya dapat berjalan baik apabila petani disiplin dalam menerapkan teknik budidaya sesuai rekomendasi.

Diskusi berlangsung hangat. Para peserta memanfaatkan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai waktu panen yang ideal, penanganan daun saat musim hujan, hingga peluang bergabung dalam kemitraan tembakau. Pengalaman lapangan yang dibagikan narasumber menjadikan suasana semakin hidup karena materi yang disampaikan benar-benar dekat dengan persoalan yang dihadapi petani sehari-hari.

Pada akhir kegiatan, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan selama enam kali pertemuan. Hal tersebut menjadi indikator bahwa metode pembelajaran lapangan mampu meningkatkan kapasitas petani secara nyata.

Dalam sambutannya saat menutup kegiatan, Legirin menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian Sekolah Lapang dengan penuh semangat. Ia berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti di lokasi demplot, tetapi diterapkan di lahan masing-masing dan disebarluaskan kepada petani lainnya.

"Kami berharap Sekolah Lapang ini menjadi awal lahirnya petani-petani tembakau yang semakin mandiri, produktif, dan mampu menghasilkan tembakau berkualitas sehingga memberikan nilai tambah bagi keluarga maupun daerah," ujarnya.

Berakhirnya Sekolah Lapang bukan berarti berakhirnya proses belajar. Justru dari demplot sederhana di Desa Girimulyo, semangat untuk terus belajar, berbagi pengalaman, dan berinovasi telah tumbuh. Ketika ilmu bertemu pengalaman, lalu diperkuat kemitraan yang sehat, petani tidak lagi hanya menanam tembakau, tetapi juga menanam harapan akan masa depan pertanian yang lebih baik.

Penutupan Sekolah Lapang Tembakau Kelompok Tani Sido Mukti menjadi bukti bahwa pembangunan pertanian tidak hanya bertumpu pada bantuan sarana produksi, melainkan juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebab, petani yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan jaringan kemitraan akan lebih siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang di masa depan. Semoga-





Berita Purworejo

Counter Pengunjung