- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Bangkit dari Keterpurukan: Inspirasi Dua Generasi Petani Cabai

Bangkit dari Keterpurukan:
Inspirasi Dua Generasi Petani Cabai
_____________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian,
Pegiat literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno semakin menyala
______________
Bruno, 4 Maret 2025 – Ungkapan
"pengalaman adalah guru terbaik" benar-benar dirasakan oleh Pak
Sulis, seorang petani cabai dari Desa Plipiran. Pernah mengalami kegagalan
total akibat kerugian besar, ia hampir menyerah. Namun, semangat untuk bangkit
kembali muncul ketika melihat peluang di tengah naiknya harga cabai rawit yang
mencapai Rp80.000 per kg.
Kebangkitan Pak Sulis tidak
terjadi begitu saja. Atas inisiatif Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), ia
diperkenalkan dengan Rizal, petani muda
dari Desa Gowong yang baru terjun ke dunia hortikultura sejak akhir 2023. Meski
tergolong pendatang baru, Rizal mampu menerapkan strategi yang efektif dalam
budidaya cabai rawit.
Pertemuan yang difasilitasi oleh
PPL langsung di kebun milik Rizal, Pak Sulis dan Mas Rizal berbagi pengalaman
tentang tantangan dan peluang dalam bertani cabai. Rizal yang lebih muda
memberikan wawasan baru tentang teknik dan strategi pasar, sementara Pak Sulis
membagikan pengalaman bertahun-tahun menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
"Kalau cuma mengandalkan
satu kali tanam dan gagal, kita bisa rugi besar. Makanya saya coba sistem tanam
bertahap ini, meskipun lahan terbatas," ujar Rizal.
Sementara itu, Pak Sulis mengakui
bahwa pendekatan ini memberinya harapan baru. "Ternyata kita harus terus
belajar. Saya dulu berpikir bertani cabai itu untung-untungan, tapi setelah
melihat strategi Mas Rizal, saya sadar ada cara yang lebih efektif,"
katanya.
Perjalanan Rizal dan Pak Sulis
menunjukkan bahwa sukses di dunia pertanian bukan hanya soal modal dan lahan
luas, tetapi juga mental yang kuat. Ketahanan menghadapi kegagalan dan
keberanian mencoba strategi baru menjadi faktor penentu keberhasilan mereka.
Pengalaman seperti ini tidak
diajarkan dalam pendidikan formal, tetapi tumbuh dari keberanian mencoba,
beradaptasi, dan saling berbagi ilmu di antara sesama petani. Pertemuan antara
generasi tua dan muda inilah yang menjadi kunci kemajuan pertanian di
desa-desa.
Dengan semangat pantang menyerah,
diharapkan semakin banyak petani yang mampu bangkit dari keterpurukan dan
menciptakan inovasi baru dalam dunia pertanian.






