- Audit BPK Turun ke Lapangan, DKPP Purworejo Tunjukkan Transparansi Program Hibah
- Pelatihan Kader Zoonosis, Upayakan Prinsip One Health
- Evaluasi MT I Jadi Dasar, Kemiri Siap Genjot Tanam 2026
- HARGA BERAS DI PENGGILINGAN PADI PURWOREJO DEKATI HET, PASOKAN TERPANTAU STABIL
- Pembukaan Sekolah Lapang (SL) Kelapa Kelompok Tani Berkah Tani Milenial Desa Girigondo
- Penguatan Silaturahmi dan Sinergi Petani melalui Pertemuan KTNA dan Halal Bihalal Kecamatan Bener Tahun 2026 dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
BAHAS SEPUTAR ISSUE PERTANIAN DALAM FORUM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SE KECAMATAN GRABAG

BAHAS SEPUTAR ISSUE PERTANIAN
DALAM FORUM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SE KECAMATAN GRABAG
GRABAG NEWS – Sebagian besar wilayah Kecamatan Grabag saat ini sedang memasuki panen padi pertama di tahun 2022/ 2023. Para petani tentu sudah tidak sabar menantikan buah keringat mereka yang telah dikucurkan selama sekitar 4 bulan lamanya. Dengan harapan, semua ongkos tanam sampai perawatan dapat diganti untung ketika mereka telah menjual hasil panen gabah atau padi mereka. Untuk itu peningkatan produksi pertanian harus segera dilaksanakan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Camat Grabag, Sri Raharjo, SE., MM. pada forum pemberdayaan masyarakat untuk gapoktan seluruh Kecamatan Grabag pada Rabu (15/3/2023) di Aula Kecamatan Grabag.
“Adanya kegiatan forum pemberdayaan masyarakat ini diharapkan dapat menjembatani masyarakat untuk menyampaikan aspirasi khususnya dalam bidang pertanian dengan tujuan dapat mengembangkan kegiatan yang mendukung peningkatan hasil produksi pertanian,” ungkap beliau mengawali acara tersebut.
Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada perwakilan anggota dewan dan tamu undangan yang hadir. Diharapkan dapat memanfaatkan forum ini dengan sebaik- baiknya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama petani.
Turut hadir dalam acara tersebut Koordinator Penyuluh BPP Grabag, H. Budi Sunaryo, A.Md selaku perwakilan Fraksi PKB, Hj. Tursiyati dari Fraksi Nasdem, Dwi H dari Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Purworejo dan Ketua Gapoktan se Kecamatan Grabag.
Acara dilanjutkan dengan penyampaian informasi dari DPRD Kabupaten Purworejo. Hj.Tursiyati dari Komisi I DPRD Kabupaten Purworejo, menyampaikan bahwa beliau baru pertama kali untuk menghadiri pertemuan forum kelompok tani. Hal ini tentunya karena memang komisi I tidak membidangi pertanian, namun masih bisa menampung aspirasi dari masyarakat.
“Anggota dewan siap menerima aspirasi masyarakat yang nantinya akan diperjuangkan di pembahasan RAPBD melalui pokir. Pokir ini nantinya akan direalisasikan melalui bentuk program kegiatan yang diusulkan melalui pengajuan proposal," ujarnya.
Menurut beliau lagi, DPRD Kabupaten Purworejo yang merupakan tangan kanan masyarakat sekaligus sebagai pemegang anggaran pagu pokir, membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang baik dengan semua pihak sehingga terlaksananya sebuah program kegiatan.
“Untuk bidang pertanian, masyarakat khususnya petani bisa mengusulkan bantuan ternak kambing jawa randu, bantuan ternak sapi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier atau RJIT dan lain sebagainya,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator PPL Kecamatan Grabag, Ibu Umiyatun Wijayanti, STP menyampaikan bahwa wilayah Kecamatan Grabag yang sudah selesai panen padi MT I untuk segera tanam padi MT II. Sebagai contoh Desa Tunggulrejo dan Roworejo yang notabene lebih dulu selesai panennya dan sudah memulai tanam padi untuk MT II, diharapkan segera diikuti desa- desa yang lain.
“Musim tanam II akan dimulai pada 1 Maret 2023 sedangkan musim tanam III akan dimulai pada 16 Juli 2023. Percepatan tanam perlu dilakukan guna mengejar MT III dengan harapan petani dapat menanam palawija”, tandasnya.
Beliau juga memaparkan tentang adanya wabah penyakit LSD (Lumpy Skin Disease) atau yang biasa disebut penyakit kulit berbenjol pada ternak sapi dan kerbau yang disebabkan oleh virus.
Menanggapi penyebaran penyakit LSD atau kulit benjol pada sapi dan kerbau ini, yang juga sudah banyak terjadi di beberapa desa di Kecamtan Grabag, Ibu Umiyatun Wijayanti, STP mengatakan LSD pada sapi tidak menular ke manusia. Penyakit akibat virus ini menyebabkan luka pada kulit, demam, kehilangan nafsu makan dan penurunan produksi. Bahkan, dapat menyebabkan kematian pada sapi dan kerbau.
“LSD ini tidak bersifat zoonosis atau penyakit yang bisa ditularkan hewan ke manusia. Penularan terjadi terutama pada sapi lain dan kerbau. Penyakit ini dapat diamati dari gejala klinisnya yaitu ketidaknormalan pada tubuh sapi. Namun demikian, melonjaknya kasus penyakit ini disebabkan lambatnya deteksi dini di lapangan.” tambahnya lagi.
Untuk mengatasi penyebaran penyakit LSD ini, ia menghimbau pada pemilik peternakan sapi dan kerbau apabila mendapatkan ternaknya terinfeksi LSD untuk melakukan desinfektan kandang. Sedangkan pada sapi yang sudah terinfeksi, ia menyarankan untuk diisolasi dari hewan yang belum terkena. Untuk sapi yang sakit untuk dilakukan stamping out atau pemusnahan. Sebab, dagingnya tidak layak dikonsumsi oleh manusia.
“Jika peternak sudah melihat tanda- tanda terserangnya penyakit LSD pada ternaknya untuk segera melapor ke Dinas Ketahanan dan Pertanian Kabupaten Purworejo agar bisa segera ditangani, sehingga tidak terjadi kematian yang pada akhirnya menimbulkan kerugian bagi peternak itu sendiri” ujarnya mengakhiri materi.
Acara diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab dengan petani. Salah satunya disampaikan oleh Marsudi yang merupakan petani Desa Patutrejo yang menyampaikan bahwa lahan sekitar jalan Daendels sering mengalami kekurangan air. Hal tersebut sudah ditanggapi dengan mengupayakan pembuatan sumur bor.






