WASPADA SERANGAN OPT PADI PADA MT I 2024 DI KECAMATAN PURWODADI

By DINPPKP 21 Feb 2024, 14:02:42 WIB Penyuluhan
WASPADA SERANGAN OPT PADI  PADA MT I 2024 DI KECAMATAN PURWODADI

WASPADA SERANGAN OPT PADI  PADA MT I 2024 DI KECAMATAN PURWODADI

 

Tanaman padi musim tanam I tahun 2024 Kecamatan Purwodadi kurang lebih seluas 2.703 hektar. Meskipun jadwal tanam mundur karena dampak perubahan iklim, namun seluruh lahan dapat tertanami.  Petani mulai tanam pada bulan November 2023 dan bulan Februari 2024 bisa tutup tanam (selesai tanam).

Pada musim ini intensitas hujan rendah namun kelembaban tinggi. Menurut pengamatan dan laporan petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Purwodadi, Ruth N.L Simanjuntak telah ada serangan beberapa organisme pengganggu tanaman (OPT) penting seperti Wereng Batang Coklat (WBC), Hama Putih Palsu, Tikus, Hawar Daun Bakteri atau Kresek serta Blas.  OPT  yang mendominasi adalah Hama Putih Palsu dengan gejala daun melipat/menggulung kurang lebih 250-300 ha. Ada beberapa desa yang telah terserang WBC diantaranya Desa Bubutan, Desa Guyangan, Desa Gesing serta Desa Jatikontal.

Serangan tikus terlihat di sekitar persawahan Desa Jenar Kidul serta persawahan Desa Sumberrejo. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian  bersama Poktan/ Gapoktan, Pemerintah Desa berkoordinasi dengan Laboratorium Hama dan Penyakit Wilayah Kedu dalam melakukan upaya pencegahan perluasan serangan.

Gerakan pengendalian (Gerdal) untuk beberapa OPT padi telah dilaksanakan dibeberapa lokasi. Petani dan kelompok tani dikoordinasi oleh PPL  wilayah binaan, dipandu oleh POPT.   Gerdal WBC telah dilakukan pada hari Minggu tanggal 18 Februari 2024 di Kelompok Tani Maju Jaya Desa Bubutan, gerdal WBC pada hari Senin tanggal 19 Februari 2024 di Kelompok Tani Bina Taruna Tani Desa Guyangan, gerdal hama tikus hari Selasa tanggal 20 Februari di Kelompok Tani Widodo Desa Jenar Kidul, dan gerdal hama putih palsu pada Hari Rabu tanggal 21 Februari 2024 di Kelompok Tani Sido Maju Desa Karangsari.

Bahan pengendali berupa pestisida berasal dari Laboratorium Pengamat Hama Wilayah Kedu serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo. Tindakan lainnya adalah melalui pembersihan saluran gulma di daerah aliran tersier di Desa Bragolan yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Februari 2024. Bantuan ini bersifat stimulan, diharapkan petani setelah ini dapat melakukan pengendalian secara mandiri. Pengendalian OPT harus dilakukan secara bersama2. Apabila dilakukan secara individu hanya memindahkan populasi dari petak satu ke petak yang lain.

Khusus untuk hama wereng batang coklat (WBC), karena merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi dan tidak bisa diprediksi. WBC dapat menyerang tanaman secara cepat, hanya dalam waktu dua hari, didukung oleh kelembaban yang tinggi, mempercepat regenerasi WBC. Oleh karena itu, penyuluh pertanian di setiap wilayah binaan tidak bosan untuk selalu mengingatkan petani melalui pertemuan kelompok tani maupun saat kunjungan lapang dan kunjungan tatap muka di rumah petani. Hal-hal yang perlu dilakukan yaitu pengamatan dan pengendalian. Pengamatan rutin adalah kunci utama pengendalian, hal ini merupakan tanggungjawab petani sebagai pelaku utama.  Dengan pengamatan rutin, jika ada serangan WBC, dapat dikendalikan segera, untuk mencegah penurunan hasil yang lebih besar.  Pengendalian harus dilakukan secara serempak untuk menghindari WBC berpindah ke lahan lain.

Ada beberapa faktor pemicu perkembangan WBC yang perlu dipahami oleh petani, diantaranya :

1.     Terjadinya anomali iklim, merupakan keadaan dimana pada musim kemarau masih terjadi hujan atau sebaliknya, seharusnya musim penghujan, namun pada jangka waktu tertentu tidak ada hujan.

2.     Varietas rentan terhadap serangan WBC. Varietas padi yang rentan, atau disukai WBC biasanya merupakan padi aromatik seperti Varietas Menthik Wangi, Sintanur, Pandanwangi, meskipun WBC bisa menyerang varietas apapun.

3.     Tanam tidak serentak. Kondisi ini mendorong WBC berkembang pesat karena tersedia habibat dan makanan setiap saat.

4.     Terlambat penanganan/pengendalian akibat monitoring kurang rutin dan optimal.

 

 

(Desty Lina Erfawati, S.P.- Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi).

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung