- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
WASPADA SERANGAN OPT PADI PADA MT I 2024 DI KECAMATAN PURWODADI
.jpg)
WASPADA SERANGAN OPT PADI PADA MT I 2024 DI KECAMATAN PURWODADI
Tanaman
padi musim tanam I tahun 2024 Kecamatan Purwodadi kurang lebih seluas 2.703
hektar. Meskipun jadwal tanam mundur karena dampak perubahan iklim, namun seluruh
lahan dapat tertanami. Petani mulai
tanam pada bulan November 2023 dan bulan Februari 2024 bisa tutup tanam
(selesai tanam).
Pada
musim ini intensitas hujan rendah namun kelembaban tinggi. Menurut pengamatan
dan laporan petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan
Purwodadi, Ruth N.L Simanjuntak telah ada serangan beberapa organisme
pengganggu tanaman (OPT) penting seperti Wereng Batang Coklat (WBC), Hama Putih
Palsu, Tikus, Hawar Daun Bakteri atau Kresek serta Blas. OPT
yang mendominasi adalah Hama Putih Palsu dengan gejala daun
melipat/menggulung kurang lebih 250-300 ha. Ada beberapa desa yang telah
terserang WBC diantaranya Desa Bubutan, Desa Guyangan, Desa Gesing serta Desa
Jatikontal.
Serangan
tikus terlihat di sekitar persawahan Desa Jenar Kidul serta persawahan Desa
Sumberrejo. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian bersama Poktan/ Gapoktan, Pemerintah Desa
berkoordinasi dengan Laboratorium Hama dan Penyakit Wilayah Kedu dalam
melakukan upaya pencegahan perluasan serangan.
Gerakan pengendalian
(Gerdal) untuk beberapa OPT padi telah dilaksanakan dibeberapa lokasi. Petani
dan kelompok tani dikoordinasi oleh PPL
wilayah binaan, dipandu oleh POPT.
Gerdal WBC telah dilakukan pada
hari Minggu tanggal 18 Februari 2024 di Kelompok Tani Maju Jaya Desa Bubutan,
gerdal WBC pada hari Senin tanggal 19 Februari 2024 di Kelompok Tani Bina
Taruna Tani Desa Guyangan, gerdal hama tikus hari Selasa tanggal 20 Februari di
Kelompok Tani Widodo Desa Jenar Kidul, dan gerdal hama putih palsu pada Hari
Rabu tanggal 21 Februari 2024 di Kelompok Tani Sido Maju Desa Karangsari.
Bahan pengendali berupa
pestisida berasal dari Laboratorium Pengamat Hama Wilayah Kedu serta Dinas
Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo. Tindakan lainnya adalah
melalui pembersihan saluran gulma di daerah aliran tersier di Desa Bragolan
yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Februari 2024. Bantuan ini bersifat
stimulan, diharapkan petani setelah ini dapat melakukan pengendalian secara mandiri.
Pengendalian OPT harus dilakukan secara bersama2. Apabila dilakukan secara
individu hanya memindahkan populasi dari petak satu ke petak yang lain.
Khusus untuk hama wereng
batang coklat (WBC), karena merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi
dan tidak bisa diprediksi. WBC dapat menyerang tanaman secara cepat, hanya
dalam waktu dua hari, didukung oleh kelembaban yang tinggi, mempercepat
regenerasi WBC. Oleh karena itu, penyuluh pertanian di setiap wilayah binaan
tidak bosan untuk selalu mengingatkan petani melalui pertemuan kelompok tani
maupun saat kunjungan lapang dan kunjungan tatap muka di rumah petani. Hal-hal
yang perlu dilakukan yaitu pengamatan dan pengendalian. Pengamatan rutin adalah
kunci utama pengendalian, hal ini merupakan tanggungjawab petani sebagai pelaku
utama. Dengan pengamatan rutin, jika ada
serangan WBC, dapat dikendalikan segera, untuk mencegah penurunan hasil yang
lebih besar. Pengendalian harus
dilakukan secara serempak untuk menghindari WBC berpindah ke lahan lain.
Ada beberapa faktor pemicu
perkembangan WBC yang perlu dipahami oleh petani, diantaranya :
1.
Terjadinya anomali iklim, merupakan keadaan
dimana pada musim kemarau masih terjadi hujan atau sebaliknya, seharusnya musim
penghujan, namun pada jangka waktu tertentu tidak ada hujan.
2.
Varietas rentan terhadap serangan WBC. Varietas
padi yang rentan, atau disukai WBC biasanya merupakan padi aromatik seperti
Varietas Menthik Wangi, Sintanur, Pandanwangi, meskipun WBC bisa menyerang
varietas apapun.
3.
Tanam tidak serentak. Kondisi ini mendorong WBC
berkembang pesat karena tersedia habibat dan makanan setiap saat.
4.
Terlambat penanganan/pengendalian akibat
monitoring kurang rutin dan optimal.
(Desty Lina Erfawati, S.P.- Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi).






