Ubinan Ukur Hasil Tanam Padi MT I Krendetan Bagelen

By DINPPKP 26 Apr 2024, 13:25:06 WIB Penyuluhan
Ubinan Ukur Hasil Tanam Padi MT I Krendetan Bagelen

Kamis, 18 April 2024 di lahan sawah garapan milik Jumirin, salah satu anggota kelompok tani Sido Maju Desa Krendetan dilaksanakan kegiatan ubinan hasil tanam Musim pertama tahun 2024. Kegiatan dilaksanakan oleh petani dan didampingi oleh Penyuluh pertanian dari BPP Bagelen. Ubinan padi sendiri merupakan salah satu metode pengukuran untuk mengetahui produktivitas atau hasil panen padi di suatu lahan. Dari hasil ubinan diperoleh data perkiraan hasil panen adalah 7,16 ton/Ha. Terjadi penurunan 0.2 ton/Ha dibandingkan musim tanam sebelumnya sebagai dampak serangan OPT walang sangit di pertengahan masa tanam dan serangan OPT WBC di akhir masa pertanaman padi. Serangan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dapat memberikan dampak yang signifikan pada tanaman padi antara lain penurunan produksi, kerusakan tanaman sampai gagal panen dan meningkatnya resiko penyakit kerdil. 


Pada musim tanam kali ini kendala yang dihadapi petani lebih banyak dari musim tanam sebelumnya dikarenakan adanya dampak perubahan iklim yang menyebabkan tertundanya tanam, meningkatnya resiko kekeringan dan tingginya intensitas serangan OPT. Perubahan iklim memiliki dampak yang signifikan pada tanaman semusim. Curah hujan yang menurun dan mundur dari kebiasaan akibat El Nino menyebabkan masa tanam yang biasanya di Desember tertunda sampai bulan Februari, dan kondisi pertanaman sempat kekurangan air di masa vegetatifnya. Intensitas serangan OPT walang sangit dan WBC meningkat tinggi di pertengahan dan akhir masa pertanaman padi. Upaya pengendalian sudah dilakukan dengan menggunakan bahan kimia dikarenakan populasi OPT sudah melewati ambang batas ekonomi. 


Untuk wilayah pertanian di Kecamatan Bagelen secara umum mengalami penurunan produksi sebagai dampak dari kekurangan air dan tingginya serangan OPT.  Untuk mengatasi dampak perubahan iklim, diperlukan adaptasi melalui pengembangan varietas tahan iklim, praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik. Kolaborasi antara petani, peneliti, dan pembuat kebijakan sangat penting untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim.

Sebagai upaya untuk persiapan musim tanam berikutnya diharapkan petani bisa memilih varietas tanaman unggul yang tahan WBC, tahan kekeringan dan tingkat produksi yang tinggi. Perlu menggiatkan penanaman refugia dan aplikasi bahan organik agar keseimbangan hara tanah maupun ekosistem sawah bisa dipulihkan kembali. Penggunaan pupuk kimia secara 6 tepat maupun pembatasan aplikasi racun kimia dilingkungan pertanian. Apabila hal tersebut bisa dipenuhi maka diharapkan kedepannya terjadi peningkatan hasil produk pertanian dan mutu hasilnya bisa lebih baik lagi.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung