- VERIFIKASI DAN EVALUASI PROPOSAL PERMOHONAN BANTUAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PRASARANA PERTANIAN TAHUN 2027
- PASTIKAN KETAHANAN PANGAN AMAN, DKPP PURWOREJO PANTAU STOK CPPD DI GUDANG PENYIMPANGAN
- LAPORAN HASIL VERIFIKASI LAPANGAN PERMOHONAN BANTUAN BIBIT JERUK PURUT DESA KEMANUKAN
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
Tulubis Kuntul Baris

Tulubis Kuntul Baris
(Storytelling)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Budaya Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Gasspooll on Fire
______________
Sore hari ini Rabu, 25 Juni 2025, cuaca di Dusun Kajoran Kulon, Desa Gowong cukup cerah. Tampak barisan petani dari Kelompok Tani Rukun Tani memenuhi hamparan lahan sedang malakukan kegitan menanam bibit tembakau program Good Agricultural Practices (GAP) dari Distanbun. Dengan cangkul di tangan dan semangat gotong royong di dada, mereka bekerja tanpa banyak komando. Semua tahu harus mulai dari mana, dan apa yang mesti dilakukan.
Satu baris mulai membuka lubang tanam dengan irama yang nyaris serempak—dalam, presisi, dan jarak yang sudah terukur. Tak lama, barisan kedua menyusul, menaburkan pupuk organik padat sebagai pupuk dasar ke dalam setiap lubang. Bau khas pupuk kompos menyatu dengan aroma tanah basah sisa hujan tadi malam.
Lalu munculah barisan ketiga—para petani muda dengan nampan potray di tangan. Bibit-bibit tembakau yang masih mungil dan segar perlahan dikeluarkan dari potray dengan hati-hati. Mereka meletakkan setiap bibit tepat di atas lubang tanam yang sudah diberi pupuk, seolah sedang menata masa depan yang hendak mereka rawat.
Akhirnya barisan keempat datang menutup lubang dengan tanah, memastikan akar bibit menempel erat dengan ibu bumi. Dengan satu gerakan tangan yang lembut namun pasti, mereka mengukuhkan bahwa setiap batang tembakau itu bukan sekadar tanaman, tapi janji—janji akan panen, rezeki, dan kesinambungan hidup petani.
Semua bergerak seperti "tulubis kuntul baris" —berbaris rapi, teratur, saling mengisi. Tak ada teriakan. Tak ada perintah keras. Yang terdengar hanyalah obrolan ringan, canda tawa, dan sapaan-sapaan penuh keakraban. Di antara mereka, PPL dan ketua kelompok juga turut serta, menjadi bagian dari irama kebersamaan itu, bukan sekadar pengarah dari kejauhan.
Inilah wajah gotong royong dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya kerja bareng, tapi juga rasa memiliki, rasa setara, dan rasa percaya satu sama lain. Tidak ada yang merasa paling penting, tidak pula yang merasa tak dibutuhkan. Semua berjalan bersama dalam satu niat: menanam harapan, menuai keberkahan.
Bagi mereka, menanam tembakau bukan sekadar urusan agronomi. Ini adalah bagian dari laku budaya dan spiritualitas petani Jawa: menghargai proses, menjaga harmoni dengan alam, dan menghidupi nilai-nilai kebersamaan. Dalam barisan petani itu, tersimpan filosofi "urip iku kudu rukun", hidup harus dijalani dengan rukun.
Gambaran ini menjadi pelajaran berharga, bahwa dalam setiap benih yang ditanam bersama, tumbuh pula solidaritas dan kebersamaan yang menyuburkan harapan. Layaknya burung kuntul yang berjalan berbaris di pematang sawah, para petani Rukun Tani telah menunjukkan bahwa harmoni bisa tumbuh di tengah kerja keras, jika dilakukan dengan hati yang ringan dan niat yang sama.






