TEMBUS EKSPOR, IMA UBAH BONGGOL PISANG MENJADI KERIPIK ANEKA RASA

By DINPPKP 23 Nov 2021, 13:53:38 WIB Penyuluhan
TEMBUS EKSPOR, IMA UBAH BONGGOL PISANG MENJADI KERIPIK ANEKA RASA

TEMBUS EKSPOR, IMA UBAH BONGGOL PISANG MENJADI KERIPIK ANEKA RASA

Siapa tak tahu pisang?, buah dengan segudang manfaat bagi tubuh ini tak dipungkiri menjadi salah satu buah yang digemari oleh masyarakat. Selain mudah ditemui di lahan pekarangan, pisang memiliki kandungan vitamin yang baik bagi kesehatan. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen (BB Pascapanen) Prayudi Syamsuri mengatakan pengembangan produk olahan pisang dapat mendukung diversifikasi pangan lokal. Prayudi mengungkapkan bahwa salah satu target diversifikasi pangan lokal 2020-2024 adalah penurunan konsumsi beras. Pada 2020, konsumsi beras nasional sebesar 94,9 kg/kapita/tahun dan ditargetkan menurun menjadi 85 kg/kapita/tahunpada 2024. Untuk memenuhi target tersebut, strategi yang dilakukan antara lain dengan meningkatkan ketersediaan pangan lokal, meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan lokal, dan mendorong peningkatan konsumsi pangan lokal. “Salah satunya dengan menghadirkan pisang dalam berbagai produk turunan,” tuturnya.

Ide tak biasa muncul dari Ima Rosanti, warga Desa Jombang Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Singkatnya, ia bekerja di perusahaan swasta di Yogyakarta, dikarenakan harus pulang kampung untuk merawat neneknya, ia memutar otak agar dapat menghasilkan rupiah dari pemanfaatan potensi sumber daya alam yang ada di desanya. Ia teringat pepatah orang tua pada zaman dahulu bahwasanya setiap manusia dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan tanaman yang ada di sekitarnya, misalnya bonggol pisang yang dimasak menjadi sayur lodeh. Ia lalu memutar otak dan berusaha menciptakan inovasi dengan pohon pisang yang banyak ditemukan di halaman pekarangan rumah yang hanya dimanfaatkan buahnya saja, sedangkan pohonnya hanya dibiarkan begitu saja membusuk karena tidak memiliki nilai ekonomis. Akhirnya dia menemukan ide untuk mengolah bonggol pisang menjadi sesuatu camilan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan dari anak-anak sampai dewasa, yaitu keripik bonggol pisang yang crispy.

Namun, di balik cap-nya sebagai ‘limbah’, batang pisang bagian bawah ini ternyata mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap. Dalam 100 gram bonggol pisang basah terkandung 43,0 kalori, 0,36 g protein, 11,60 g karbohidrat, 86,0 g air, beberapa mineral seperti Ca, P dan Fe, vitamin B1 dan C, serta bebas kandungan lemak (Rukmana, 2005).

Pada tahun 2015, dengan dukungan penuh dari keluarga, Ima mencoba membuat keripik bonggol pisang secara otodidak dengan mencari referensi dari berbagai sumber. Dengan dibantu suaminya, Ima mengambil bonggol dari pohon pisang yang sudah berada di bawah tanah. Langkah pertama yaitu memilih bonggol pisang, semua jenis pohon pisang dapat diolah menjadi keripik kecuali pohon pisang ambon dan pisang pulet, karena warnanya menjadi hitam dan ada rasa pahit setelah menjadi keripik.

Selanjutnya bonggol dan tumbuhan pisang tadi dibersihkan secara keseluruhan. Setelah itu bonggol pisang tersebut diiris tipis-tipis."Biar lebih gurih, bonggol dan pelepah pisang ini direndam air kapur sirih dulu selama kurang lebih 2 jam,kemudian dibilasdengan air bersihlaluditiriskan" kata Ima. Langkah selanjutnya yaitu memasak bonggol pisang dengan menggoreng menggunakan tepung mocaf yang telah dibumbui bawang putih, ketumbar dan garam, digoreng hingga berubah menjadi kecoklatan. Minyak yang digunakan harus benar-benar panas dan dilakukan dua kali penggorengan. Selanjutnya dilakukan penirisan menggunakan spiner lalu dilakukan packing.

Agar dapat memanjakan lidah pembeli, Ima berkreasi membuat keripik bonggol pisang dengan beraneka rasa yaitu original, keju, pedas dan barbeque. Pada awalnya Ima melakukan pemasaran dengan menitipkannya di warung yang ada di sekitar Kecamatan Ngombol. Tetapi kurang laku sehingga dia merubah taktik pemasaran dengan memulai dari tingkat menengah sampai atas, dia memasarkan kerekan-rekan sejawatnya ketika ia bekerja dulu dan hasilnya sangat memuaskan. Banyak rekannya yang akhirnya menjadi reseller dan ketagihan dengan keripik bonggol pisangnya. Selain itu dia juga aktif mengikuti event dan perlombaan di tingkat Kabupaten Purworejo untuk mendongkrak penjualan keripik bonggol pisangnya.

Lambat laun dengan perjuangan yang tak kenal lelah, keripik bonggol pisang mulai dilirik oleh pihak ketiga yang sering mengadakan expo dan melakukan ekspor ke berbagai negara. Keripik bonggol pisang Ima sudah dapat dipasarkan di Bandara A Yani, New Yogyakarta International Airport, Gedung Smesco, Kemenkop dan berbagai tempat yang lainnya. Dalam seminggu penjualan produknya yang dipasarkan di tempat-tempat tersebut mencapai 1.000 pcs.

Tidak hanya pemasaran lokal saja tetapi keripik bonggol pisangnya juga sudah menembus pasar ekspor. Dalam kurun waktu 4 bulan sekali, ia mampu mengekspor keripik bonggol pisang ini ke Taiwan, Dubai dan Jepang sejumlah 300.000 pcs. Dengan jumlah reseller yang semakin bertambah dan rata-rata penjualan sehari 100 pcs kini Ima kuwalahan dalam hal ketersediaan produknya, sehingga ia menggandeng pelaku UMKM yang berada di lingkungannya untuk turut serta mengolah bonggol pisang, dengan mengadakan pelatihan pembuatan keripik.

Penyuluh Pertanian Kecamatan Ngombol, Bakti Woro Haryanti menyampaikan bahwa keripik bonggol pisang buatan Ima memiliki kesan modern dan praktis sehingga banyak masyarakat yang menyukainya. Bahkan selain bahannya mudah didapat dan murah, proses pembuatannya juga terbilang mudah dan sederhana namun harus memiliki kesabaran yang luar biasa untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga.

Disusun Oleh :

Bakti Woro Haryanti, SP

Penyuluh Pertanian DinPPKP Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah





Berita Purworejo

Counter Pengunjung