- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
TEKNOLOGI SEDERHANA, JEMBATANI KETERBATASAN

TEKNOLOGI
SEDERHANA, JEMBATANI KETERBATASAN
KEMIRI KEREN
NEWS –– Gerakan
pengendalian hama wereng kembali berlanjut, setelah kemarin diadakan di beberapa
desa di Kecamatan Kemiri, hari ini Selasa (7/5/24), Petugas Pengendali Organisme
Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri, bersama-sama dengan
pemerintah desa dan Kelompok Tani Sido Mukti, Desa Girimulyo, bahu-membahu
dalam memerangi hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka. Sejak akhir
Februari, hama wereng telah terdeteksi di beberapa wilayah di Kecamatan Kemiri,
dan sejak saat itu, berbagai upaya pengendalian telah dilakukan.
Sugiyo, Petugas
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri
menyampaikan, berdasarkan hasil pengamatan lapang yang dilakukan, stadia wereng
yang banyak ditemukan adalah vegetatif akhir hingga generatif awal. Untuk
mengurangi populasi secara signifikan maka digunakan racun yang bersifat
kontak, setelah pengendalian 2-3 hari kemudian lakukan pengamatan dan evaluasi
pengendalian, bila ada penetasan telur wereng maka segera aplikasi lagi,
sehingga pengendalian bisa tuntas.
"Gerakan
pengendalian hama wereng di Kecamatan Kemiri dilakukan secara terpadu dan
bertahap. Awalnya, kami menggunakan Agen Pengendali Hayati (APH), namun karena
populasi hama terus meningkat, kami beralih ke pestisida kimia,"
ujarnya.
Koordinator BPP
Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., menambahkan bahwa sampai saat ini
total terdapat 16 gerakan pengendalian yang telah dilakukan di Kecamatan Kemiri
dan di Desa Girimulyo sendiri sudah 2 kali. Ia juga mengakui ada beberapa
kendala yang dihadapi, seperti luas pertanaman padi dengan umur yang berbeda-
beda, pola tanam yang tidak serempak, keterbatasan racun pestisida dan kontur
lahan. Wilayah Kecamatan Kemiri yang notabene memiliki kontur beragam dari
datar hingga agak miring tentu mempengaruhi bentuk persawahan dari sawah datar
hingga sawah terasering.
“Kekurangan
dari sawah terasering dibandingkan dengan sawah datar, yaitu kesulitan dalam
menggunakan mesin pertanian, karena lahannya yang kecil dan sempit. Hal ini
dapat mempengaruhi produktivitas padi yang dihasilkan karena efektivitas dan
efisiensi kerjanya lebih rendah,” ungkap beliau.
Sejalan dengan hal
tersebut, Suripto, Ketua Kelompok Tani Sido Mukti Desa Girimulyo mengatakan, Desa
Girmulyo memiliki persawahan di lahan miring yang dibuat bertingkat- tingkat.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah. Dengan
pembuatan terasering, air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah, mengurangi
aliran permukaan, dan meminimalkan resiko erosi.
“Perawatan
dan pengelolaan sawah terasering membutuhkan cukup banyak tenaga kerja sehingga
modal awal yang diperlukan lebih besar 2 kali lipat. Meskipun begitu, teknik
ini tetap memiliki manfaat penting dalam mengatasi masalah lahan miring untuk
mengurangi erosi tanah,” tutur beliau.
Menjawab tantangan
tersebut, Suripto, menuturkan bahwa petani Desa Girimulyo telah menciptakan
teknologi sederhana untuk pengendalian hama melalui alat penyemprotan.
Biasanya, petani menggunakan sprayer buatan pabrik dengan ukuran 14
sampai 20 liter. Alhasil, setelah melakukan penyemprotan, petani akan mengeluh
capek yang luar biasa karena beban dari sprayer yang terlalu berat,
ditambah lagi kondisi sawah yang menanjak menambah berat kerja petani. Apalagi
sebagian besar petani sudah berusia lanjut sehingga dari segi kesehatan sudah
tidak begitu baik.
“Dari
keterbatasan yang ada, terciptalah dari inisiatif petani, alat semprot yang
lebih sederhana yang tidak memberatkan petani. Alat semprot ini menggunakan jerigen
ukuran 5 liter kemudian disambungkan stik sprayer,” tambahnya.
Beliau juga mengungkapkan
bahwa, jika menggunakan alat semprot jerigen ini, sangat meringankan beban
petani yang berusia lanjut bahkan ibu- ibu bisa membantu suaminya menyemprot.
Sehingga keterbatasan tenaga kerja untuk penyemprotan bisa diatasi dengan alat
ini. Jerigen ini harganya sangat terjangkau di pasaran, petani juga bisa
menggunakan jerigen bekas. Jadi biaya pengeluaran hanya pada stick
sprayernya saja, yang jauh berbeda jika harus membeli sprayer buatan
pabrik.
Seperti yang diungkap oleh Pak Wito, salah satu petani Desa
Girimulyo yang sudah berusia lanjut,
“Saya
sangat terbantu sekali dengan alat ini, karena saya sudah tua tidak sanggup
lagi jika harus membawa sprayer,” tutur beliau sambil tersenyum.
Demikian juga yang diungkapkan Ibu Legiyem,
“Suami saya tidak mampu jika harus
menyemprot sawah seorang diri, anak saya semua merantau di kota. Sekarang
mencari tenaga kerja juga sangat sulit, kalopun ada juga relatif mahal. Mau
tidak mau saya ikut membantu suami saya menyemprot. Dengan alat semprot jerigen
ini, meringankan sekali karena saya perempuan tidak sekuat laki- laki,” ungkapnya.
Beliau tidak bisa membayangkan, jika harus membawa sprayer
14 liter, apalagi sawahnya berada paling atas. Alat tersebut walaupun sangat
sederhana dan murah tapi sangat membantu sekali. Meskipun harus berulang kali
isi ulang karena kapsitasnya yang sangat kecil.
Menyadari hal tersebut, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul
Khasunah, SP., MAP., menyampaikan bahwa, beliau sangat mengapresiasi teknologi
yang digunakan petani Desa Girimulyo. Teknologi yang rumit dan canggih tidak
harus menjadi satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Justru,
teknologi sederhana seringkali memberikan manfaat yang lebih efektif dan mampu
menjembatani keterbatasan yang ada. ––






