TEKNOLOGI SEDERHANA, JEMBATANI KETERBATASAN

By DINPPKP 07 Mei 2024, 13:41:47 WIB Penyuluhan
TEKNOLOGI SEDERHANA, JEMBATANI KETERBATASAN

Text Box: KEMIRI KEREN NEWSTEKNOLOGI SEDERHANA, JEMBATANI KETERBATASAN

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Gerakan pengendalian hama wereng kembali berlanjut, setelah kemarin diadakan di beberapa desa di Kecamatan Kemiri, hari ini Selasa (7/5/24), Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri, bersama-sama dengan pemerintah desa dan Kelompok Tani Sido Mukti, Desa Girimulyo, bahu-membahu dalam memerangi hama wereng yang menyerang tanaman padi mereka. Sejak akhir Februari, hama wereng telah terdeteksi di beberapa wilayah di Kecamatan Kemiri, dan sejak saat itu, berbagai upaya pengendalian telah dilakukan.

 

Sugiyo, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Kecamatan Kemiri menyampaikan, berdasarkan hasil pengamatan lapang yang dilakukan, stadia wereng yang banyak ditemukan adalah vegetatif akhir hingga generatif awal. Untuk mengurangi populasi secara signifikan maka digunakan racun yang bersifat kontak, setelah pengendalian 2-3 hari kemudian lakukan pengamatan dan evaluasi pengendalian, bila ada penetasan telur wereng maka segera aplikasi lagi, sehingga pengendalian bisa tuntas.

"Gerakan pengendalian hama wereng di Kecamatan Kemiri dilakukan secara terpadu dan bertahap. Awalnya, kami menggunakan Agen Pengendali Hayati (APH), namun karena populasi hama terus meningkat, kami beralih ke pestisida kimia," ujarnya.

 

Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., menambahkan bahwa sampai saat ini total terdapat 16 gerakan pengendalian yang telah dilakukan di Kecamatan Kemiri dan di Desa Girimulyo sendiri sudah 2 kali. Ia juga mengakui ada beberapa kendala yang dihadapi, seperti luas pertanaman padi dengan umur yang berbeda- beda, pola tanam yang tidak serempak, keterbatasan racun pestisida dan kontur lahan. Wilayah Kecamatan Kemiri yang notabene memiliki kontur beragam dari datar hingga agak miring tentu mempengaruhi bentuk persawahan dari sawah datar hingga sawah terasering.

 

“Kekurangan dari sawah terasering dibandingkan dengan sawah datar, yaitu kesulitan dalam menggunakan mesin pertanian, karena lahannya yang kecil dan sempit. Hal ini dapat mempengaruhi produktivitas padi yang dihasilkan karena efektivitas dan efisiensi kerjanya lebih rendah,” ungkap beliau.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Suripto, Ketua Kelompok Tani Sido Mukti Desa Girimulyo mengatakan, Desa Girmulyo memiliki persawahan di lahan miring yang dibuat bertingkat- tingkat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah. Dengan pembuatan terasering, air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah, mengurangi aliran permukaan, dan meminimalkan resiko erosi.

 

Perawatan dan pengelolaan sawah terasering membutuhkan cukup banyak tenaga kerja sehingga modal awal yang diperlukan lebih besar 2 kali lipat. Meskipun begitu, teknik ini tetap memiliki manfaat penting dalam mengatasi masalah lahan miring untuk mengurangi erosi tanah,” tutur beliau.

 

Menjawab tantangan tersebut, Suripto, menuturkan bahwa petani Desa Girimulyo telah menciptakan teknologi sederhana untuk pengendalian hama melalui alat penyemprotan. Biasanya, petani menggunakan sprayer buatan pabrik dengan ukuran 14 sampai 20 liter. Alhasil, setelah melakukan penyemprotan, petani akan mengeluh capek yang luar biasa karena beban dari sprayer yang terlalu berat, ditambah lagi kondisi sawah yang menanjak menambah berat kerja petani. Apalagi sebagian besar petani sudah berusia lanjut sehingga dari segi kesehatan sudah tidak begitu baik.

 

 

“Dari keterbatasan yang ada, terciptalah dari inisiatif petani, alat semprot yang lebih sederhana yang tidak memberatkan petani. Alat semprot ini menggunakan jerigen ukuran 5 liter kemudian disambungkan stik sprayer,” tambahnya.

 

Beliau juga mengungkapkan bahwa, jika menggunakan alat semprot jerigen ini, sangat meringankan beban petani yang berusia lanjut bahkan ibu- ibu bisa membantu suaminya menyemprot. Sehingga keterbatasan tenaga kerja untuk penyemprotan bisa diatasi dengan alat ini. Jerigen ini harganya sangat terjangkau di pasaran, petani juga bisa menggunakan jerigen bekas. Jadi biaya pengeluaran hanya pada stick sprayernya saja, yang jauh berbeda jika harus membeli sprayer buatan pabrik.

 

Seperti yang diungkap oleh Pak Wito, salah satu petani Desa Girimulyo yang sudah berusia lanjut,

 

“Saya sangat terbantu sekali dengan alat ini, karena saya sudah tua tidak sanggup lagi jika harus membawa sprayer,” tutur beliau sambil tersenyum.

 

Demikian juga yang diungkapkan Ibu Legiyem,

 

“Suami saya tidak mampu jika harus menyemprot sawah seorang diri, anak saya semua merantau di kota. Sekarang mencari tenaga kerja juga sangat sulit, kalopun ada juga relatif mahal. Mau tidak mau saya ikut membantu suami saya menyemprot. Dengan alat semprot jerigen ini, meringankan sekali karena saya perempuan tidak sekuat laki- laki,” ungkapnya.

 

Beliau tidak bisa membayangkan, jika harus membawa sprayer 14 liter, apalagi sawahnya berada paling atas. Alat tersebut walaupun sangat sederhana dan murah tapi sangat membantu sekali. Meskipun harus berulang kali isi ulang karena kapsitasnya yang sangat kecil.

 

Menyadari hal tersebut, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., menyampaikan bahwa, beliau sangat mengapresiasi teknologi yang digunakan petani Desa Girimulyo. Teknologi yang rumit dan canggih tidak harus menjadi satu-satunya jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Justru, teknologi sederhana seringkali memberikan manfaat yang lebih efektif dan mampu menjembatani keterbatasan yang ada. ––

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung