Swasembada Pangan dan Musuh Dalam Selimut: Siapa yang Takut Petani Berdaulat?
Oleh: Sutoyo
___________________
Ketika Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa ada pihak yang tidak suka jika Indonesia swasembada pangan, itu bukan sekadar komentar politik biasa. Dibalik ucapannya terselip pengakuan yang jujur dan sekaligus tamparan keras tentang realitas pahit yang selama ini mungkin hanya dibisikkan di lorong-lorong seminar atau obrolan warung kopi: tidak semua orang senang jika petani kita maju.
Ya, memang tidak semua. Terutama bagi mereka yang sudah terlalu lama menikmati nyamannya duduk di atas kursi empuk bisnis impor pangan. Mereka yang membangun gudang-gudang besar, menjalin kontrak jangka panjang dengan kapal-kapal pengangkut, dan hidup dari selisih harga antara sawah tetangga dan pasar dalam negeri. Ketika Indonesia mulai bicara soal swasembada, yang paling panik bukan petani, melainkan broker-broker yang selama ini menjadikan "kekurangan pangan" sebagai narasi abadi demi meraup untung sampai triliunan.
Di Negeri Agraris, Petani Justru Tidak Dimerdekakan
Ironi besar terjadi di negeri yang konon kaya akan tanah yang sangat subur ini. Selama bertahun-tahun petani Indonesia seolah hidup di bawah bayang-bayang ancaman: seperti gagal panen, harga jatuh, pupuk langka, cuaca tak menentu dan lain sebagainya. Tapi ancaman yang paling berbahaya justru bukan itu. Ancaman terbesar adalah ketika petani harus bersaing dengan produk pangan yang diimpor secara besar-besaran—dengan harga yang lebih murah, dan masuk pasar dengan ‘karpet merah’ kebijakan.
Beras, jagung, gula, kedelai, hingga bawang putih... Hampir semua pernah kita impor, bahkan di tengah musim panen. Bukankah itu adalah pukulan telak bagi kedaulatan pangan?
Jika hari ini pemerintah menegaskan arah menuju swasembada pangan dalam kurun waktu 4–5 tahun ke depan, maka yang kita hadapi bukan hanya tantangan teknis pertanian, tetapi juga perlawanan diam-diam dari mereka yang merasa bisnisnya bakal terganggu.
Musuh Kita Bukan Hanya Asing, Tapi Juga Mereka yang Kebal terhadap Perubahan
Amran tak ragu menyebut: “Tidak ada satu pun negara luar yang ingin Indonesia swasembada pangan, terutama beras.” Pernyataan itu bisa jadi benar. Tapi yang lebih berbahaya adalah musuh dalam selimut—adalah mereka yang ber-KTP Indonesia, tapi pikirannya lebih tunduk pada kalkulator keuntungan.
Merekalah yang takut jika Indonesia benar-benar berdaulat pangan. Karena hal itu berarti:
Tidak ada lagi kuota impor yang bisa dimainkan.
Tidak ada lagi celah permainan harga.
Tidak ada lagi kesempatan ambil untung dari penderitaan petani.
Petani dan Penyuluh: Pahlawan Tanpa Plakat
Dalam pernyataannya, Menteri Amran juga mengucapkan terima kasih kepada para penyuluh, petani, dan kepala dinas yang menjadi garda terdepan pengurang impor. Barangkali ucapan ini adalah satu dari sedikit bentuk pengakuan terhadap kerja-kerja sunyi mereka. Tanpa sorot kamera, tanpa bonus diakhir tahun.
Mereka pantas disebut sebagai pahlawan pangan sejati. Bukan hanya karena menanam dan memanen, tapi karena mampu bertahan dalam sistem yang kadang tidak adil pada mereka.
Seorang penyuluh mungkin lebih tahu medan pertanian dibanding sebagian staf kementerian. Seorang petani lebih paham musim dibanding prediksi pasar. Tapi selama ini, suara mereka sering kalah oleh suara mereka yang duduk di balik meja tender impor.
Berani Swasembada = Berani Merdeka
Mendorong swasembada pangan bukan soal menutup keran impor sepenuhnya. Bukan pula soal isolasi ekonomi. Tapi ini soal keberanian memilih: apakah bangsa ini ingin mandiri ataukah akan terus dalam ketergantungan.
Tak dapat dipungkiri Swasembada pangan adalah pilihan politik yang sangat berisiko, karena mengguncang kenyamanan banyak orang yang selama ini menikmati sistem impor. Tapi jika kita tidak berani mengubah sekarang, maka petani kita akan terus kalah di ladangnya sendiri.
Mari bersama-sama merapatkan barisam kita jaga arah kebijakan ini. Jangan biarkan para ‘penjaga ketergantungan’ kembali menanamkan narasi bahwa petani kita tidak bisa diandalkan. Jangan biarkan suara petani dan penyuluh tenggelam di tengah gemuruhnya pelabuhan dan angka-angka impor.
Karena pada akhirnya bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak mengimpor. Tetapi bangsa yang paling bisa memberi makan dirinya sendiri.






