- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Surveilans Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kedu Lakukan Penelitian di Purwodadi, Ngombol, Loano dan Gebang

Pada Kamis 05 September 2024
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo bersama Tim dari
Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Wilayah Kedu melakukan surveilans di
beberapa Kecamatan yaitu di Kecamatan Purwodadi, Ngombol, Loano dan Gebang. Surveilans merupakan
kegiatan pengamatan dalam rangka mengumpulkan dan mencatat data tentang
dinamika populasi atau tingkat serangan OPT serta faktor – faktor yang
memengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. Di Kecamatan Purwodadi Tim dari
Lab PHP (Hagni Arati, Maya Adhasiwi dan Sudaryo) didampingi oleh Koordinato
POPT Wakhidatun Jamaliyah, POPT Wilayah Kerja Purwodadi Ruth Naftaly LS dan PPL
Kecamatan Purwodadi Sri Sukmowati melakukan surveilans ke lokasi yang
dilaporkan terserang OPT Penggerek Batang Padi serta terdampak kekeringan
akibat perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Di Desa Sumberrejo dan Desa
Nampu, pada masing-masing petak pengamatan sebanyak 15 rumpun padi secara acak
diperiksa untuk mendapat data OPT beserta intensitas serangannya, jumlah tunas serta jenis musuh
alaminya. Tanaman padi yang diamati masih berumur 80 HST varietas Ciherang
rata-rata memiliki tunas 20-30 tunas. Di Desa Sumberrejo OPT yang menyerang hampir
di semua rumpun sampel adalah beluk yaitu
malai mati dengan bulir hampa yang kelihatan
berwarna putih
dan tidak terisi disebabkan karena kerusakan pada pembuluh batang
padi oleh ulat penggerek batang padi. Serangan ini dapat menyebabkan penurunan
hasil 10-30%. OPT lainnya yang ditemukan adalah serangan cendawan/jamur Cercospora sp pada daun dan Helmintosporium sp pada bulir yang
menyebabkan bulir menjadi kuning kehitaman. Sedangkan, di Desa Nampu OPT yang menyerang hampir di semua rumpun sampel adalah Hawar
Daun Bakteri/Kresek yang disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas oryzae disamping Penggerek Batang/Sundep. Ditemukan
juga penetasan Wereng Batang Coklat
nimfa instar 2 dan 3. Pada musim sebelumnya di Desa Nampurejo memang
sudah terserang WBC dan dilakukan gerakan pengendalian masal dengan menggunakan
drone. Pengamatan secara rutin diperlukan untuk mengetahui kondisi tanaman
serta perlu atau tidaknya dilakukan pengendalian. Petani dirapkan tidak lengah
dan melakukan pengamatan secara rutin.
Pengendalian dengan menggunakan racun kimia sintetik secara berlebihan (tidak tepat
dosis/konsentrasi) atau tidak tepat sasaran dapat menyebabkan OPT menjadi
kebal/resisten. Disamping itu juga pengaplikasian pestisida dengan tidak
bijaksana sesuai dengan prinsip 6-Tepat (sasaran, dosis, jenis, waktu, cara,
mutu) dapat membunuh serangga yang
sebenarnya merupakan musuh alami dari hama seperti tomcat, laba-laba dan
capung. Rekomendasi yang diberikan adalah pada musim tanam selanjutnya agar
petani dalam berbudidaya menerapkan sistem jajar legowo untuk mengurangi
kelembaban, memudahkan pengamatan selain memudahkan perawatan dan pemeliharaan.
Kondisi tanaman yang terlalu rapat mendukung kondisi optimal bagi perkembangan
OPT baik hama maupun penyakit.
Kunjungan
selajutnya adalah melihat lokasi yang terserang kekeringan di Desa Karangmulyo,
Keduren serta Karangsari. Akibat perubahan iklim adalah kemarau ekstrim dimana
selama 3 (tiga) bulan petani mengalami kesulitan untuk melakukan pengairan.
Tanaman padi memang bukan tanaman air yang harus selalu digenangi akan tetapi
tanaman padi memerlukan air pada fase-fase pertumbuhannya. Upaya pompanisasi
sebenarnya telah dilakukan oleh petani akan tetapi ketersediaan air sepertinya
tidak mencukupi. Di masing-masing Desa Keduren dan Karangmulyo 2-3 Ha mengalami
kekeringan berat. Pemerintah sudah berupaya untuk memberi perlindungan melalui
program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk melindungi usaha budidaya petani.
Di Desa Karangsari seluas hampir 1 Ha tanaman padi yang memngalami puso akibat
kekeringan diajukan untuk mendapat penggantian melalui program ini. Besar
harapannya agar para petani dapat menerapkan budidaya tanaman yang tepat dan
sehat untuk memperoleh hasil yang optimal disamping untuk ikut serta dalam
program AUTP sebagai perlindungan usaha tani dari serangan OPT dan bencana
kekeringan/kebanjiran.
Penulis
: Ruth Naftaly LS, SP, MSc (POPT Wilyah Kerja Kecamatan Purwodadi)






