Surveilans Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kedu Lakukan Penelitian di Purwodadi, Ngombol, Loano dan Gebang

By DINPPKP 06 Sep 2024, 14:47:45 WIB Penyuluhan
Surveilans Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kedu Lakukan Penelitian di Purwodadi, Ngombol, Loano dan Gebang

Pada Kamis 05 September 2024 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo bersama Tim dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Wilayah Kedu melakukan surveilans di beberapa Kecamatan yaitu di Kecamatan Purwodadi, Ngombol, Loano dan Gebang. Surveilans merupakan kegiatan pengamatan dalam rangka mengumpulkan dan mencatat data tentang dinamika populasi atau tingkat serangan OPT serta faktor – faktor yang memengaruhinya pada waktu dan tempat tertentu. Di Kecamatan Purwodadi Tim dari Lab PHP (Hagni Arati, Maya Adhasiwi dan Sudaryo) didampingi oleh Koordinato POPT Wakhidatun Jamaliyah, POPT Wilayah Kerja Purwodadi Ruth Naftaly LS dan PPL Kecamatan Purwodadi Sri Sukmowati melakukan surveilans ke lokasi yang dilaporkan terserang OPT Penggerek Batang Padi serta terdampak kekeringan akibat perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Di Desa Sumberrejo dan Desa Nampu, pada masing-masing petak pengamatan sebanyak 15 rumpun padi secara acak diperiksa untuk mendapat data OPT beserta intensitas  serangannya, jumlah tunas serta jenis musuh alaminya. Tanaman padi yang diamati masih berumur 80 HST varietas Ciherang rata-rata memiliki tunas 20-30 tunas. Di Desa Sumberrejo OPT yang menyerang hampir di semua rumpun sampel adalah beluk  yaitu malai mati dengan bulir hampa yang kelihatan berwarna putih dan tidak terisi disebabkan karena kerusakan pada pembuluh batang padi oleh ulat penggerek batang padi. Serangan ini dapat menyebabkan penurunan hasil 10-30%. OPT lainnya yang ditemukan adalah serangan cendawan/jamur Cercospora sp pada daun dan Helmintosporium sp pada bulir yang menyebabkan bulir menjadi kuning kehitaman. Sedangkan, di Desa Nampu  OPT yang menyerang hampir di semua rumpun sampel adalah Hawar Daun Bakteri/Kresek yang disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas oryzae disamping Penggerek Batang/Sundep. Ditemukan juga penetasan Wereng Batang Coklat  nimfa instar 2 dan 3. Pada musim sebelumnya di Desa Nampurejo memang sudah terserang WBC dan dilakukan gerakan pengendalian masal dengan menggunakan drone. Pengamatan secara rutin diperlukan untuk mengetahui kondisi tanaman serta perlu atau tidaknya dilakukan pengendalian. Petani dirapkan tidak lengah dan melakukan pengamatan secara rutin.  Pengendalian dengan menggunakan racun kimia sintetik  secara berlebihan (tidak tepat dosis/konsentrasi) atau tidak tepat sasaran dapat menyebabkan OPT menjadi kebal/resisten. Disamping itu juga pengaplikasian pestisida dengan tidak bijaksana sesuai dengan prinsip 6-Tepat (sasaran, dosis, jenis, waktu, cara, mutu) dapat  membunuh serangga yang sebenarnya merupakan musuh alami dari hama seperti tomcat, laba-laba dan capung. Rekomendasi yang diberikan adalah pada musim tanam selanjutnya agar petani dalam berbudidaya menerapkan sistem jajar legowo untuk mengurangi kelembaban, memudahkan pengamatan selain memudahkan perawatan dan pemeliharaan. Kondisi tanaman yang terlalu rapat mendukung kondisi optimal bagi perkembangan OPT baik hama maupun penyakit.

Kunjungan selajutnya adalah melihat lokasi yang terserang kekeringan di Desa Karangmulyo, Keduren serta Karangsari. Akibat perubahan iklim adalah kemarau ekstrim dimana selama 3 (tiga) bulan petani mengalami kesulitan untuk melakukan pengairan. Tanaman padi memang bukan tanaman air yang harus selalu digenangi akan tetapi tanaman padi memerlukan air pada fase-fase pertumbuhannya. Upaya pompanisasi sebenarnya telah dilakukan oleh petani akan tetapi ketersediaan air sepertinya tidak mencukupi. Di masing-masing Desa Keduren dan Karangmulyo 2-3 Ha mengalami kekeringan berat. Pemerintah sudah berupaya untuk memberi perlindungan melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk melindungi usaha budidaya petani. Di Desa Karangsari seluas hampir 1 Ha tanaman padi yang memngalami puso akibat kekeringan diajukan untuk mendapat penggantian melalui program ini. Besar harapannya agar para petani dapat menerapkan budidaya tanaman yang tepat dan sehat untuk memperoleh hasil yang optimal disamping untuk ikut serta dalam program AUTP sebagai perlindungan usaha tani dari serangan OPT dan bencana kekeringan/kebanjiran.

Penulis : Ruth Naftaly LS, SP, MSc (POPT Wilyah Kerja Kecamatan Purwodadi)

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung