- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
SOLUSI PUPUK MAHAL, BPP BANYUURIP ADAKAN PEMBINAAN PETANI

PEMBINAAN PETANI “SOLUSI PUPUK MAHAL”
Camat Banyuurip menyampaikan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat menguntungkan bagi semua orang. Apalagi berbagai data mengatakan bahwa sektor ini merupakan sektor yang paling kuat dan tumbuh tinggi ditengah goncangan pandemi covid, pada kegiatan Pembinaan Petani di Desa Pakisrejo Banyuurip (13 Desember 2022). Saat ini petani sedang dihadapkan pada masa yang sangat sulit, yaitu pupuk mahal. Padahal petani sudah sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia yang dirasa mudah aplikasinya dan cepat memberikan dampak pada tanaman. Pertanian sudah menjadi budaya yang turun temurun dari nenek moyang, sehingga meskipun pupuk mahal maka petani tetap akan Bertani.
Terkait pupuk, pasti terkait kebutuhan makhluk hidup, seluruh makhluk hidup butuh oksigen dan harus selalu ada. Kebutuhan makhluk selanjutnya adalah nutrisi/makanan, semua perlu makanan, makanan manusia disebut pangan, makanan tumbuhan disebut unsur hara. Jadi pangannya untuk tanaman itu unsur hara, haranya untuk manusia adalah bahan pangan.
Kebutuhan pupuk nasional mencapai 24 juta ton. Sementara yang tersedia saat ini hanya sembilan juta ton. Dari sekian banyaknya pupuk, bahan utamanya merupakan unsur fosfat yang sebagian besar dari Rusia Ukraina. Pupuk ini memang bukan langka tapi kurang. Kenaikan harga bahan baku pupuk di tingkat Internasional berdampak pada peningkatan harga pupuk di dalam negeri. Oleh karena itu, kita harus bekerja lebih dan semakin berinovasi.
Sri Lastuti selaku Koordinator BPP Banyuurip menyampaikan bahwa Dampak Perang Rusia-Ukraina dirasakan oleh para petani kita yaitu pupuk menjadi mahal. Hal ini terjadi karena bahan baku pupuk seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena perang keduanya. Oleh karena itu marilah dengan keadaan inilah penggunaan pupuk organik harus dimasifkan.
Hal penting selanjutnya adalah petani harus yakin bahwa bertani konsep organik tersebut mempunyai peluang yang sangat baik. selama ini terdapat sebuah stigma yang membuat kepercayaan diri para petani hilang. Mereka tidak yakin bahwa tanamannya akan tumbuh dengan baik jika tidak di pupuk urea di dalam tanah tersebut. Jadi paradigma ini yang harus dibereskan, mengembalikan kepercayaan petani dan ini juga akibat revolusi hijau yang membuat petani lebih berpikir instan dari pada mengelola pupuk sendiri.
Pupuk organik dapat menjadi alternatif bagi petani. Petani tidak mungkin berhenti menanam karena pupuk sulit didapat, solusinya adalah beralih kepertanian organik dengan memanfaatkan potensi alam yang ada disekitar kita, dan ini sudah kita buktikan dibeberapa demplot, mereka berhasil walaupun ini bukan hal mudah, Diperlukan lima tepat dalam penggunaan pupuk yaitu tepat jenis dalam menentukan jenis pupuk, tepat dosis sesuai sesuai dengan status hara tanah, tepat waktudengan disesuaikan kapan tanaman membutuhkan asupan, tepat bentuk dengan formula sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman, tepat cara pada saat pemupukan.
Pemupukan berimbang harus dilakukan petani yaitu pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kesuburan tanah agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah sehingga tercapai keadaan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanah. Boleh menggunakan pupuk kimia, tapi dengan ketentuan tidak berlebihan atau mengikuti konsep pemupukan berimbang,
Ada salah satu Gerakan Tani Pro Organik yang disebut Genta Organik merupakan suatu gerakan pertanian organik yang meliputi pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati, pembenah tanah dan pemupukan berimbang sebagai solusi terhadap masalah pupuk mahal. Gerakan ini akan mendorong petani untuk memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri.
Tujuan Genta Organik adalah menyuburkan tanah untuk meningkatkan produksi pertanian di saat harga pupuk mahal, menerapkan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan, menekan biaya produksi pertanian dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia. menyuburkan tanah, yang pada akhirnya mendukung terwujudnya Swasembada Pangan Nasional dan Kedaulatan Pangan Nasional
Mari kita budayakan Solusi pupuk mahal melalui gerakan tingkatkan efisiensi pemupukan dengan pemupukan berimbang, gunakan pupuk organik (kompos), gunakan pupuk hayati (Mikro Organisme Lokal) dan gunakan pembenah tanah (biochar/arang) dengan memanfaatkan sumber daya alam dilingkungan petani yang cukup melimpah. Jerami yang melimpah kita budayakan untuk Kembali ke lahan sawah,karena Jerami mengandung unur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.
Pemerintah desa bisa mengambil kebijakan dengan mengalokasikan dana untuk menyediakan alat atau teknologi berupa mesin untuk mempermudah pengolahan pupuk organik. Di samping itu perlu dilakukan berbagai pelatihan dan sosialisasi terkait konsep pertanian organik.agar petani menggunakan pupuk alami. Pupuk organik sangat dibutuhkan selain karena pupuk subsidi yang ada saat ini jumlahnya sangat terbatas. Sudah saatnya kita tingkatkan peran serta kita untuk selamatkan alam dengan Kembali ke alam.
Kontributor :Sri Lastuti, SP – Koordinator BPP Banyuurip






