SOLUSI PERTANIAN BERKELANJUTAN, PEMDES KROYOKULON RINTIS BENTUK LABORATORIUM KLINIK PHT

By DINPPKP 08 Jan 2025, 09:09:29 WIB Penyuluhan
SOLUSI PERTANIAN BERKELANJUTAN, PEMDES KROYOKULON RINTIS BENTUK LABORATORIUM KLINIK PHT

SOLUSI PERTANIAN BERKELANJUTAN, PEMDES KROYOKULON RINTIS BENTUK LABORATORIUM KLINIK PHT

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Pemerintah Desa (Pemdes) Kroyokulon terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui inovasi dan pelatihan. Dalam langkah terbarunya, Pemdes Kroyokulon merintis pembentukan Laboratorium Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan menyelenggarakan pelatihan Nitrobacter bagi masyarakat petani setempat. Acara tersebut berlangsung pada hari Selasa (7/1/2025) dan dihadiri oleh Kepala Desa Kroyokulon, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Penyuluh Wibi, Ketua Kelompok Tani dan berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya Kepala Desa Kroyokulon, Dwi Ratmoko, menyampaikan bahwa ide merintis Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) ini sebagai langkah strategis yang sangat relevan untuk menjawab tantangan pertanian yang dihadapi oleh masyarakat desa Kroyokulon. Mayoritas penduduk Desa Kroyokulon menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, dan kami memahami bahwa permasalahan hama menjadi salah satu kendala utama yang mengurangi produktivitas hasil pertanian.

“Saya percaya, Klinik PHT tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi juga sebagai gerakan bersama untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, kita dapat meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya dan menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus meningkatkan hasil produksi dan kualitas pertanian desa,” ungkapnya.

Selain itu, pelatihan pembuatan Nitrobacter yang diadakan bersamaan dengan inisiatif ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada petani tentang pemanfaatan bakteri Nitrobacter dalam meningkatkan kesuburan tanah. Nitrobacter dikenal sebagai mikroorganisme yang berperan penting dalam siklus nitrogen, membantu menguraikan senyawa nitrit menjadi nitrat yang berguna bagi tanaman.

Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk mendukung para petani dalam meningkatkan hasil pertanian sekaligus menjaga kesuburan tanah. Klinik PHT (Pengendali Hama Terpadu) adalah kelembagaan tingkat petani dengan salah satu tugasnya yaitu memperbanyak APH (Agensia Pengendali Hayati). Di klinik PHT ini petani akan diajari cara memperbanyak APH dan juga dijadikan tempat konsultasi. Keberadaan klinik PHT ini, diharapkan mampu memberikan dampak positif kepada petani melalui transfer pengetahuan dan keterampilan tentang cara perbanyakan APH.

“Dengan adanya laboratorium ini, kita berharap petani dapat lebih mandiri dalam mengatasi masalah hama dan penyakit tanaman. Selain itu, pelatihan pembuatan nitrobacter ini sangat penting untuk memperkenalkan pupuk organik yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Bapak Sugiyo, selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Kemiri, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya inovasi dalam bidang pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan. Beliau juga menjelaskan secara rinci proses pembuatan Nitrobacter. Nitrobacter adalah bakteri yang bermanfaat untuk meningkatkan kadar nitrogen dalam tanah, sehingga dapat memperbaiki kualitas tanaman secara alami. Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak untuk mempraktekkan langsung cara mencampur bahan-bahan organik yang mudah ditemukan di sekitar desa.

"Penggunaan nitrobacter merupakan salah satu langkah inovatif yang dapat membantu petani dalam meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Bakteri ini berperan dalam proses fiksasi nitrogen, yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Melalui pelatihan ini, kami berharap para petani dapat memahami cara membuat dan menggunakan nitrobacter sebagai alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia," papar Bapak Sugiyo.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara bijaksana.

"Saya mengajak seluruh peserta untuk mempraktekkan ilmu yang didapat hari ini di lahan masing-masing, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung. Mari kita bersama-sama mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan," tambahnya.

Sementara itu, Penyuluh Wibi Desa Kroyokulon, Whisnu Agung Nugraha, SP., juga menyampaikan bahwa salah satu teknologi berbasis ramah lingkungan yang bisa diterapkan oleh petani yaitu pembuatan bakteri pengikat nitrogen atau disebut nitrobacter. Teknologi ini dipilih karena tidak membutuhkan alat dan bahan yang sulit dicari sehingga mempermudah petani.

“Adapun manfaat dari pembuatan bakteri pengikat nitrogen ini, diantarnya memfiksasi nitrogen, merombak racun dalam tanah, menyediakan unsur hara dari bahan alami, dari segi ekonomi mampu memperkecil biaya pengeluaran untuk membeli pupuk kimia sehingga mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia,” ungkapnya lagi.

Dia menegaskan, untuk mempraktekkan pembuatan nitrobacter di rumah, petani hanya membutuhkan beberapa alat dan bahan yang cukup sederhana, diantaranya tanah di bawah kandang apa saja (paling baik kotoran unggas karena unggas tidak buang air kecil), gula atau tetes tebu sebagai makanan bakteri, urea untuk menyediakan nitrogen agar bisa berkembang biak dan air sebagai pelarut sebanyak 1 liter.

“Untuk proses pembuatannya juga sangat mudah, pertama siapkan botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter, masukkan air 1 liter agar 0,5 liter jadi ruang udara. Masukkan gula 3 sdm, tutup dan kocok larutan pertama serta kedua sampai larut sempurna. Masukkan urea 3 sdm, tutup rapat kemudian kocok hingga campurannya larut sempurna. Masukkan tanah kandang 3 sdm, tutup rapat dan kocok kembali sampai larut dan difermentasi secara aerob selama 10 hari di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung,” jelas beliau.

Sejalan dengan itu, Whisnu menegaskan bahwa tujuan pencampuran urea dan gula, supaya memunculkan nitrobacter karena dalam tanah ada banyak sekali mikroba. Patokan keberhasilan pembuatan larutan ini adalah adanya bau yang menyengat, berarti nitrobacter siap digunakan. Menariknya, penggunaannya juga sangat hemat, dengan takaran 1 liter nitrobcter bisa dicampurkan dengan 17 liter air. Penggunaannya juga bisa di semua tanaman, murah, bahan dari alam, mudah didapat dan tentunya menekan cost pengeluaran.

Para petani yang hadir menyambut baik program ini. Tidak hanya para petani, tetapi juga para pemuda dan kelompok wanita tani turut serta mengikuti pelatihan dengan penuh semangat. Salah satu peserta, Ibu Anik, menyampaikan rasa syukurnya atas inisiatif ini.

"Kami jadi tahu cara mengelola hama dengan cara yang lebih baik, dan pelatihan pembuatan Nitrobacter ini membuka wawasan baru untuk membuat tanah kami lebih subur," katanya.

Acara diakhiri dengan praktek langsung pembuatan bakteri pengikat nitrogen atau nitrobacter. Dengan keberadaan laboratorium dan keterampilan baru yang diperoleh dari pelatihan ini, diharapkan Desa Kroyokulon dapat menjadi contoh bagi desa- desa lain dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.

Inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar Pemdes Kroyokulon untuk menjadikan desanya sebagai sentra pertanian modern yang berdaya saing tinggi. Dengan dukungan penuh dari masyarakat dan pihak terkait, Laboratorium Klinik PHT dan teknologi Nitrobacter diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pertanian di Desa Kroyokulon.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung