- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Semangat Rukun Tani : Dari Tantangan Tembakau ke Harapan Cabe

Semangat Rukun Tani : Dari Tantangan Tembakau ke Harapan Cabe
Oleh : Sutoyo
________
Gowong, Bruno, 3 Oktober 2025. __Suasana siang itu di lahan Kelompok Tani (KT) Rukun Tani Desa Gowong tampak berbeda. Setelah kurang lebih tiga bulan disibukkan dengan tanam tembakau yang penuh dengan tantangan, kini para petani mulai menyiapkan bedengan untuk calon pertanaman cabe rawit dengan rencana luasan mencapai 2000 meter persegi.
Disela kerja menyiapkan bedengan mereka duduk beristirahat sejenak, menikmati bekal sederhana sambil bertukar canda dan cerita. Kebersamaan dan kekompakan itu terlihat cukup jelas. Beberapa petani duduk melingkar, sebagian menyulut rokok lintingan dengan tembakau asli dari tanaman mereka, ada pula yang sekadar menyeruput air dari botol bekas minuman. mineral. Meski sederhana suasana kekeluargaan inilah yang menjadi kekuatan utama Kelompok Tani Rukun Tani.
Musim tanam tembakau yang baru saja selesai menjadi pengalaman yang tak akan dilupakan. Bagi sebagian besar anggota, itulah untuk kali pertama mereka mencoba menanam tembakau. Tantangannya tidak main-main : pengalaman nol, cuaca yang sulit diprediksi, biaya operasional yang tidak kecil, dan pengetahuan yang masih terbatas. Namun berkat kekompakan dan kerja keras, tantangan demi tantangan itu bisa dilalui dengan selamat.
“Hampir tiap hari kita diskusi di lahan. Kadang bingung, tapi akhirnya bisa juga. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan,” ujar Mambangil salah satu anggota dengan senyum bangga.
Keberhasilan menanam tembakau itu seakan menjadi batu pijakan. Bukan hanya soal hasil panen, tetapi lebih pada semangat dan keyakinan bahwa dengan gotong royong, semua bisa dilalui.
Kini modal semangat itu mereka bawa ke musim tanam berikutnya yaitu cabe rawit. Luasan 2000 meter persegi yang sudah mulai digarap, diharapkan akan menjadi lahan produktif yang memberi tambahan penghasilan bagi anggota kelompok.
Berbeda dengan tembakau, kali ini Rukun Tani memiliki modal pengalaman yang lebih kuat. Salah satu anggota Fathkul Rizal, sudah lebih dari dua tahun menggeluti budidaya cabe rawit. Pengetahuan dan pengalamannya menjadi bekal penting bagi anggota lain yang masih baru.
“Kalau tembakau kemarin kita banyak coba-coba, sekarang ada Rizal yang sudah tahu seluk-beluk cabe rawit. Jadi jelas kami lebih optimis,” ungkap ketua kelompok Muh Patah.
Pilihan komoditas cabe rawit setelah tembakau bukan tanpa alasan. Komoditas ini relatif cepat panen, memiliki pasar yang stabil, dan bisa menjadi alternatif sumber pendapatan yang menjanjikan. Meskipun harga cabe rawit terkenal fluktuatif, semangat dan strategi bersama diharapkan mampu meminimalkan risiko.
Tampak para petani yang tengah duduk istirahat di bedengan tersimpan makna besar. Kekompakan dan kebersamaan bukan hanya terlihat saat mereka memegang cangkul, tetapi juga saat berbagi bekal, minum, atau sekadar bercanda. Kekompakan inilah yang menjadi modal utama. Mereka sadar, modal uang bisa habis, modal lahan bisa terbatas, tetapi modal kebersamaan akan selalu memperkuat langkah.
“Kalau kerja bareng, capeknya nggak terasa. Malah jadi ringan,” ujar seorang anggota sambil tersenyum.
Perjalanan Kelompok Rukun Tani Desa Gowong adalah cermin perjalanan petani kecil dibanyak desa. Mereka menghadapi tantangan cuaca, keterbatasan biaya, hingga ketidakpastian harga. Namun dibalik semua itu, ada optimisme yang terus tumbuh. Dari pengalaman pertama menanam tembakau yang penuh peluh, kini mereka melangkah ke cabe rawit dengan lebih percaya diri. Bagi mereka, setiap musim tanam bukan hanya soal mencari hasil, tetapi juga soal belajar, beradaptasi, dan menjaga semangat gotong royong.
Seperti bedengan yang kini tertata rapi, harapan itu pun mulai disemai. Harapan bahwa cabe rawit akan tumbuh subur, panen melimpah, dan kesejahteraan anggota kelompok semakin meningkat. Dan diatas segalanya, ada satu pelajaran yang tak tergantikan: semangat rukun. Dari tantangan tembakau, kini menuju harapan cabe.






