- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
SANGAT MUDAH, PETANI DESA AGLIK, GRABAK PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
SANGAT MUDAH, PETANI DESA AGLIK, GRABAK
PRAKTEK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK
GRABAG NEWS – Kecamatan Grabag merupakan wilayah yang memiliki potensi besar untuk budidaya tanaman padi dan tentu saja banyak membutuhkan prasarana yang mumpuni agar menghasilkan padi yang optimal, salah satunya yaitu pupuk. Sudah diketahui bersama, semenjak pemerintah mengurangi subsidi pupuk, kuota pupuk untuk petani juga ikut berkurang. Hal ini jangan dijadikan sebagai ancaman, justru bisa kita jadikan peluang untuk kembali ke alam yaitu dengan penggunaan pupuk organik.
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Pendamping Desa Aglik, Sudarwati, SP., selaku narasumber pada pertemuan ke 8 Sekolah Lapang Padi di Desa Aglik, Kecamatan Grabag pada Selasa (13/06/2023) di Balai Kemasyarakatan Desa Aglik.
“Pupuk organik diartikan sebagai pupuk yang berasal dari penguraian bahan- bahan organik di alam seperti tanaman atau hewan. Pupuk ini umumnya bisa berbentuk padat maupun cair tergantung dari bagaimana mengolahnya”, ungkap beliau mengawali penyampaian materi.
Beliau juga menambahkan, jika sawah selalu dipupuk kimia terus menerus tanpa diimbangi dengan pupuk organik maka tanah sawah akan semakin padat dan tentu saja menyulitkan saat pengolahan tanah di musim tanam berikutnya. Tanah yang semakin padat akan membutuhkan pupuk yang semakin banyak pula dengan biaya yang tidak sedikit.
“Pemberian pupuk organik sangat bermanfaat bagi tanah maupun tanaman. Bagi tanah, pupuk organik akan memperbaiki sifat fisik, kima dan biologi. Sedangkan bagi tanaman, tanaman yang dipupuk organik lebih aman, lebih sehat untuk dikonsumsi dan harganya lebih mahal”, imbuhnya lagi.
Turut hadir dalam acara tersebut 20 orang peserta Sekolah Lapang Padi Desa Aglik yang terdiri dari 15 peserta laki- laki dan 5 peserta perempuan.
Acara dilanjutkan dengan pengamatan di areal sawah. Adapun yang diamati tentang kondisi tanah dan tanaman yang nantinya akan dipresentasikan setelah masuk kelas. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa pH tanah sawah tersebut sekitar 4 – 5 yang menunjukkan bahwa tanah tersebut tergolong tanah masam. Tanah masam bukan hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga belum tepatnya pemupukan. Pemupukan dengan pupuk yang mengandung nitrogen seperti urea secara terus menerus akan menyebabkan tanah menjadi masam. Demikian juga dengan pemberian pupuk organik yang belum terdekomposisi secara sempurna sehingga berpotensi terbentuknya asam.
“Antara satu jenis tanaman dengan tanaman yang lain tidak sama tingkat toleransi keasaman (pH). Ada yang bisa hidup pada tanah masam dengan pH 4 – 5 dan ada juga yang tumbuh subur jika keasaman tanah pada kisaran 6-8. Namun, secara umum tanaman dapat menyerap unsur-unsur hara yang tersedia di dalam tanah pada pH 6 – 7 (mendekati netral). Pada tanah yang digunakan untuk media tanam dengan pH mendekati netral, unsur hara makro dan mikro tersedia untuk tanaman. Namun, pada tanah masam, unsur hara makro tidak tersedia. Sebaliknya, unsur hara mikro seperti Fe, Mn, dan lainnya tersedia dalam banyak, tapi menjadi racun bagi tanaman.”, ujarnya.
Untuk menaikkan pH tanah ke kondisi netral, salah satunya dengan penggunaan pupuk organik. Cara ini dianggap paling mudah dan murah. Untuk membuat pupuk organik, Anda bisa memanfaatkan sisa- sisa sampah alami yang ada di sekitar lingkungan rumah kita, diantaranya dedaunan, rumput, sisa makanan busuk dan kotoran dari hewan peliharaan. Selain bahan tersebut, perlu ditambahkan bahan lain untuk mempercepat proses dekomposisinya diantaranya; dedak, kapur dolomit, EM4, tetes tebu dan air secukupnya. Adapun alat yang diperlukan cangkul, ember dan terpal sebagai penutup. Cara pembuatannya dengan menumpuk bahan yang terdiri dari kotoran hewan, dedak dan seresah, taburi dengan kapur dolomit lalu sirami dengan larutan starter. Ulangi cara tersebut sampai tumpukan minimal 1 meter.
Setelah materi dan hasil pengamatan sawah selesai disampaikan, acara dilanjutkan dengan praktek pembuatan pupuk organik. Peserta dibagi menjadi 5 kelompok kecil, masing- masing kelompok mempunyai tugas sendiri dalam pembuatan pupuk organik ini. Ada yang bertugas mencacah seresah, membuat larutan EM4 dan ada yang bertugas mengaduk kotoran hewan dan dedak.
“Setelah semua bahan diolah segera tutup dengan terpal dan diletakkan di tempat yang teduh yang tidak terkena matahari langsung dan hujan. Nanti setiap 1 minggu sekali masing- masing kelompok untuk melakukan pengamatan sekaligus membalik bahan pupuk dan jika bahan terlalu kering bisa ditambahkan air untuk menjaga kelembaban bahan pupuk", tegasnya lagi.
Menurut beliau lagi, setelah kurang lebih 4 minggu pupuk organik siap untuk digunakan. Untuk mempermudah dalam penggunaan perlu dilakukan pengayakan. Adapun ciri pupuk organik yang telah jadi, yang pertama jika digengam bahan tidak terasa hangat atau panas, volume bahan menyusut 50 – 60% dari bahan awal, pupuk organik yang berkualitas berwarna coklat kehitaman, berbau menyerupai tanah dan pH netral.






