- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Rukun Tani Gowong Terapkan Pertanian Organik In-Situ, Manfaatkan Rumput dan Limbah Tembakau

Rukun Tani Gowong Terapkan Pertanian Organik In-Situ, Manfaatkan Rumput dan Limbah Tembakau
Oleh : Sutoyo
___________
Gowong, Bruno, 14 Oktober 2025— Ditangan petani kreatif tidak ada limbah yang benar-benar menjadi sampah tak berguna. Itulah prinsip yang kini dipegang teguh oleh Kelompok Tani Rukun Tani Desa Gowong, Kecamatan Bruno, yang tengah mencoba menerapkan teknik pertanian organik in-situ dengan memanfaatkan rumput liar, gulma, dan limbah sisa tanaman tembakau menjadi pupuk organik padat untuk pembuatan bedengan calon tanaman cabai rawit.
Langkah ini lahir dari kesadaran petani untuk menekan biaya produksi, meningkatkan kesuburan tanah, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Usai musim panen tembakau petani dihadapkan pada tumpukan limbah berupa batang, akar, daun kering dan rumput liar. Dulunya limbah semacam itu dikumpulkan dan kemudian dibakar begitu saja untuk membersihkan lahan, namun saat ini tidak lagi dilakukan. Kini Poktan Rukun Tani melihat peluang lain bahwa limbah tersebut langsung dimanfaatkan menjadi bahan organik berharga bagi lahan.
“Daripada dibakar, lebih baik kami olah kembali ke tanah,” ungkap salah satu anggota kelompok yang tengah menata bedengan cabai.
Batang tembakau memiliki kandungan karbon tinggi, sementara daun dan gulma kaya akan nitrogen. Jika dikombinasikan dengan benar dan dibantu oleh mikroba pengurai maka keduanya dapat menghasilkan pupuk organik alami yang mampu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Alih-alih membuat kompos diluar lahan, petani Rukun Tani memilih metode in-situ composting — yaitu sistem pengomposan langsung didalam bedengan tanam.
Dengan bantuan bakteri dekomposter diharapkan dalam waktu yang relatif singkat, bahan-bahan tersebut segera terurai menjadi humus gelap yang kaya nutrisi dan mikroorganisme sehinga siap menjadi media tanam cabai rawit. Dengan metode ini petani juga menghemat biaya pembelian pupuk kandang hingga 40%, karena bahan organik sepenuhnya diambil dari limbah ladang sendiri.
Duwi Hartoto, S.ST selaku koordinator BPP Bruno yang berkesempatan meninjau langsung mendukung penuh upaya yang dilakukan oleh Kelompok Tani Rukun Tani ini. Menurutnya metode ini sangat cocok diterapkan di wilayah dataran tinggi seperti Gowong, karena mampu memperbaiki daya ikat air dan menjaga kelembapan tanah lebih lama.
“Setiap kali petani menambahkan bahan organik dari limbahnya sendiri, itu seperti menabung kesuburan tanah untuk musim berikutnya,” imbuhnya sembari memberikan semangat.
Hasil Penelitian dari Universitas Sebelas Maret (Setyoningrum, 2024), menunjukkan bahwa penggunaan aktivator hayati EM4 dapat mempercepat waktu dekomposisi bahan organik dari 3 bulan menjadi 4–6 minggu, tanpa mengurangi kadar unsur hara utama. Sementara laporan Kompas (2023), menyebutkan bahwa rumput liar memiliki kandungan nitrogen tinggi dan sangat baik sebagai bahan hijau kompos, terutama jika dikombinasikan dengan bahan kering untuk menyeimbangkan rasio karbon-nitrogen.
Selain itu, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/Permentan/SR.140/10/2011 menegaskan bahwa limbah tanaman, termasuk sisa tembakau, sah digunakan sebagai bahan pupuk organik setelah melalui proses pengomposan.
Apa yang dilakukan oleh Poktan Rukun Tani Desa Gowong bukan sekedar inovasi teknis, tetapi juga bentuk nyata kesadaran ekologis.
Dengan memanfaatkan limbah pertanian yang ada di sekitar, mereka bukan hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembakaran limbah. Langkah ini tentunya sejalan dengan konsep pertanian organik berkelanjutan, dimana keseimbangan antara tanah, tanaman, dan mikroorganisme dijaga secara alami.
“Kami tidak ingin tanah hanya jadi tempat tanam, tapi juga tempat hidup,” kata salah satu petani sembari tersenyum.






