RECHECKING LOMBA KARANG PANDAN KWT NURUL HIDAYAH, KEMIRIKIDUL BERBENAH DIRI

By DINPPKP 04 Jul 2024, 10:42:36 WIB Penyuluhan
RECHECKING LOMBA KARANG PANDAN KWT NURUL HIDAYAH, KEMIRIKIDUL BERBENAH DIRI

RECHECKING LOMBA KARANG PANDAN KWT NURUL HIDAYAH, KEMIRIKIDUL BERBENAH DIRI

KEMIRI KEREN NEWS –– Lomba Karang Pandan (Pemanfaatan Pekarangan untuk Pangan dan Pendapatan) sebenarnya pengejawantahan program Gertak Karang (Gerakan Serentak Pemanfaatan Pekarangan) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang merupakan implementasi dari program unggulan Bupati dalam RPJM 2021-2026 terkait “Purworejo Tuwuh Ngunduh” dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan.

Selasa 2 Juli 2024 (2/7/2024), bertempat di sekretariat, KWT Nurul Hidayah Desa Kemirikidul adakan rechecking lomba karang pandan.

Turut hadir Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., Penyuluh Wibi Kemirikidul, Afni Rositawati, SPt, dan anggota KWT Nurul Hidayah.

Dalam sambutannya, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri menyampaikan bahwa selama ini potensi pekarangan memang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Lomba Karang Pandan memiliki tujuan untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang belum optimal agar lebih memiliki nilai ekonomi dan produktif. Hal tersebut dapat diterapkan dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran komersil (bernilai jual) yang cepat panen, seperti cabai, terong, dan sayuran lainnya,” jelasnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa pangan adalah kebutuhan dasar dari setiap makhluk hidup di dunia yang tidak dapat ditunda, karena itu beliau berharap melalui kegiatan lomba pemanfaatan pekarangan ini dapat mendorong kesadaran masyarakat terhadap potensi- potensi di lingkungan sekitar, sehingga dapat meningkatkan kemandirian pangan dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai pemenuhan gizi keluarga.

“Daripada lahan pekarangan dibiarkan begitu saja, alangkah baiknya dikelola untuk menanam sayuran, pangan lokal, memelihara ternak dan ikan. Secara ekologi, pekarangan juga memberikan layanan ekosistem, seperti menyediakan udara bersih, menahan erosi tanah, dan menjaga sistem hidrologi,” tambahnya lagi.

Hal senada juga dikatakan oleh Ketua KWT Nurul Hidayah, Isti Rahmani yang sudah mempraktekkan pemanfaatan pekarangan di rumahnya. Ia mengelola pekarangan dengan menanam tanaman untuk sayuran, budidaya ikan lele, ternak ayam, serta pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik.

“Dengan bertani di pekarangan, ada sejumlah manfaat yang diperoleh. Selain sebagai sumber pangan keluarga, juga berpotensi menjadi sumber penghasilan. Fungsi lain, seperti estetika, sosial, dan keamanan lingkungan pun terpenuhi,” tandasnya lagi.

Sebelumnya Isti Rahmani, menyampaikan bahwa KWT Nurul Hidayah ketiban sampur ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Kemiri dalam rangka lomba "Karang Pandan". Sehingga persiapan demi persiapan pun mulai dilakukan. Salah satunya memelihara tanaman-tanaman yang ada lingkungan sekitar, utamanya di pekarangan rumah.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada KWT Nurul Hidayah. Kepercayaan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan prestasi yang lebih baik lagi. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, terutama kepada para wanita hebat ibu- ibu anggota KWT Nurul Hidayah,” ucap beliau mengakhiri sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama, Penyuluh Wibi Kemirikidul, Afni Rositawati, SPt memaparkan, untuk penilaian lomba, selain dari kondisi pekarangan tak luput dari penilaian yaitu tentang tertib administrasi. Buku administrasi seperti buku kas, buku notulen, daftar hadir, buku tamu dan lainnya harus lengkap dan tercatat secara rapi.

“Kemungkinan yang bisa terjadi kalau tidak melakukan pencatatan yaitu lupa, terjadi kesalahpahaman, saling menyalahkan, kalau skala usaha tidak tahu apakah usahanya untung atau rugi, bisa terjadi pemborosan dan bisa ditipu orang,” tandasnya.

Beliau juga menegaskan bahwa, banyak manfaat yang akan kita peroleh jika tertib dalam mencatat, antara lain; untuk mengingat kembali tentang sesuatu hal, untuk menilai dan mengetahui perkembangan usaha, sebagai alat bukti dan sebagai dokumen. Adapun untuk penilaian dari pemanfaatan pekarangannya, jenis tanaman yang ditanam harus memenuhi unsur dari lumbung hidup, warung hidup dan apotik hidup serta peningkatan pendapatan.

“Lumbung hidup adalah pekarangan yang ditanami berbagai jenis tanaman yang bersumber dari karbohidrat. Seperti jagung, singkong, ubi jalar, talas dan jenis umbi-umbian lain yang mengandung karbohidrat sebagai pengganti beras yang menjadi makanan pokok,” tambahnya.

Diharapkan dari lumbung hidup tersebut, warga masyarakat tidak tergantung dengan satu jenis bahan makanan pokok saja namun bisa menjadikan bahan alternatif lain yang bisa dikonsumsi dengan mudah. Warung hidup adalah pekarangan rumah yang ditanami sayuran dan buah, misalnya bayam, kacang panjang, terong, tomat, cabe, jeruk dan lain-lain. Sayuran tersebut sebagian besar masyarakat telah menanamnya di pekarangan rumah baik ditanam di tanah, pot maupun di polybag. Harapannya dari tanaman tersebut dapat membantu keluarga dalam mencukupi kebutuhan pangan dengan memetik sayur di rumah sendiri. Hal ini bisa mengurangi belanja para ibu-ibu karena kebutuhan dapur dapat terpenuhi cukup di pekarangan rumah sendiri.

“Selain itu ada apotik hidup, yaitu pekarangan keluarga yang ditanami obat-obatan yang berkhasiat untuk pertolongan pertama. Misalnya kunyit, temulawak, sirih, kumis kucing dan lain-lain. Tujuannya, ketika ada anggota keluarga sakit, untuk pertolongan pertama bisa memberikan ramuan-ramuan tradisional yang bisa mengurangi rasa sakit bahkan menyembuhkan sakit,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., menyampaikan bahwa pelaksanaan lomba ini tidak hanya sekedar ceremonial belaka, namun harus ada tindak lanjut. Sudah seyogyanya di pekarangan rumah kita ada lumbung hidup, warung hidup dan apotik hidup, sehingga rumah menjadi asri, indah dan nyaman. Pemanfaatan pekarangan jika dikelola dengan berbagai jenis tanaman, dapat membantu menjamin kesediaan pangan guna memenuhi gizi keluarga.

“Selain untuk konsumsi keluarga, hasil panen dari pekarangan juga dapat dijual sehingga bisa mengurangi uang belanja sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Apalagi jika tidak terbatas pada komoditas tanaman saja tetapi bisa juga dengan pemanfaatan untuk ternak seperti ayam, bebek dan ikan,” tutur beliau.

Beliau berharap jika masyarakat khususnya warga Kemirikidul harus bisa menerapkan “Karang Pandan” (Pemanfaatan Pekarangan untuk Pangan dan Pendapatan) dengan tetap melestarikan tanaman yang sudah ada, dirawat dan dikembangkan sehingga dapat meningkatkan sumber pangan dalam keluarga. Jika dalam satu pekarangan telah memenuhi ketiga sumber antara karbohidrat, protein hewani dan nabati, maka kebutuhan gizi keluarga akan mudah terpenuhi, apalagi dilengkapi dengan apoktek hidup. Jika anggota keluarga sehat maka rumah tangga akan bahagia. ––





Berita Purworejo

Counter Pengunjung