- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
PRAKTEK PEMBUATAN BIOSAKA DI KWT WIJAYA PUTRI, DESA WALIKORO, NGOMBOL

PRAKTEK PEMBUATAN BIOSAKA DI KWT WIJAYA PUTRI, DESA WALIKORO, NGOMBOL
Biosaka, dikembangkan mulai tahun 2006 oleh M. Ansar, seorang petani di Blitar, Jawa Timur. Merupakan bahan alami yang terbuat dari ekstrak tumbuhan yang dapat membuat pertumbuhan tanaman menjadi sehat dan lebih hemat dalam penggunaan pupuk. Sejak dikenalkan tahun 2019 kemaren, biosaka telah dipraktekkan banyak petani dan terbukti dapat meringankan beban petani akan kebutuhan pupuk.
Rabu, 18 Januari 2022 di KWT Wijaya Putri, Desa Walikoro, Kecamatan Ngombol bersama dengan Penyuluh Pendamping setempat melakukan praktek pembuatan Biosaka. Kegiatan ini merupakan salah satu insiatif penyuluh, petani dan kelompok wanita tani untuk mengatasi keterbatasan pupuk subsidi dari pemerintah.
Biosaka dibuat dari remasan bagian tumbuhan, bagian tumbuhan yang diambil sekitar 1 jengkal dari ujung cabang atau ranting, dan dipilih tumbuhan yang sehat. Kemudian sekitar segenggaman dua tangan, bagian tumbuhan tersebut diremas dalam 3-5 liter air untuk menghasilkan ekstrak selama 15-20 menit.
Ekstrak remasan yang sudah jadi kemudian disaring dan dapat langsung digunakan. Dosis penggunaan biosaka adalah 40 ml per 15 liter air. Teknis pemberian biosaka pada tanaman adalah dengan melakukan penyemprotan mengkabut dan disemprotkan diatas tanaman dengan mata nozzle menghadap keatas.
Biosaka merupakan gabungan dua suku kata yaitu Bio yang berarti Biologi dan Saka yang merupakan akronim dari Soko Alam. Sehingga biosaka dapat diartikan sebagai usaha untuk mengembalikan unsur-unsur biologi ke alam.
Biosaka menurut Prof. Manurung dari ITB merupakan elisitor, adalah molekul signal yang memacu terbentuknya metabolit sekunder di dalam kultur sel. Elisitor dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder. Elisitor juga dapat menginduksi resistensi tumbuhan.
Menurut Ibu Suharmini, selaku Ketua KWT Wijaya Putri, Biosaka merupakan ilmu pertanian / hal yang baru bagi mereka. Tentunya mereka bersemangat untuk melakukan praktek dan mengaplikasikannya di lapangan, baik untuk tanaman padi, sayur-sayuran, dan tanaman lainnya.
Semoga dengan ikhtiar yang baik dari semua pihak, dapat memberikan solusi bagi petani untuk meningkatkan hasil panennya khususnya di Desa Walikoro, Kecamatan Ngombol, salam pertanian.






