- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
- Puskeswan Purwodadi kembali buka!
- Pelayanan Kesehatan Hewan UPT Puskeswan Mranti di Akhir Maret
- *Dukung Program GAP Tembakau, Kelompok Tani Makmur Tani Laksanakan Persemaian di Desa Kambangan*
- KOORDINASI PELAKSANAAN HIBAH TA. 2026
- Rapat Sosialisasi Pelarangan Perdagangan daging Anjing dan kucing di Jawa Tengah
Petani Kemiri Belajar, Mencoba, dan Siap Gas

Petani Kemiri Belajar, Mencoba, dan Siap Gas!”
KEMIRI KEREN NEWS — Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemiri kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas petani melalui penyelenggaraan Sosialisasi Varietas Unggul Baru Tembakau Purworejo pada Senin, (1/12/2025), di Aula BPP Kecamatan Kemiri. Kegiatan strategis ini dihadiri oleh Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP., Ketua KTNA Kecamatan Kemiri Fajar Alwani, serta 20 peserta anggota KTNA Kecamatan Kemiri. Kehadiran para pelaku utama dan pelaku usaha pertanian ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan komoditas tembakau yang merupakan salah satu tanaman unggulan di wilayah Kemiri dan Purworejo secara umum.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan lengkap mengenai empat varietas unggul baru tembakau Purworejo, yaitu Sitepus Gagang, Sili Kenongo, Sitepus Gober, dan Bendungan Ombo. Varietas-varietas ini merupakan hasil inovasi dan uji pemuliaan tanaman yang telah melewati proses penelitian panjang melalui kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo. Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, dalam sambutannya menegaskan bahwa hadirnya varietas baru ini merupakan lompatan penting bagi peningkatan kesejahteraan petani. “Purworejo memiliki potensi besar dalam pengembangan tembakau. Empat varietas unggul baru ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memberikan nilai tambah yang mampu mendongkrak pendapatan petani. Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk bergerak selangkah lebih maju,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KTNA Kecamatan Kemiri, Fajar Alawani, juga menyampaikan dorongan kuat kepada petani agar siap menerima inovasi. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga riset dan petani merupakan fondasi utama kemajuan pertanian di daerah. “KTNA menyambut baik inovasi ini. Petani harus menjadi pioner dalam mengadopsi varietas yang lebih adaptif dan bernilai ekonomi tinggi. Jika kita ingin hasil yang lebih baik, kita perlu berani mencoba teknologi baru dan menerapkan pola budidaya yang lebih modern,” tegasnya dengan penuh optimisme.
Selain pengenalan varietas, peserta juga mendapatkan materi teknis mengenai budidaya tembakau sesuai GAP (Good Agricultural Practices) yang disampaikan oleh Sasmitha Wening M., S.Tr.P. Materi ini menekankan pentingnya penerapan budidaya yang terstandarisasi mulai dari pembibitan, pengolahan lahan, pemupukan berimbang, pengendalian OPT ramah lingkungan, hingga penanganan pascapanen. Dalam penyampaiannya, Sasmitha menekankan bahwa varietas unggul baru harus didukung teknik budidaya yang benar agar potensi hasil dapat tercapai maksimal. “Varietas unggul tidak akan menghasilkan panen berkualitas jika budidayanya tidak berpedoman pada GAP. Kunci keberhasilan ada pada keseriusan petani dalam menerapkan seluruh tahapan teknis secara konsisten,” jelasnya.
Sebagai bentuk penguatan praktik lapangan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktek pembuatan Jadam Sulfur yang dipandu oleh Sugiyo, POPT Kecamatan Kemiri. Jadam Sulfur merupakan formula ramah lingkungan yang berfungsi untuk pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tembakau. Dalam praktik tersebut, peserta diajak memahami bahan yang digunakan, cara pencampuran, hingga fungsi dan waktu aplikasi yang tepat. Sugiyo menjelaskan bahwa pembuatan Jadam Sulfur merupakan solusi murah dan efektif. “Ini adalah teknik yang sangat terjangkau namun terbukti efektif. Petani tidak perlu tergantung pada bahan kimia mahal. Dengan Jadam Sulfur, kita bisa menjaga tanaman tetap sehat dengan metode yang lebih aman dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dalam paparanya, beliau menyampaikan bahwa Jadam Sulfur dapat dibuat sendiri di rumah dan caranya sangat mudah sekali dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan di toko online/ marketplace. Untuk membuat 5 liter Jadam Sulfur bahan yang perlu disiapkan diantaranya bubuk belerang 99 % sebanyak 1,25 kg, soda api 1 kg, 125 gram garam krosok/ kasar, air hujan/ air AC 4,1 liter. Dalam membuat Jadam Sulfur ini sebaiknya dlakukan diluar rumah dan gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan karet, kacamata, dan masker.
Cara membuatnya cukup mudah. Masukkan bubuk belerang yang sudah disiapkan sebanyak 1,25 kg kedalam wadah. Tuang soda api sebanyak 1 kg kedalam wadah dengan hati-hati, jangan sampai terkena kulit dan terhirup debunya. Tambahkan 125 gr garam krosok kedalam wadah. Tuang 2,5 liter air hujan dengan hati-hati. Aduk semua bahan hingga larut selama 15 menit sampai suhunya mulai turun. Setelah suhunya mulai turun tambahkan air hujan sebanyak 1,5 liter kemudian aduk hingga merata. Setelah semua merata tutup wadah dan diamkan selama kurang lebih 1 jam atau sampai larutannya dingin. Jadam sulfur sudah bisa digunakan
“Dosis yang digunakan pada jadam sulfur yaitu 2 ml untuk 1 liter air, pengaplikasikan dilakukan dengan cara di spray/ disemprot. Aplikasikan pada bagian tanaman yang terserang hama dan penyakit saat pagi atau sore hari,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, kegiatan berjalan lancar dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Materi tersampaikan dengan baik, diskusi interaktif berlangsung hidup, dan praktik lapangan mampu memberikan pemahaman menyeluruh bagi petani. Dengan adanya sosialisasi ini, BPP Kecamatan Kemiri berharap petani mampu menerapkan inovasi varietas baru dan budidaya sesuai GAP, sehingga mampu menciptakan produksi tembakau berkualitas tinggi yang memberikan kesejahteraan lebih baik bagi keluarga petani dan mengangkat nama Purworejo sebagai sentra tembakau yang unggul di tingkat regional maupun nasional. Semoga.–






