PESTISIDA NABATI LMS MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

By DINPPKP 25 Jan 2024, 15:10:20 WIB Penyuluhan
PESTISIDA NABATI LMS MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

                                 PESTISIDA NABATI LMS MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN


                                

 

Purworejo, 18 Januari 2024 - Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, pemerintah berusaha meningkatkan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan 273 juta penduduk Indonesia.  Ada beberapa kendala dalam upaya budidaya padi diantaranya menurunnya tingkat kesuburan tanah; serangan hama, dan penyakit.  Petani biasanya menggunakan pestisida untuk mengatasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).  Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dapat menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan, dan gangguan keseimbangan ekologis. Selain itu, harga pestisida yang tinggi sehingga sulit dijangkau oleh petani. Oleh sebab itu maka KWT Sri Rejeki Kelurahan Pangenrejo melakukan praktek pembuatan Pestisida Nabati LMS (Lengkuas Mimba Serai) pada pertemuan rutin yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2024 di secretariat KWT Sri Rejeki.

OPT adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan atau mengakibatkan kematian tanaman (UU RI No 22 Tahun 2019). OPT merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan zat kimia (insektisida, herbisida, fungisida dll). Penggunaan pestisida yang kurang bijaksana dapat menimbulkan masalah kesehatan, pencemaran lingkungan, dan gangguan keseimbangan ekologis. Selain itu, harga yang tinggi sehingga sulit dijangkau oleh petani.

Selain menggunakan pestisida kimiawi, terdapat pengendalian lain untuk pengendalian OPT berwawasan lingkungan berkelanjutan. Pengendalian ini secara alami menggunakan pestisida nabati  yang Ramah Lingkungan (ramli).  Pertanian ramah lingkungan adalah pengelolaan sumberdaya pertanian (SDP) dan input sistem usaha tani secara tepat untuk mencapai produktivitas dan keuntungan ekonomi yang optimum, namun tetap memperhatian kelestarian lingkungan. Prinsip pertanian ramah lingkungan diantaranya: terjaminnya produktivitas dan provitas petani; berkurangnya resiko lingkungan; terjaminnya kuantitas dan kualitas produk pertanian secara berkelanjutan; serta turunnya emisi gas rumah kaca.

Aspek utama pertanian ramah lingkungan yaitu aspek biofisik, aspek biotik dan aspek  sosial-ekonomi. Sedangkan paradigma pertanian ramah lingkungan meliputi: terjaganya keragaman hayati dan keseimbangan ekologis biota; terpeliharanya kualitas sumberdaya alam secara fisik, kimiawi, hayati;  terhindarnya lingkungan pertanian dari pencemaran; produktivitas lahan semakin meningkat; terkendalinya  OPT serta dihasilkannya  produk pertanian (pangan dan pakan) yang aman.

Penggunaan Pestisida Nabati ataupun Biopestisida yang memenuhi prinsip-prinsip pertanian ramah lingkungan merupakan salah satu penerapan pertanian cerdas iklim (CSA).  Pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya adalah tumbuhan. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan bahan dan teknologi yang sederhana. Bahan baku alami/nabati membuat pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.

Beberapa manfaat dan keunggulan pestisida nabati antara lain:

  • Cepat terurai / terdegradasi oleh sinar matahari,
  • Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan nafsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian,
  • Daya racun/Toksisitasnya umumnya rendah thd hewan dan relatif lebih aman pada manusia dan lingkungan,
  • Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif,
  • Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia,
  • Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman, serta
  • Murah dan mudah dibuat oleh petani
  • Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Penggunaan dalam dosis tinggi sekalipun, tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati.
  • Tidak menimbulkan kekebalan pada serangga.

Pestisida nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati, residunya akan hilang di alam sehingga aman bagi manusia. Penggunaan pestisida nabati memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar. Pembuatan pestisida nabati dapat menggunakan sumber-sumber bahan organik di sekitar kita diantaranya: bawang putih, pandan, kemangi, cabe rawit, tembakau, kunyit, kenikir, daun nimba, serai, lengkuas, daun sirsak, rimpang jariangau,dll.

Contoh ramuan pestisida nabati yang digunakan untuk mengendalikan hama secara umum untuk lahan seluas 1 ha (hama belalang, wereng coklat, walang sangit, kutu, ulat, aplhid, dan trips) pada sayuran dan tanaman lainnya sebagai berikut: daun nimba 8 kg, lengkuas 6 kg, Serai 6 kg, deterjen atau sabun colek 20 g serta air 20 liter.  Seluruh bahan ditumbuk atau dihaluskan dan diaduk merata dalam 20 liter air lalu direndam sehari semalam  selama 24 jam. Keesokan harinya ramuan disaring menggunakan kain halus.  Larutan hasil penyaring diencerkan kembali dengan 60 liter air dan disemprotkan pada tanaman yang akan dilindungi dari serangan serangga/hama.

Pestisida nabati merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat, dan harus menjadi bagian dari sistem pengendalian hama terpadu, serta hanya digunakan bila diperlukan (tidak digunakan jika tidak terdapat hama yang merusak tanaman).





Berita Purworejo

Counter Pengunjung