Pertemuan SL IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) Kutoarjo

By DINPPKP 08 Jun 2022, 14:25:33 WIB Penyuluhan
Pertemuan SL IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) Kutoarjo

Pertemuan SL IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) di Kelompok Tani Sejahtera Desa Tepus Kulon Kecamatan Kutoarjo Hari Rabu, 8 Juni 2022 Pukul 08.00 s/d 11.30 WIB dengan materi hama dan penyakit tanaman. Pertemuan dihadiri oleh Koordinator PPL BPP Kecamatan Kutoarjo, PPL Kecamatan Kutoarjo, POPT Kecamatan Kutoarjo,  Pengurus dan anggota kelompok tani Sejahtera Desa Tepus Kulon dengan jumlah peserta 30 orang.

IPDMIP memberdayakan SDM pertanian, pemenuhan sarana dan infrastruktur irigasi. Tujuannya untuk mendukung peningkatan produktivitas, pencapaian ketahanan pangan, dan tentunya kesejahteraan petani. Melalui IPDMIP diharapkan peningkatan kinerja pertanian beririgasi secara terpadu dan partisipatif sebagai salah satu peluang dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian yang mendukung pencapaian target Pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Hama dan penyakit yang ditemui di lapangan antara lain hama penggerek batang, penyakit hawar daun. Hama penggerek batang padi merupakan hama yang menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen.  Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagai sundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar disebut sebagai beluk. Cara pengendalian dapat dilakukan dengan pengaturan pola tanam (tanam serentak dan rotasi tanaman), mekanik (pengumpulan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman), menangkap ngengat dengan light trap. Penyebab penyakit (patogen) hawar daun bakteri menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generatif mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk tanaman dengan Nitrogen secara berlebihan, gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi pertanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermiten).

Pengendalian penyakit hawar daun bakteri antara lain penggunaan benih sehat, sanitasi inang pada saluran irigasi, pemupukan berimbang sesuai anjuran, pengeringan lahan secara berkala, yaitu 1 hari diairi dan 3-4 hari dikeringkan, terutama pada daerah endemik serangan penyakit, dan sanitasi rerumputan sumber patogen.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung