- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
PERSEMAIAN, TAHAP PENTING DALAM BUDIDAYA PADI

PERSEMAIAN, TAHAP PENTING DALAM BUDIDAYA PADI
Guna
mengoptimalkan produksi padi, setiap petani perlu mengetahui teknik budidaya
padi yang benar. Teknik budidaya secara konvensional diawali dengan tahap
memilih varietas unggul dan benih bermutu.
Varietas unggul umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama
penyakit utama. Sedangkan benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian
dan vigor yang tinggi. Benih bermutu umumnya diperoleh dari benih berlabel dan
telah lolos proses sertifikasi, meskipun sebagian petani bisa membuat benih
sendiri.
Kriteria jenis varietas padi yang memiliki
keunggulan diantaranya :
1.
Sesuai dengan agroekosistem lahan
2.
Berdaya hasil tinggi
3.
Memiliki ketahanan atau toleransi terhadap
cekaman biotik dan abiotik
Mengutip
dari buku materi Penguatan Kapasitas Penerap Standar Pertanian Badan
Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) banyak pilihan varietas unggul
berdasarkan jenis lahan, diantaranya varietas padi untuk sawah irigasi
daintaranya Ciherang, Mekongga, Inpari 1, 2, 3, 4, 5, Cakrabuana Agritan,
Pajajaran Agritan. Varietas padi lahan sawah tadah hujan diantaranya Inpari 10
Laeya, Inpari 11, 12, 13, 18, Inpari 38 Tadah hujan Agritan. Varietas padi
lahan rawa pasang surut diantaranya Inpara 1, 2, 3, 6, 7, Inpara 10 BLB.
Dalam
budidaya padi secara konvensional, (bukan metode tanam benih langsung atau tabela),
setelah memilih benih varietas unggul, dan melakukan tahap perlakuan benih
untuk memilih benih yang bermutu (bernas), benih direndam dan diperam.
Setelah
berkecambah, benih disebar pada lahan persemaian dengan luas lahan persemaian 4
persen dari luas tanam. Artinya untuk
lahan tanam seluas 10.000 meter ( 1 hektar) diperlukan lahan persemaian seluas 400 meter
persegi. Hal ini dimaksudkan agar benih yang disebar tidak terlalu rapat,
tumbuh optimal dan siap pindah tanam pada umur 15-17 hari setelah sebar. Untuk
memudahkan saat pencabutan bibit, sebelum benih disebar, sebaiknya ditambah
dengan bahan organik, seperti pupuk organik atau abu dapur.
Hal lain
yang tidak kalah penting pada tahap persemaian, yaitu melakukan perawatan
tanaman di lahan persemaian. Jika lahan persemaian tidak diberi tambahan pupuk
organik, perlu dilakukan pemupukan pada umur 7-10 hari setelah sebar, dengan
dosis 1 kilogram pupuk dengan kandungan unsur nitrogen untuk benih 25 kilo
gram. Selain itu, pengamatan rutin di lahan persemaian perlu dilakukan agar
jika ada serangan hama dan penyakit, dapat dilakukan pengendalian sejak
dini, lebih hemat tenaga dan biaya.
Seperti
halnya yang dilakukan Kelompok Tani Ngudi Waluyo IV Desa Keduren, lahan
persemaian disiapkan dengan baik untuk anggota kelompok. Saat kunjungan ke
sawah Desa Keduren pada hari Senin tanggal 13 Mei 2024 yang lalu, Parsum (48
th) Ketua Kelompok Tani Ngudi Waluyo IV mengatakan bahwa, selain
teknik persemaian yang baik, untuk musim tanam kedua tahun 2024 lahan
persemaian diusahakan secara bersama dalam satu hamparan. Hal ini dimaksudkan
agar penyebaran benih dapat dilakukan serentak, memudahkan perawatan serta
pengendalian hama dan penyakit.
(Desty Lina Erfawati, S.P.- Penyuluh Pertanian BPP Purwodadi).






