- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
PERMUDAH UKUR LUAS LAHAN SAWAH, BPP KECAMATAN GRABAG ADAKAN BIMTEK GEOSPASIAL BAGI PETANI

PERMUDAH UKUR LUAS LAHAN SAWAH, BPP KECAMATAN GRABAG
ADAKAN BIMTEK GEOSPASIAL BAGI PETANI
GRABAG NEWS – Sebagai bagian dari Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Penyuluhan Pertanian di Kecamatan dan Desa, BPP Kecamatan Grabag mengadakan bimtek pada Rabu (02/08/2023). Kegiatan ini mengulas tentang bagaimana cara ukur luas lahan sawah yang mudah bagi petani.
Seperti diketahui, penggunaan informasi geospasial saat ini telah mencakup berbagai aspek kehidupan, sementara kesiapan informasi yang memiliki aspek lokasi belum banyak tersedia khususnya di bidang pertanian.
“Untuk menghadapi situasi dan kondisi saat ini yang semakin terbuka dan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap informasi geospasial sebagai informasi publik, maka sudah sepatutnya sebagai petani sekalipun untuk bisa mengakses sendiri berbagai informasi berbasis geospasial yang mereka butuhkan,” tutur Umiyatun Wijayanti, STP selaku Koordinator BPP Kecamatan Grabag mengawali sambutannya.
Beliau menambahkan, agar peserta sungguh- sungguh dalam mengikuti bimtek agar pengelolaan data dan informasi geospasial dapat dikelola dengan baik dan akurat, sehinga dapat bermanfaat bagi petani itu sendiri maupun untuk pemerintahan desa.
Turut hadir dalam acara tersebut, Eko Sutresno, A.Md selaku narasumber, penyuluh pertanian BPP Kecamatan Grabag dan 30 petani sebagai peserta bimtek.
Penyampaian materi dalam bimtek tersebut disampaikan oleh Eko Sutresno, A.Md. Eko di awal menyebut bahwa, pengetahuan geospasial menjadi alat bantu petani dalam mengetahui luas lahan mereka yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan benih dan pupuk maupun untuk kebutuhan jika ada transaksi jual beli lahan sawah.
“Pemanfaatan informasi geospasial sangat luas, termasuk kaitannya dengan pertanian. Jika informasi geospasialnya akurat dalam hal ini luas lahan sawahnya sesuai maka semua hal yang terkait dengan luas lahan sawah juga akan akurat”, ungkap beliau mengawali penyampaian materi.
Beliau juga menambahkan, betapa pentingnya mengukur luas lahan yang akurat. Dengan luas lahan yang akurat maka saat terjadi transaksi jual beli tanah, tidak akan menimbulkan kerugian. Tak kalah penting juga, saat menghitung kebutuhan benih atau pupuk juga akan lebih sesuai sehingga tidak terjadi pemborosan.
“Selain itu, pentingnya mengukur luas lahan yang akurat juga untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya tumpang tindih izin dan legalitas kepemilikan atas tanah agar tidak terjadi saling klaim kepemilikan bidang tanah di tengah- tengah masyarakat,” ujarnya lagi,
Ada banyak cara untuk mengukur luas lahan yang akurat. Diantaranya menggunakan rumus, menggunakan luas lahan yang ada di sertifikat tanah, menggunakan google maps dan beberapa aplikasi yang bisa diakses menggunakan smartphone, salah satunya aplikasi GPS Fields Area Measure. Menariknya, aplikasi ini tidak membutuhkan spesifikasi smartphone yang tinggi dan tidak terlalu banyak menguras memori. Sehingga sangat mudah diakses dan digunakan oleh petani.
Dalam sesi teori, peserta diberikan pemahaman mendalam tentang konsep dasar pemetaan, penggunaan perangkat lunak geospasial, serta teknik pengumpulan dan analisis data.
Selanjutnya, sesi praktik dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada peserta bimtek untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Dalam praktik ini, peserta diberikan panduan langkah demi langkah dalam tata cara penggunaan aplikasi GPS Fields Area Measure dan penginputan data geospasial. Mereka belajar menggunakan smartphone masing- masing yang sudah terinstal aplikasi tersebut dari playstore.
“Rencana tindak lanjut dari bimtek ini adalah diharapkan para peserta dapat dengan mudah mengakses dan menggunakan aplikasi tentang pengukuran luas lahan sawah dengan smartphone sehingga lebih praktis dan mudah untuk dilakukan petani dalam kehidupan sehari- hari,” tandasnya.
Di akhir sesi, Eko menyampaikan, pemanfaatan aplikasi GPS Fields Area Measure di bidang pertanian sebenarnya sangat membantu para petani. Terlebih lagi, pengukuran luas lahan sawah secara manual menggunakan meteran membutuhkan banyak tenaga, memakan waktu dan sangat melelahkan.
Kendati demikian, Eko mengakui pemanfaatan aplikasi GPS Fields Area Measure di bidang pertanian masih cukup berat bagi petani yang sudah memasuki usia senja dan petani yang kurang melek teknologi. Artinya kalau dari sisi sumber daya manusianya, masih cukup berat dilakukan.
Seperti yang diungkap salah satu petani Desa Sangubanyu, Widodo Raharjo (68), juga menyampaikan hal yang sama. Widodo mengaku tertarik dengan pemanfaatan aplikasi GPS Fields Area Measure, namun dirinya terkendala dalam kemampuannya untuk menerapkan.
“Saya sudah tua dan kurang paham tentang perkembangan teknologi, sehingga saya sangat sulit menggunakan aplikasi ini. Saya lebih mudah mengukur sawah secara manual dengan meteran,” ujar Widodo sambil tersenyum.
Manfaat aplikasi GPS Fields Area Measure di bidang pertanian bukan cuma memberi hasil yang akurat saat mengukur lahan sawah, tetapi juga memberikan kemudahan saat petani ingin menghitung kebutuhan benih ataupun pupuk mereka.






