Perbanyakan Jamur Trichoderma

By DINPPKP 19 Nov 2021, 08:05:02 WIB Penyuluhan
Perbanyakan Jamur Trichoderma

Purworejo – Kelompok Tani (Poktan) Kuwat Kelurahan Doplang Kecamatan Purworejo merupakan salah satu kelompok tani yang mendapatkan Program Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan PHT (P4). Pengembangan Agens Pengendali Hayati (APH) merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan di dalam Program P4.

Dalam kesempatan ini, Kelompok Tani Kuwat mengadakan pelatihan Pengembangan Agens Pengendali Hayati (APH) yakni pengembangan atau pembudidayaan Jamur Trichoderma. Trichoderma sendiri merupakan salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan.

Selasa, 16 November 2021 Poktan Kuwat melakukan perbanyakan jamur Trichoderma dengan media jagung. Jamur Trichoderma bisa didapatkan dari tanah, namun dalam jumlah yang sedikit. Untuk dapat diaplikasikan di lahan yang luas, perlu dilakukan proses perbanyakan agar jumlahnya mencukupi. Perbanyakan jamur Trichoderma dapat menggunakan berbagai macam media, seperti beras, dedak, maupun jagung. Proses perbanyakan dilakukan di Sekretariat Poktan Kuwat dengan dihadiri pengurus dan anggota. Kegiatan tersebut didampingi oleh ibu Hagni Aratri dari Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Temanggung, ibu Ismiyati POPT Kecamatan Purworejo, dan ibu Arnita Eky Cahyani PPL BPP Kecamatan Purworejo.

TEKNIK PERBANYAKAN TRICHODERMA DAN CARA APLIKASINYA

Teknik pengendalian terhadap penyakit yang menyerang tanaman saat ini sebagian besar pelaku utama masih mengandalkan penggunaan pestisida padahal jika terus menerus menggunakan bahan kimia dipertanaman lambat laun akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Untuk itu perlu dikembangkan alternatif lain yang dapat diterapkan oleh pelaku utama selain penggunaan pestisida antara lain adalah pemanfaatan Biofungisida yang dapat diaplikasikan ditanah sekitar perakaran tanaman untuk mencegah serangan penyakit yang disebabkan oleh cendawan tular tanah, salah satunya adalah penggunaan Trichoderma sp. Secara teknis penggunaan bahan kimia tersebut sebenarnya dapat diminimalisir dengan menggunakan agen hayati, salah satunya dengan menggunakan cendawan trichoderma. Agen ini dapat berperan sebagai cendawan antagonis bagi patogen dan menjadi antibiosis untuk tanaman

Trichoderma sp.merupakan mikroorganisme yang termasuk golongan cendawan yang dapat menghambatkan pertumbuhan cendawan lain penyebab penyakit pada tanaman yang dikenal dengan biofungisida selain itu Trichoderma sp. juga dapat berfungsi pengurai unsur-unsur hara yang terikat oleh tanah sehingga mudah diserap oleh tanaman atau dengan kata lain dapat berfungsi sebagai bioaktivator.

Kelebihan lain dengan penggunaann Trichoderma sp. sebagai pengendalian penyakit adalah cendawan ini mampu berkembang biak sendiri dialam, sehingga walaupun hanya satu kali diinfestasikan ketanah disekitar perakaran keberadaan bisa berlangsung lama asalkan kondisi lingkungan sesuai dengan perkembangannya sehingga biaya yang dikeluarkan lebih sedikit  Berbeda jika dengan menggunakan fungisida jika tidak diaplikasikan lagi maka sudah tidak berfungsi lagi sehingga harus diaplikasikan berkali-kali dan menyebabkan biaya yang dileuarkan lebih besar dan dampak negatif lain dengan penggunaan fungisida adalah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena mengandung residu yang proses penguraiannya dialam membutuhkan waktu yang lama.

Trichoderma sp.dapat diperbanyak pada media beras ataupun media jagung dan juga media dedak. Mengingat di Indonesia beras merupakan makanan pokok masyarakat dan harganya juga tinggi sehingga perlu dilakukan pengkajian untuk melakukan perbanyakan Trichoderma sp. selain pada media beras salah satunya dapat diperbanyak pada media jagung karena harganya lebih murah dibandingkn beras. Berikut adalah teknik perbanyakan Trichoderma pada media beras dan media jagung

      Berikut ini teknik perbanyakan Trichoderma sp

Alat dan Bahan yang digunakan :

                 Alat-alat yang digunakan antara lain : Panci kukusan, baskom, sendok, nampan/baki, hekter, kompor adapun bahan igunakan pada kegiatan ini antara lain : Isolat Trichoderma sp, beras, jagung, lilin, air bersih, plastik bening, Alkohol

Langkah Kerja :

Langkah kerja perbanyakan Trichoderma sp baik pada media beras maupun pada media jagung adalah sebagai berikut:

  • Cuci beras/jagung sampai benar-benar bersih
  • Tiriskan sampai airnya tidak menetes lagi
  • Kukus beras/jagung selama 10 Menit (waktu dihitung setelah air kukusan sudah mendidih)
  • Angkat dan dinginkkan lalu masukkan kedalam plastik bening dengan volume 100 gram atau sesuai keinginan
  • Setelah didalam plastik, kukus kembali selama 10 menit (waktu dihitung setelah air kukusan sudah mendidih)
  • Angkat dan dinginkan. Setelah dingin, inokulasikan isolat Trichoderma sp kedalam plastik dengan menggunakan kawat atau lidi yang sebelumnya telah disterilkan
  • Lipat plastik kemudian rekatkan dengan menggunkan hekter
  • Inkubasi selama 7-10 hari dalam wadah yang minim pencahayaan.
  • Trichoderma sp siap diaplikasikan

Cara Aplikasi Trichoderma sp :

Perlakuan pada pembibitan :

Basahi benih kemudian campurkan dengan trichoderma  aduk hingga merata, perbandingan 5-10 gr trichoderma / 100 gr benih atau biji, diamkan selama 30 menit kemudian benih siap disemai

Perlakuan pada tanaman hortikultura/palawija:

Pada tanaman hortikultura/palawija diaplikasikan dengan menggunakan dosis 5-10 gram trichoderma/tanaman  dengan cara ditabur pada daerah perakaran lalu disiram secukupnya atau dapat pula dikocorkan ke sekitar perakaran dengan cara melarutkan trichoderma kedalam 1 liter air bersih dan dapat juga ditambahkan 2 sendok makan gula merah lalu diamkan selama 1 malam dalam kondisi tertutup. Larutan trichoderma siap diaplikasikan ke tanaman

Perlakuan pada tanaman tahunan (perkebunan)

Pada tanaman tahunan/tanaman perkebunan dapat diaplikasikan dengan menggunakan dosis 20 gram trichoderma/tanaman  dengan cara ditabur pada daerah perakaran lalu disiram secukupnya atau dapat pula dikocorkan ke sekitar perakaran dengan cara melarutkan trichoderma kedalam 1 liter air bersih dan dapat juga ditambahkan 2 sendok makan gula merah lalu diamkan selama 1 malam dalam kondisi tertutup. Larutan trichoderma siap diaplikasikan ke tanaman

Trichoderma, sp disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. ... Penggunaan pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma, sp memang tidak memperlihatkan dampak manfaatnya secara langsung seperti pupuk ataupun fungisida kimia.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung