- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
PENYULUH AJAK BELAJAR TANAM SELEDRI
.jpg)
JARANG DITANAM TAPI SERING DIKONSUMSI
PENYULUH AJAK BELAJAR TANAM SELEDRI
KEMIRI NEWS – Masyarakat
Indonesia tentu sudah tidak asing lagi dengan tanaman seledri. Seledri (Apium
graveolens) atau yang biasa di sebut daun sop, merupakan sayuran daun yang
biasanya digunakan sebagai bumbu atau tambahan pada masakan. Bagian yang
digunakan adalah bagian tangkai dan daun. Tanaman seledri juga sering dijadikan
herba atau tanaman berkhasiat obat berupa ekstrak minyak seledri. Memanglah
tanaman ini sudah dikenali tetapi masih banyak yang tidak mengetahui fungsi dan
bagian mana saja yang bermanfaat untuk kesehatan.
Seperti yang disampaikan
oleh
narasumber Umul Khasunah, SP., MAP, dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kabupaten Purworejo dalam Siaran Radio di program
acara Irama Live Talk pada hari ini, Rabu (10/01/24) di Lembaga
Penyiaran Publik Lokal Radio Publik Kabupaten Purworejo Irama FM.
“Meskipun
sudah sering mengkonsumsi, sayangnya tanaman seledri tidak banyak dibudidayakan
oleh para petani karena cara tanam seledri belum banyak diketahui oleh
masyarakat,” papar beliau.
Menurut beliau, banyaknya yang memanfaatkan
tanaman ini baik untuk bahan masakan ataupun untuk obat, dan juga daya beli
yang semakin meningkat di pasaran menjadi peluang bagi para petani untuk
membudidayakan tanaman ini karena sangatlah menguntungkan dan bahkan menjadi
peluang bisnis yang sangatlah besar.
“Tak hanya
sebagai pelengkap dan penghias makanan, manfaat seledri untuk kesehatan juga
tidak perlu diragukan. Beragam kandungan nutrisi didalamnya diketahui mampu
mencegah berbagai penyakit. Seledri dikenal sebagai sayuran yang tinggi serat
serta kaya akan karbohidrat dan protein yang termasuk dalam makronutrisi yaitu
jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang banyak,” tandasnya.
Beliau juga menambahkan, seledri
merupakan sumber vitamin A dan juga zat besi lainnya seperti zat besi, kalium
dan mineral. Banyak sayuran yang akan kehilangan vitaminnya setelah dimasak.
Namun seledri berbeda, kandungan vitamin seledri akan tetap utuh sebesar 80%
walaupun telah dimasak. Seledri dapat mengurangi keinginan untuk mengonsumsi
makanan manis dan makanan yang dapat membuat berat badan bertambah. Seledri
dapat menurunkan tekanan darah dan menjaga agar ginjal tetap berfungsi dengan
baik, mencegah pembentukan batu di kantung empedu dan mencegah sembelit.
Walaupun kecil ternyata seledri mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan.
Sehingga sangat bagus jika dibudidayakan, karena memiliki dua manfaat
sekaligus, untuk penyedap masakan sekaligus manfaat kesehatan juga didapat.
“Seledri
sangat cocok ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian 1000-1200 meter dari
permukaan laut. Namun tanaman ini masih toleran ditanam di dataran rendah.
Tanaman ini kurang tahan terhadap curah hujan tinggi. Jenis tanah yang
dikehendaki dalam budidaya seledri adalah tanah yang gembur dan mengandung
banyak bahan organik. Tanaman ini tumbuh baik pada tingkat keasaman tanah pH
5,5-6,5. Apabila tanah terlalu asam sebaiknya tambahkan kapur atau dolomit. Tanah
yang paling baik untuk budidaya seledri adalah tanah jenis Andosol, karena
mengandung unsur- unsur yang mendukung pertumbuhan tanaman seledri, seperti: pH
tanah antara 5,5-6,5, mengandung cukup natrium, boron, dan kalsium. Karena jika
kekurangan ketiga unsur tersebut, maka pertumbuhan tanaman seledri akan kerdil,
kuncup dan pucuk mengering, dan batang serta tangkai daun retak- retak,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, narasumber,
Umul Khasunah SP., MAP, mengatakan, seledri dapat diperbanyak secara generative
dengan benih dan vegetative dengan anakan. Benih berasal dari varietas unggul
dengan daya kecambah > 90%. Kebutuhan benih seledri untuk penanaman di lahan
1 ha berkisar antara 200- 250 gram biji. Saat ini, budidaya seledri tidak hanya
berada di dataran tinggi. Munculnya benih unggul seledri pabrikan untuk dataran
rendah menjadikan budidaya tanaman seledri saat ini meluas hingga ke dataran
rendah. Bagi yang ingin mencoba menanam seledri khususnya di dataran rendah
maka dapat menanam benih seledri summer.
Sejumlah
kadhang tani dan pendengar setia Radio Irama FM mengaku sangat antusias menyimak
materi yang disampaikan. Seperti yang diungkapkan oleh Mas Nur, salah seorang
warga Baledono yang mengirimkan pertanyaan melalui WhatsApp Radio Irama FM. Beliau menanyakan apakah seledri bisa
ditanama di dataran rendah atau tidak.
“Budidaya seledri sangat
menarik, namun apakah seledri bisa ditanam di dataran rendah terutama di
wilayah Purworejo ini?” tanya
Mas Nur.
Hal yang sama
juga disampaikan oleh Toni, warga Mudal. Beliau menyampaikan sangat tertarik
ingin mencoba budidaya seledri dataran rendah karena rumahnya juga di dataran
rendah.
"Saya
pikir selama ini, seledri hanya bisa ditanam di pegunungan saja, ternyata ada benih
seledri yang bisa ditanam di dataran rendah,” ungkap Mas Nur.
Narasumber juga memaparkan, untuk
menanam seledri bisa menggunakan pot atau langsung di lahan. Namun yang
terpenting adalah media tanam atau pengolahan lahannya dilakukan dengan
perlakuan organik. Jika menggunakan media pot maka perbandingan antara tanah
dan pupuk adalah 1:1. Perawatan juga sangat penting dilakukan agar seledri bisa
tumbuh dengan baik, seperti penyiraman secara rutin, penyiangan, pemupukan dan
pengendalian hama dan penyakit.
“Jika
dibiarkan, maka hama-hama seperti ulat tanah, keong, kutu dan tungau akan
merusak tanaman dan membawa penyakit sehingga akan mengakibatkan seledri rusak,
layu hingga pada kematian tanaman. Sebagian besar penyakit biasanya disebabkan
oleh kelalaian petani terhadap adanya hama yang menyerang dan membawa penyakit.
Pencegahannya dengan dilakukan metode Pengendalian Hama Terpadu, dengan
melakukan kontrol setiap hari dan jika terdapat hama maka segera lakukan
pengendalian hama. Cara yang paling aman dilakukan adalah dengan menggunakan
pestisida nabati,” tutur beliau di penghujung acara.
Tanaman
seledri biasanya dipanen ketika sebagian besar tanaman dianggap telah mencapai
fase layak jual, tetapi ukuran yang agak beragam tidak dapat dihindari.
Penundaan panen dapat menyebabkan sebagian tanaman menjadi bergabus, sedangkan
panen yang terlalu dini berakibat sedikitnya tangkai daun yang berukuran besar
atau dengan kata lain, tangkainya masih terlalu kecil.






