- RAPAT KOORDINASI PERCEPATAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JUT
- SURVEY KE PETERNAKAN AYAM PETELUR
- Monitoring PPTS, Sinergi DKPP dan PPL Kec. Butuh Pastikan Pasokan Pupuk Bersubsidi Aman
- Purworejo Jadi Tuan Rumah Pembinaan Produsen Benih Hortikultura Se-Jawa Tengah
- Seleksi Perdana Hibah Domba Dimulai, DKPP Purworejo Pastikan Ternak Berkualitas Siap Disalurkan
- PEMERIKSAAN KUALITAS DAN KUANTITAS BANTUAN PANGAN BERAS PERIODE BULAN JULI-SEPTEMBER 2026 DI GUDANG BULOG BUTUH
- Kunjungi Kelompok Tani Makaryo Wonosari, Ditjen Hortikultura Bersama DKPP dan PPL Lakukan Verifikasi CPCL
- GERAKAN PANGAN MURAH KEMBALI MERIAHKAN ALUN-ALUN PURWOREJO DALAM RANGKAIAN KEGIATAN GEMAR TAHUN 2026
- Mendukung Mutu Benih Tembakau: DKPP Purworejo Bersama BPSB Jawa Tengah Lakukan Pemeriksaan Lapangan di Desa Rowobayem
- DKPP Purworejo Pastikan Kualitas Hibah Sejak Awal Melalui Seleksi Ketat Kambing Jawa Randu
Penanganan Retensi Plasenta pada Kambing di AP Jaya Farm

Penanganan Retensi Plasenta pada Kambing di AP Jaya Farm
Pada hari Rabu tanggal 7 Januari 2026 UPT Puskeswan bersama mahasiswa magang dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya diminta datang ke AP Jaya Farm Desa Salam Kecamatan Gebang, karena ada Kambing yg habis melahirkan namun plasentanya belum keluar.
Retensi plasenta, kami biasa menyebutnya yaitu kondisi dimana ari-ari (plasenta) tidak keluar dari rahim dalam waktu 8-12 jam setelah melahirkan. Dalam kondisi normal, plasenta akan terlepas secara spontan akibat kontraksi uterus dan proses involusi rahim.
Namun, pada kasus retensi plasenta, jaringan plasenta tetap melekat pada dinding uterus sehingga mengganggu pemulihan organ reproduksi induk.
Penyebab retensi plasenta pada kambing cukup beragam, antara lain infeksi uterus, kekurangan nutrisi terutama mineral seperti selenium dan vitamin E, gangguan hormonal, distokia (kesulitan melahirkan), serta kelelahan induk akibat proses partus yang lama. Faktor manajemen pemeliharaan yang kurang baik, seperti sanitasi kandang yang buruk dan pakan yang tidak seimbang, juga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
Secara klinis, kambing yang mengalami retensi plasenta menunjukkan sisa plasenta yang menggantung dari vulva, berbau tidak sedap, serta terkadang disertai demam, nafsu makan menurun, dan kondisi tubuh yang melemah. Jika tidak segera ditangani, retensi plasenta dapat berkembang menjadi infeksi uterus seperti metritis atau endometritis yang berdampak negatif terhadap kesehatan induk dan performa reproduksi selanjutnya.
Penanganan retensi plasenta pada kambing harus dilakukan dengan hati-hati. Kambing yang mengalami retensi plasenta diberikan antibiotik, antiinflamasi, dan multivitamin serta semprot pembasmi larva screw untuk menghindari adanya lalat yang berkembangbiak disana.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen pakan, pemberian suplemen mineral, serta menjaga kebersihan lingkungan kandang terutama menjelang dan setelah proses kelahiran.
Dengan penanganan dan pencegahan yang tepat, kejadian retensi plasenta pada kambing dapat diminimalkan sehingga kesehatan induk dan produktivitas ternak tetap terjaga.






