- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
- Puskeswan Purwodadi kembali buka!
- Pelayanan Kesehatan Hewan UPT Puskeswan Mranti di Akhir Maret
- *Dukung Program GAP Tembakau, Kelompok Tani Makmur Tani Laksanakan Persemaian di Desa Kambangan*
- KOORDINASI PELAKSANAAN HIBAH TA. 2026
- Rapat Sosialisasi Pelarangan Perdagangan daging Anjing dan kucing di Jawa Tengah
Penanganan Retensi Plasenta pada Kambing di AP Jaya Farm

Penanganan Retensi Plasenta pada Kambing di AP Jaya Farm
Pada hari Rabu tanggal 7 Januari 2026 UPT Puskeswan bersama mahasiswa magang dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya diminta datang ke AP Jaya Farm Desa Salam Kecamatan Gebang, karena ada Kambing yg habis melahirkan namun plasentanya belum keluar.
Retensi plasenta, kami biasa menyebutnya yaitu kondisi dimana ari-ari (plasenta) tidak keluar dari rahim dalam waktu 8-12 jam setelah melahirkan. Dalam kondisi normal, plasenta akan terlepas secara spontan akibat kontraksi uterus dan proses involusi rahim.
Namun, pada kasus retensi plasenta, jaringan plasenta tetap melekat pada dinding uterus sehingga mengganggu pemulihan organ reproduksi induk.
Penyebab retensi plasenta pada kambing cukup beragam, antara lain infeksi uterus, kekurangan nutrisi terutama mineral seperti selenium dan vitamin E, gangguan hormonal, distokia (kesulitan melahirkan), serta kelelahan induk akibat proses partus yang lama. Faktor manajemen pemeliharaan yang kurang baik, seperti sanitasi kandang yang buruk dan pakan yang tidak seimbang, juga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
Secara klinis, kambing yang mengalami retensi plasenta menunjukkan sisa plasenta yang menggantung dari vulva, berbau tidak sedap, serta terkadang disertai demam, nafsu makan menurun, dan kondisi tubuh yang melemah. Jika tidak segera ditangani, retensi plasenta dapat berkembang menjadi infeksi uterus seperti metritis atau endometritis yang berdampak negatif terhadap kesehatan induk dan performa reproduksi selanjutnya.
Penanganan retensi plasenta pada kambing harus dilakukan dengan hati-hati. Kambing yang mengalami retensi plasenta diberikan antibiotik, antiinflamasi, dan multivitamin serta semprot pembasmi larva screw untuk menghindari adanya lalat yang berkembangbiak disana.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen pakan, pemberian suplemen mineral, serta menjaga kebersihan lingkungan kandang terutama menjelang dan setelah proses kelahiran.
Dengan penanganan dan pencegahan yang tepat, kejadian retensi plasenta pada kambing dapat diminimalkan sehingga kesehatan induk dan produktivitas ternak tetap terjaga.






