- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Penanganan Retensi Plasenta

Penanganan retensi plasenta
Tak hanya pada manusia, ternakpun memiliki resiko yang tinggi saat melahirkan. Salah satu gangguan reproduksi pasca melahirkan adalah retensi plasenta atau retensio sekundinae, yaitu kegagalan plasenta untuk dikeluarkan pada tahap ketiga dalam proses kelahiran, dimana normalnya plasenta keluar tiga sampai 8 jam pasca melahirkan, tetapi kondisi ini plasenta tidak keluar dalam waktu 12–24 jam setelah melahirkan.
Pada tanggal 15 april 2025, tim kesehatan hewan yaitu drh. Zain Amri dan mahasiswa magang Teknologi Veteriner UGM menangani retensi plasenta di Desa Rejosari Kecamatan Kemiri. Riwayat sapi tersebut telah ambruk karena hipokalsemia sehari sebelum melahirkan, hipokalsemia merupakan keadaan pada sapi bunting atau menyusui yang mengalami kekurangan kalsium, akibat dari proses pembentukan janin dan persiapan produksi susu. Faktor utama penyebab sapi tersebut mengalami retensi plasenta adalah adanya defisiensi nutrisi.
Terdapat beberapa faktor penyebap retensi plasenta yaitu, infeksi bakteri, defisiensi nutrisi (misalnya vitamin E atau selenium), dan manajemen kelahiran yang kurang baik.
Penanganan yang dilakukan oleh drh. Zain Amri adalah :
1. Pemberian infus sebagai tenaga dan ditambah preparat kalsium serta ATP
2. Pengangkatan plasenta secara manual
3. Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi uterus/rahim






