Penanganan Kasus Distokia pada Kambing Kaligesing

By DINPPKP 17 Okt 2024, 13:50:22 WIB Peternakan dan Keswan

Penanganan Kasus Distokia pada Kambing Kaligesing

 

Kambing Kaligesing adalah salah satu jenis kambing Peranakan Etawa yang terkenal di Indonesia, merupakan hasil seleksi puluhan tahun Masyarakat Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah. Kambing ini tidak hanya dikenal karena kualitas daging dan susunya, tetapi juga karena penampilannya yang elegan dan sering dijadikan sebagai hewan kontes. Namun, dalam proses reproduksi, seperti hewan ternak lainnya, Kambing Kaligesing bisa menghadapi masalah reproduksi seperti distokia atau kesulitan melahirkan.

Pada tanggal 12 Oktober 2024, Medik Veteriner UPT Puskeswan menerima permintaan bantuan dari Dusun Ketawang, Tawangsari, Kaligesing Dimana kambing milik Bp. Sabarudin membutuhkan bantuan medis. Kambing dara bunting tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda mau melahirkan sejak tanggal 11 Oktober sekitar Pukul 22.00 WIB, namun hingga tanggal 12 Oktober Pukul 08.15 cempenya belum keluar.

Medik Veteriner mendatangi kandang Bp. Sabarudin dan menemukan kondisi kambingnya sudah tidak mampu berdiri,nampak mengejan namun cempenya tidak keluar. Setelah melakukan anamnesa, dilanjutkan dengan pemeriksaan umum, Medik Veteriner memutuskan untuk mengambil tindakan reposisi manual untuk mengeluarkan cempenya. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan cempenya sudah mati di dalam Rahim.

Foto 1. Kambing yang mengalami distokia

 

Apa Itu Distokia?

Distokia adalah istilah medis yang merujuk pada kesulitan dalam proses persalinan, baik pada kambing maupun hewan ternak lainnya. Distokia pada kambing bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari sisi induk kambing (ibu) maupun dari janin (anak kambing). Kasus distokia harus ditangani dengan cepat dan tepat, karena dapat mengancam nyawa induk maupun anak yang akan dilahirkan.

Penyebab Distokia pada Kambing Kaligesing

Distokia pada kambing Kaligesing bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  1. Faktor Induk (Maternal)
    • Ukuran panggul yang sempit: Beberapa kambing mungkin memiliki ukuran panggul yang tidak ideal untuk proses persalinan, terutama jika anak yang dikandung cukup besar.
    • Kontraksi rahim yang lemah: Kambing yang mengalami kontraksi lemah atau tidak cukup kuat bisa menghadapi kesulitan dalam mendorong janin keluar.
    • Usia induk kambing: Induk kambing yang terlalu muda atau terlalu tua cenderung mengalami distokia karena tubuh mereka belum atau tidak lagi berada dalam kondisi fisik optimal untuk melahirkan.
  2. Faktor Foetus (Fetal)
    • Ukuran janin yang terlalu besar: Kambing Kaligesing dikenal memiliki bobot tubuh yang cukup besar. Dalam beberapa kasus, janin yang dikandung bisa terlalu besar untuk dilahirkan secara normal.
    • Posisi janin yang tidak normal: Janin yang berada dalam posisi abnormal, seperti terbalik atau melintang, akan sulit dilahirkan secara alami.
    • Kematian janin dalam kandungan: Jika janin mati sebelum proses kelahiran dimulai, hal ini bisa memperparah kasus distokia karena janin tidak bisa bergerak dengan baik melalui jalan lahir.

Tanda-Tanda Distokia pada Kambing

Pemilik atau peternak kambing perlu mengenali tanda-tanda distokia agar bisa segera melakukan tindakan. Beberapa tanda umum distokia pada kambing Kaligesing meliputi:

  • Persalinan yang berkepanjangan: Jika kambing sudah menunjukkan tanda-tanda persalinan tetapi tidak ada perkembangan selama lebih dari 30-60 menit, kemungkinan ada masalah.
  • Kontraksi yang tidak efektif: Kambing yang menunjukkan tanda-tanda kesakitan, namun tidak ada kemajuan dalam proses melahirkan.
  • Posisi janin yang terlihat abnormal: Jika bagian tubuh yang keluar pertama kali bukan kepala atau kaki depan, ada kemungkinan janin berada dalam posisi yang salah.

Penanganan Kasus Distokia

Penanganan distokia harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari risiko cedera pada induk maupun janin. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:

  1. Pemeriksaan Fisik Pertama-tama, lakukan pemeriksaan pada induk kambing untuk menentukan penyebab distokia. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan secara manual dengan memasukkan tangan yang telah disterilkan ke dalam jalan lahir untuk mengevaluasi posisi janin dan kondisi panggul induk.
  2. Reposisi Foetus Jika penyebab distokia adalah posisi janin yang tidak normal, langkah pertama yang bisa diambil adalah mencoba memperbaiki posisi janin. Teknik ini membutuhkan keahlian khusus dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah cedera pada janin atau induk.
  3. Ekstraksi Manual Jika janin terlalu besar atau kontraksi induk tidak cukup kuat, dokter hewan atau peternak yang berpengalaman mungkin perlu membantu menarik janin keluar secara manual. Penggunaan pelumas dapat membantu mempermudah proses ini.
  4. Operasi Caesar (C-Section) Jika penanganan manual tidak berhasil atau jika ada indikasi medis lainnya seperti kematian janin dalam kandungan, operasi caesar mungkin diperlukan. Prosedur ini dilakukan oleh dokter hewan untuk menyelamatkan induk kambing, dan jika memungkinkan, janin.
  5. Pemberian Oksitosin Oksitosin adalah hormon yang dapat merangsang kontraksi rahim. Dalam beberapa kasus, suntikan oksitosin diberikan untuk memperkuat kontraksi rahim induk, terutama jika penyebab distokia adalah lemahnya kontraksi.

Perawatan Pasca Persalinan

Setelah proses melahirkan selesai, induk kambing dan anak yang dilahirkan memerlukan perawatan khusus. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi:

  • Pembersihan rahim: Pastikan rahim induk bersih dari sisa-sisa plasenta atau jaringan lain yang bisa menyebabkan infeksi.
  • Pemberian antibiotik: Dalam beberapa kasus, pemberian antibiotik mungkin diperlukan untuk mencegah infeksi, terutama jika proses persalinan berlangsung lama atau jika dilakukan intervensi manual.
  • Monitoring kesehatan anak kambing: Pastikan anak kambing mendapatkan asupan kolostrum (susu pertama) dari induknya dalam beberapa jam pertama setelah kelahiran, karena kolostrum sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh anak kambing.

Pencegahan Distokia

Distokia pada kambing dapat dicegah dengan melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat, antara lain:

  • Pemilihan induk dan pejantan yang tepat: Pastikan induk dan pejantan yang akan dikawinkan memiliki ukuran tubuh yang proporsional untuk mengurangi risiko melahirkan anak yang terlalu besar.
  • Nutrisi yang cukup: Pastikan induk kambing mendapatkan nutrisi yang cukup selama masa kehamilan, tetapi hindari pemberian pakan berlebih yang dapat menyebabkan anak kambing tumbuh terlalu besar.
  • Pemantauan selama kehamilan: Selalu lakukan pemantauan secara rutin terhadap induk kambing yang sedang hamil, terutama saat mendekati masa kelahiran, untuk mendeteksi potensi masalah sejak dini.

 

 

Foto 2 dan 3. Cempe berhasil dkeluarkan dalam kondisi mati dan induknya selamat

 

Hasil Penanganan

Distokia pada kambing Kaligesing milik Bp. Sabarudin berhasil ditangani namun cempenya sudah dalam kondisi mati di dalam Rahim. Ada dua ekor cempe dengan jenis kelamin betina. Distokia ini terjadi dikarenakan  faktor foetus, dimana salah satu leher foetus mengalami flexi (terpuntir) kearah punggung sehingga jalan lahir tidak mencukupi untuk keluarnya foetus (cempe). Kondisi tersebut menyebabkan foetus yang kedua juga gagal keluar. Mengingat waktunya yang cukup Panjang (11 jam) dari inisiasi kelahiran hingga mendapat pertolongan, cempenya sudah mati di dalam rahim. Sisi baiknya, induk kambing berhasil selamat dan akan dapat bereproduksi di waktu yang akan datang

Sebagai patokan waktu bagi peternak, jika peliharaannya menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan jika waktunya melampui dua jam dan cempenya belum keluar berarti harus segera dibantu. Hubungi dokter hewan terdekat untuk membantu proses kelahiran tersebut.

Kesimpulan

Distokia merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Dengan mengenali tanda-tanda distokia dan mengetahui langkah-langkah penanganannya, peternak dapat membantu menyelamatkan nyawa induk dan anak kambing. Kerjasama dengan dokter hewan, pemeliharaan kesehatan reproduksi yang baik, serta tindakan pencegahan adalah kunci dalam mengatasi dan mencegah distokia pada kambing Kaligesing.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung