- Kelompok Tani Rukun Tani dan Sumber Harapan, Panen Varietas Unggulan dengan Tantangan Cuaca dan Harga
- SELEKSI TENAGA FASILITATOR LAPANGAN KEGIATAN RJIT 2026
- Pelatihan Penguatan Kelembagaan Petani melalui Sekolah Lapang Tembakau di Kelompok Tani Ngudi Waluyo III Desa Keduren
- DKPP PURWOREJO SALURKAN BANTUAN PANGAN CPPD KE SEJUMLAH BNBA TERDAMPAK PUSO DAN KEKERINGAN DI DESA/KELURAHAN KECAMATAN PURWOREJO
- Gerak cepat tim kolaborasi tangani aduan masyarakat terkait pelaku usaha peternakan burung puyuh
- Pemeriksaan Ketat Bahan Pangan Asal Hewan: Langkah Nyata Wujudkan Keamanan Konsumen
- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
Pemeriksaan Bovine Ephemeral Fever Virus (BEF) pada Ternak Sapi Oleh Tim Medis Hewan DKPP

Menjadi dokter hewan adalah perjalanan yang penuh tanggung jawab dan pengorbanan. Namun di balik semua itu, ada kebahagiaan yang sulit digambarkan ketika melihat pasien yang tadinya sakit kemudian sembuh ada rasa hangat yang memenuhi hati. Seperti pada hari Rabu tanggal 4 Maret 2026, Tim dari UPT Puskeswan Purworejo diminta untuk pemeriksaan sapi yang sudah ambruk dan tidak mau makan, setelah kami datangi kemungkinannya mengarah ke infeksi virus BEF ( Bovine Ephemeral Virus ). Setelah kami tangani, pada hari Kamis tanggal 5 Maret 2026 peternak menghubungi lagi karena sapinya kembung dan terkulai. Tim UPT Puskeswan datang lagi untuk melihat kondisi sapi nya dan memberikan terapi lagi. Sorenya, tim kami mendapat kabar sapi sudah mulai berdiri dan mau makan lagi.
Bovine Ephemeral Fever Virus (BEF) merupakan salah satu penyakit infeksius pada sapi yang sering dikenal dengan sebutan three day sickness. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, diikuti dengan gejala seperti lemas, penurunan nafsu makan, pincang, serta kesulitan berdiri. Virus ini ditularkan melalui gigitan serangga vektor seperti nyamuk dan Culicoides, sehingga penyebarannya sering terjadi pada daerah dengan populasi serangga yang tinggi, terutama pada musim tertentu.
Perjalanan penyakit ini biasanya berlangsung cukup cepat, namun dampaknya dapat menimbulkan kekhawatiran bagi peternak karena sapi yang sebelumnya sehat tiba-tiba menjadi lemah dan tidak mampu beraktivitas normal. Pada beberapa kasus, sapi terlihat berbaring dan enggan berdiri akibat rasa nyeri pada otot dan persendian. Meskipun demikian, dengan penanganan yang tepat, pemberian terapi suportif, serta perawatan yang baik, sebagian besar hewan dapat pulih dalam beberapa hari.
Bovine Ephemeral Fever mengajarkan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan oleh vektor serta pentingnya manajemen kesehatan ternak yang baik. Melalui pemantauan kondisi hewan, pengendalian serangga, dan penanganan medis yang cepat, penyebaran penyakit ini dapat ditekan sehingga kesehatan dan produktivitas ternak tetap terjaga. Bagi kami medik veteriner, keberhasilan melihat sapi yang sebelumnya lemah kembali berdiri dan beraktivitas normal menjadi salah satu kepuasan tersendiri dalam menjalankan tugas menjaga kesehatan hewan dan keberlanjutan usaha peternakan.






