- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
PEMASANGAN BAMBU KONSERVASI DI POKTAN LIMA SEKAWAN DESA PENUNGKULAN

PEMASANGAN BAMBU KONSERVASI DI POKTAN LIMA SEKAWAN DESA PENUNGKULAN
Hama Penggerek Batang Padi merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Pada tingkat serangan yang tinggi kerugian yang ditimbulkan karena serangan hama ini cukup besar. Hama ini hidup di dalam batang padi dan memakan titik tumbuh tanaman yang menyebabkan tanaman mati pada titik tumbuhnya. Pada fase vegetative pertumbuhan tanaman terhenti, namun masih bisa membentuk anakan baru, gejala ini dinamakan sundep. Serangan pada vase Generatif akan menyebabkan putusnya jalur makanan menuju malai sehingga akan membuat malai yang kosong atau gabug, Gejala seperti ini dinamakan beluk.
Pengendalian hama ini tak seperti hama-hama lainnya yang kelihatan dan bisa langsung dilakukan aplikasi pestisida. Hama hidup didalam jaringan tanaman sehingga diperlukan insektisida yang bisa masuk kedalam jaringan tanaman, yaitu insektisida sistemik. Penggunaan insektisida sistemik ini tak sebebas insektisida kontak, apalagi ketika tanaman sudah memasuki vase generatif, karena bisa meninggalkan residu dan terbawa kedalam bahan pangan.
Pemanfaatan musuh alami yang ada dalam pengendalian hama ini bisa menjadi alternatif pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan. Parasitoid telur penggerek merupakan musuh alami yang paling efektif berperan dalam mengendalikan hama penggerek batang padi. Ada beberapa spesies diantaranya yang paling aktif mengendalikan penggerek batang padi adalah Telenomus sp., Tetrastichus sp. dan Trrichogramma sp..
Salah satu upaya dalam pemanfaatan musuh alami ini adalah dengan pemasangan bambu konservasi. Kegiatan ini dilakukan dengan menancapkan bambu dua atau 3 ruas dan ditancapkan pada areal sawah di dekat persemaian tanaman padi. Bagian atas ruas bambu dilubangi dan diberi vaselin atau stampad di sekitar lubang. Diatas lubang dipasang plastik untuk melindungi agar air hujan tidak masuk kedalam lubang. Kegiatan selanjutnya adalah mencari kelompok telur penggerek pada persemaian tanaman padi dan mengambilnya lalu dimasukkan kedalam lugang bambu konservasi. Apabila telur penggerek batang sudah terparasit maka serangga parasitoid bisa keluar dan terbang melalui lubang yang ada. Tetapi apabila telur belum terparasit maka ulat penggerek batang yang menetas akan mati dan tidak bisa pergi dari lubang karena ada vaselin atau stampad yang dioleskan di sekeliling lubang.
Pengendalian hama penggerek batang padi dengan cara ini sangat mudah dan dengan biaya yang murah namun tetap efektif. Satu kelompok telur yang dimasukkan kedalam lubang bambu konservasi terdapat antara 150 – 250 butir telur. Jika dalam satu kali kegiatan kita bisa memasukkan 10 kelompok telur kita sudah mengendalikan lebih dari 1000 calon penggerek batang padi, yang akan menyerang lebih dari 1000 batang tanaman, pada vase vegetatif. Apabila dibiarkan hidup dari 1000 batang ini bisa terdiri dari 500 pasang serangga hama yang akan meletakkan kelompok telur pada vase pertumbuhan berikutnya atau lebih dari 75.000 butir telur. Apabila kelompok telur yang kita ambil 20% terparasit dengan tingkat parasitasi 20% maka kita sudah mengamankan lebih dari 40 parasitoid yang akan berpotensi memarasit lebih dari 600 butir telur penggerek batang padi.
Kegiatan pemasangan bambu konservasi ini dilakukan pada acara SL IPDMIP di Kelompok tani Lima sekawan Desa penungkulan Kecamatan Gebang. Kegiatan dipandu oleh PPL Wibi yang juga pendamping kegiatan IPDMIP bersama-sama dengan koordinator PPL dan POPT dengan peserta 25 orang peserta SL. Diharapkan peserta SL akan memahami dan mampu melaksanakan sendiri kegiatan tersebut pada kegiatan budidaya padi pada masing-masing petani peserta.
(kontributor: Totok Fitrianto, S.P.)






