- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
- DKPP Gelar Rakor Pengawasan Hewan Kurban 2026, Tekankan Kelayakan dan Higienitas untuk Hasilkan Daging ASUH
Pemantauan Peternakan Babi di Desa Sendangsari Kecamatan Purwodadi dalam rangka Antisipasi Penyebaran PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis)
Pemantauan Peternakan Babi di Desa
Sendangsari Kecamatan Purwodadi dalam rangka Antisipasi Penyebaran PHMS
(Penyakit Hewan Menular Strategis)
Pembangunan
peternakan dan kesehatan hewan saat ini sedang menghadapi tantangan yang luar
biasa, dengan adanya Penyakit Hewan Menular Strategis bahkan telah mewabah di
beberapa provinsi di Indonesia seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy
Skin Disease (LSD) atau yang dikenal dengan Penyakit Lato-Lato yang menyerang
hewan-hewan berkuku belah serta Penyakit Avian Influenza (AI) pada unggas yang
saat ini merebak pada ayam, bebek dan itik.
Sebagai langkah awal pemantauan
Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) salah satunya adalah dengan pemantauan
pemeliharaan ternak milik warga. Salah satu penyakit pada ternak yang tergolong
PHMS adalah ASF yang hanya menjangkit pada babi. Tim dari Bidang Keswan dan
Kesmavet Dnas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang terdiri
dari drh. Fauziyah dan drh. Rini beserta 2 mahasiswa Vokasi Tehnologi Veteriner
Universitas Gadjah Mada, dan dengan didampingi PPL Kecamatan Purwodadi
melaksanakan Surveilans Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) pada ternak
babi di desa Sendangsari kecamatan Purwodadi. Dengan dipandu bapak kepala desa
dan 3 perangkat desa Sendangsari, tim menuju 3 titik Lokasi kandang pada Senin (24/03/2025).
Kandang I, berupa kandang gabungan
dari beberapa peternak. Merupakan kandang babi pertama yang didirikan di desa
ini. Dari sebelumnya pemelihara ada sekitar 7 orang, saat ini tinggal 1 orang
saja yaitu bapak Toro. Saat ini kandang terisi babi sebanyak 28 ekor yang
terdiri dari 1 ekor pejantan, 2 ekor induk, 11 ekor anakan umur 80 hari hasil
peranakan sendiri dan 14 ekor anakan umur 70 hari beli dari perbibitan babi
Ketawangrejo Grabag. Kandang II, juga berupa kandang gabungan beberapa
peternak, numun masing-masing peternak memiliki area yang terpisah-pisah oleh
gang/lorong kandang. Saat ini peternak yang masih aktif pelihara yaitu bapak
Teguh, bapak Iman dan bapak Tarsun. Untuk bapak Teguh pelihara 18 ekor babi
umur 5 bulan siap jual dan 14 ekor anakan umur 2 bulan. Bapak Iman memeliharan
anakan umur 1 bulan sebanyak 20 ekor, serta bapak Tarsun pelihara dalam jumlah
paling banyak ( 1 ekor pejantan, 5 ekor induk, 7 ekor umur 6 bulan siap jual,
18 ekor umur 3 bulan, dan 16 ekor umur 1 bulan). Untuk kandang III, lokasi di
tepi desa yang berbatasan dengan pemukiman warga desa Surorejo kecamatan
Banyuurip, juga merupakan kandang gabungan, terdapat sekitar 120 ekor babi yang
dipelihara oleh 6 peternak yaitu bapak Seger Buyono, bapak Darul Akbar, bapak
Rakhmat Prasetyo, bapak Syarifudin, bapak Anton dan Slamet Riyadi.
Babi dipelihara dari anakan, baik
itu pernakan sendiri ataupun beli anakan pada peternakan pusat perbibitan babi,
baik yang di wilayah Purworejo ataupun dari luar kota. Sedang untuk penjualan,
biasanya babi dijual pada usia kisaran 5-7 bulan di mana babi telah mencapai
bobot 70 kg ke atas.
Kandang I pernah terjangkit Hog
Cholera pada tahun 2000an, dan wabah ASF pernah menyerang ketiga kandang pada
tahun 2023. Saat ASF mewabah, menghabiskan hamper seluruh populasi ternak babi
di des aini, dan membuat beberapa peternak gulung tikar dan belum ampu bangkit
Kembali.
Saat ini kondisi seluruh ternak
sehat, tidak ada yang menderita sakit, dengan kondisi kandang lumayan bersih.
Pemberian pakan pada kangang I berupa limbah pasar yang sama sekali tidak
dimasak terlebih dahulu, ditambah pur babi untuk anakan babinya. Kandang II dan
II, pakan berupa limbah pasar namun diolah dimasak dahulu sebelum diberikan.
Namun masalah limbah utamanya terkait bau, masih menjadi problem
yang belum terselesaikan hingga saat ini, dan hal ini tetap menjadi polemik
yang berkepanjangan utamanya pada kandang yang terlalu dekat dengan pemukiman
warga. Perlu edukasi lebih lanjut dan koordinasi berbagai pihak untuk mengatasi
problem ini.
Dalam kegiatan kali ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
membagikan desinfektan kepada seluruh peternak, agar rutin diaplikasikan guna
sebagai salah satu upaya menjaga menjaga hygiene sanitasi kandang dan sekitar.
Dilakukaan juga KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) terkait pemeliharaan
ternak secara sehat dan pengetahuan berbagai penyakit pada babi. Diharapkan
wabah PHMS pada babi tidak menjangkit lagi di peternakan babi di wilayah
Purworejo.
Catatan:
African Swine Fever (ASF)
adalah penyakit menular pada babi yang sangat berbahaya, disebabkan oleh
virus ASF dan dapat menyebabkan kematian hingga 100%. Penyakit ini tidak
menular ke manusia, namun dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi
peternak babi.
Berikut adalah detail lebih lanjut
tentang ASF:
Penyebab dan Karakteristik:
- Penyebab: Virus ASF
(Asfivirus, famili Asfarviridae).
- Tingkat Kematian: Sangat
tinggi, bisa mencapai 100%.
- Tular: Sangat menular, baik
melalui kontak langsung maupun tidak langsung.
- Zoonosis: Tidak menular ke
manusia.
- Kerugian Ekonomi: Sangat besar
karena tingkat kematian yang tinggi dan potensi gangguan
perdagangan.
Gejala Klinis:
- Bentuk Perakut: Hewan mati
tanpa gejala.
- Bentuk Akut: Demam tinggi,
lesu, bercak merah di kulit, pendarahan di hidung, kulit di bagian perut
dan telinga memerah, nafsu makan menurun, dan berbagai perdarahan.
- Bentuk Subakut dan Kronis: Gejala
lebih ringan dan berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama.
Penyebaran:
- Kontak Langsung: Melalui
kontak dengan babi yang sakit.
- Kontak Tidak Langsung: Melalui
pakan, air, peralatan, dan gigitan caplak yang tercemar virus.
- Vektor: Caplak lunak dari
genus Ornithodoros.
Pencegahan dan Pengendalian:
- Biosekuriti yang Ketat: Meminimalkan
kontak antara babi yang sehat dan babi yang terinfeksi.
- Isolasi: Memisahkan babi yang
terinfeksi dari babi yang sehat.
- Pengawasan Intensif: Memantau
daerah-daerah yang berisiko tinggi.
- Mencegah Lalu Lintas Media Pembawa Virus: Membatasi lalu lintas babi dan barang-barang yang
berpotensi membawa virus.
- Manajemen Peternakan yang Baik: Memastikan
kebersihan kandang dan lingkungan peternakan.
Penting untuk Dicatat:
- Tidak Ada Vaksin atau Obat: Hingga
saat ini, belum ada vaksin atau obat yang efektif untuk ASF.
- Pentingnya Pencegahan: Pencegahan
dan pengendalian ASF sangat penting untuk mencegah kerugian ekonomi yang
besar.
- Pentingnya Biosekuriti: Biosekuriti
yang ketat adalah kunci untuk mencegah penyebaran ASF.
Hog cholera atau kolera babi
adalah penyakit virus yang menyerang babi dan dapat berakibat
fatal. Penyakit ini juga dikenal sebagai demam babi klasik.
Gejala
- Kematian janin, resorpsi, mumifikasi, lahir mati
- Keguguran
- Tremor bawaan, lemah
- Pertumbuhan yang buruk selama beberapa minggu atau beberapa bulan
Penularan
- Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak
langsung
- Virus dapat ditularkan melalui agen pembawa, seperti kendaraan
yang memindahkan hewan tersebut
- Virus dapat bertahan hidup dalam daging babi dan produk olahan
babi selama berbulan-bulan
Penanganan
- Vaksinasi dapat mencegah penyebaran penyakit
- Menerapkan profilaksis sanitasi yang ketat dan tindakan
kebersihan
- Jika terjadi wabah, semua babi di peternakan yang terkena harus
disembelih
Sejarah di Indonesia
- Kasus demam babi klasik pertama kali ditemukan di Sumatera
Utara pada tahun 1994
- Penyakit ini lalu menyebar provinsi lain di Pulau Sumatra, ke
Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi






