Pemantauan Peternakan Babi di Desa Sendangsari Kecamatan Purwodadi dalam rangka Antisipasi Penyebaran PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis)

By DINPPKP 27 Mar 2025, 11:07:44 WIB Peternakan dan Keswan

Pemantauan Peternakan Babi di Desa Sendangsari Kecamatan Purwodadi dalam rangka Antisipasi Penyebaran PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis)

 

            Pembangunan peternakan dan kesehatan hewan saat ini sedang menghadapi tantangan yang luar biasa, dengan adanya Penyakit Hewan Menular Strategis bahkan telah mewabah di beberapa provinsi di Indonesia seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang dikenal dengan Penyakit Lato-Lato yang menyerang hewan-hewan berkuku belah serta Penyakit Avian Influenza (AI) pada unggas yang saat ini merebak pada ayam, bebek dan itik.

            Sebagai langkah awal pemantauan Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) salah satunya adalah dengan pemantauan pemeliharaan ternak milik warga. Salah satu penyakit pada ternak yang tergolong PHMS adalah ASF yang hanya menjangkit pada babi. Tim dari Bidang Keswan dan Kesmavet Dnas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang terdiri dari drh. Fauziyah dan drh. Rini beserta 2 mahasiswa Vokasi Tehnologi Veteriner Universitas Gadjah Mada, dan dengan didampingi PPL Kecamatan Purwodadi melaksanakan Surveilans Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) pada ternak babi di desa Sendangsari kecamatan Purwodadi. Dengan dipandu bapak kepala desa dan 3 perangkat desa Sendangsari, tim menuju 3 titik Lokasi kandang pada Senin (24/03/2025).

            Kandang I, berupa kandang gabungan dari beberapa peternak. Merupakan kandang babi pertama yang didirikan di desa ini. Dari sebelumnya pemelihara ada sekitar 7 orang, saat ini tinggal 1 orang saja yaitu bapak Toro. Saat ini kandang terisi babi sebanyak 28 ekor yang terdiri dari 1 ekor pejantan, 2 ekor induk, 11 ekor anakan umur 80 hari hasil peranakan sendiri dan 14 ekor anakan umur 70 hari beli dari perbibitan babi Ketawangrejo Grabag. Kandang II, juga berupa kandang gabungan beberapa peternak, numun masing-masing peternak memiliki area yang terpisah-pisah oleh gang/lorong kandang. Saat ini peternak yang masih aktif pelihara yaitu bapak Teguh, bapak Iman dan bapak Tarsun. Untuk bapak Teguh pelihara 18 ekor babi umur 5 bulan siap jual dan 14 ekor anakan umur 2 bulan. Bapak Iman memeliharan anakan umur 1 bulan sebanyak 20 ekor, serta bapak Tarsun pelihara dalam jumlah paling banyak ( 1 ekor pejantan, 5 ekor induk, 7 ekor umur 6 bulan siap jual, 18 ekor umur 3 bulan, dan 16 ekor umur 1 bulan). Untuk kandang III, lokasi di tepi desa yang berbatasan dengan pemukiman warga desa Surorejo kecamatan Banyuurip, juga merupakan kandang gabungan, terdapat sekitar 120 ekor babi yang dipelihara oleh 6 peternak yaitu bapak Seger Buyono, bapak Darul Akbar, bapak Rakhmat Prasetyo, bapak Syarifudin, bapak Anton dan Slamet Riyadi.

            Babi dipelihara dari anakan, baik itu pernakan sendiri ataupun beli anakan pada peternakan pusat perbibitan babi, baik yang di wilayah Purworejo ataupun dari luar kota. Sedang untuk penjualan, biasanya babi dijual pada usia kisaran 5-7 bulan di mana babi telah mencapai bobot 70 kg ke atas.

            Kandang I pernah terjangkit Hog Cholera pada tahun 2000an, dan wabah ASF pernah menyerang ketiga kandang pada tahun 2023. Saat ASF mewabah, menghabiskan hamper seluruh populasi ternak babi di des aini, dan membuat beberapa peternak gulung tikar dan belum ampu bangkit Kembali.

            Saat ini kondisi seluruh ternak sehat, tidak ada yang menderita sakit, dengan kondisi kandang lumayan bersih. Pemberian pakan pada kangang I berupa limbah pasar yang sama sekali tidak dimasak terlebih dahulu, ditambah pur babi untuk anakan babinya. Kandang II dan II, pakan berupa limbah pasar namun diolah dimasak dahulu sebelum diberikan.

Namun masalah limbah utamanya terkait bau, masih menjadi problem yang belum terselesaikan hingga saat ini, dan hal ini tetap menjadi polemik yang berkepanjangan utamanya pada kandang yang terlalu dekat dengan pemukiman warga. Perlu edukasi lebih lanjut dan koordinasi berbagai pihak untuk mengatasi problem ini.

Dalam kegiatan kali ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian membagikan desinfektan kepada seluruh peternak, agar rutin diaplikasikan guna sebagai salah satu upaya menjaga menjaga hygiene sanitasi kandang dan sekitar. Dilakukaan juga KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) terkait pemeliharaan ternak secara sehat dan pengetahuan berbagai penyakit pada babi. Diharapkan wabah PHMS pada babi tidak menjangkit lagi di peternakan babi di wilayah Purworejo.

 

Catatan:

African Swine Fever (ASF) adalah penyakit menular pada babi yang sangat berbahaya, disebabkan oleh virus ASF dan dapat menyebabkan kematian hingga 100%. Penyakit ini tidak menular ke manusia, namun dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak babi. 

Berikut adalah detail lebih lanjut tentang ASF:

Penyebab dan Karakteristik:

  • Penyebab: Virus ASF (Asfivirus, famili Asfarviridae).
  • Tingkat Kematian: Sangat tinggi, bisa mencapai 100%.
  • Tular: Sangat menular, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.
  • Zoonosis: Tidak menular ke manusia.
  • Kerugian Ekonomi: Sangat besar karena tingkat kematian yang tinggi dan potensi gangguan perdagangan. 

Gejala Klinis:

  • Bentuk Perakut: Hewan mati tanpa gejala. 
  • Bentuk Akut: Demam tinggi, lesu, bercak merah di kulit, pendarahan di hidung, kulit di bagian perut dan telinga memerah, nafsu makan menurun, dan berbagai perdarahan. 
  • Bentuk Subakut dan Kronis: Gejala lebih ringan dan berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama. 

Penyebaran:

  • Kontak Langsung: Melalui kontak dengan babi yang sakit.
  • Kontak Tidak Langsung: Melalui pakan, air, peralatan, dan gigitan caplak yang tercemar virus.
  • Vektor: Caplak lunak dari genus Ornithodoros. 

Pencegahan dan Pengendalian:

  • Biosekuriti yang Ketat: Meminimalkan kontak antara babi yang sehat dan babi yang terinfeksi.
  • Isolasi: Memisahkan babi yang terinfeksi dari babi yang sehat.
  • Pengawasan Intensif: Memantau daerah-daerah yang berisiko tinggi.
  • Mencegah Lalu Lintas Media Pembawa Virus: Membatasi lalu lintas babi dan barang-barang yang berpotensi membawa virus.
  • Manajemen Peternakan yang Baik: Memastikan kebersihan kandang dan lingkungan peternakan. 

Penting untuk Dicatat:

  • Tidak Ada Vaksin atau Obat: Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat yang efektif untuk ASF. 
  • Pentingnya Pencegahan: Pencegahan dan pengendalian ASF sangat penting untuk mencegah kerugian ekonomi yang besar. 
  • Pentingnya Biosekuriti: Biosekuriti yang ketat adalah kunci untuk mencegah penyebaran ASF. 

 

 

Hog cholera atau kolera babi adalah penyakit virus yang menyerang babi dan dapat berakibat fatal. Penyakit ini juga dikenal sebagai demam babi klasik. 

Gejala 

  • Kematian janin, resorpsi, mumifikasi, lahir mati
  • Keguguran
  • Tremor bawaan, lemah
  • Pertumbuhan yang buruk selama beberapa minggu atau beberapa bulan

Penularan

  • Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung 
  • Virus dapat ditularkan melalui agen pembawa, seperti kendaraan yang memindahkan hewan tersebut 
  • Virus dapat bertahan hidup dalam daging babi dan produk olahan babi selama berbulan-bulan 

Penanganan 

  • Vaksinasi dapat mencegah penyebaran penyakit
  • Menerapkan profilaksis sanitasi yang ketat dan tindakan kebersihan
  • Jika terjadi wabah, semua babi di peternakan yang terkena harus disembelih

Sejarah di Indonesia 

  • Kasus demam babi klasik pertama kali ditemukan di Sumatera Utara pada tahun 1994
  • Penyakit ini lalu menyebar provinsi lain di Pulau Sumatra, ke Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi

 

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung