- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
PELATIHAN PUPUK ORGANIK KOMPOS, BANGKITKAN SEMANGAT PETANI MANFAATKAN KOTORAN HEWAN TERNAK

PELATIHAN PUPUK ORGANIK KOMPOS, BANGKITKAN SEMANGAT PETANI MANFAATKAN KOTORAN HEWAN TERNAK
Penggunaan pupuk di Indonesia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman sayuran tersebut salah satu diantaranya dengan pemberian pupuk. Pemupukan dilakukan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman, sehingga dapat memberikan hasil yang tinggi.
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan atau manusia seperti pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos baik yang berbentuk cair maupun padat. Penggunaan pupuk organik mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pupuk kimia. Pupuk organik mengandung unsur hara lengkap meski kadarnya tidak setinggi pupuk kimia.
Diantara berbagai hara tanaman, nitrogen (N) dan fosfor (P) merupakan unsur hara makro yang sangat penting bagi tanaman tetapi jumlahnya sedikit dalam tanah dan sebagian besar terdapat dalam bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman. Salah satu sumber pupuk organik yang potensial dalam menyediakan unsur hara N dan P adalah kotoran ternak.
Bertempat di Balai Desa Ngentak pada pertengahan Bulan Desember 2023, dilaksanakan praktek pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran hewan. Hadir pada acara ini, PPL Kecamatan Ngombol Budiono dan Heriyanto, Pemerintah Desa Ngentak dan anggota kelompok tani sejumlah 30 orang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk merangsang petani memanfaatkan kotoran ternak yang dimiliki untuk diolah menjadi pupuk organik sehingga dapat dimanfaatkan di lahan pertanian yang mereka miliki.
Acara diawali dengan Sambutan dari Pemerintah Desa Ngentak yang diwakili oleh Aswanto Kepala Desa Ngentak yang menyampaikan potensi kotoran hewan ternak yang ada di Desa Ngentak sangat melimpah. Setiap RT ada sekitar puluhan rumah tangga yang memiliki hewan ternak, tetapi belum optimal dalam pemanfaatan kotoran hewannya. “Harapan Kami setelah adanya pelatihan ini masyarakat bersemangat untuk mengolah kotoran hewan yang dimilki menjadi pupuk organik kompos yang dapat diapikasikan di lahan sawah dan tegalan yang dimiliki, sehingga dapat menambah nutrisi dan hara bagi tanah dan tanaman budidaya”.
Budiono selaku PPL Kecamatan Ngombol sekaligus narasumber pada acara pelatihan ini menyampaikan mayoritas petani selama ini memanfaatkan pupuk kandang dari kotoran sapi langsung digunakan untuk pemupukan, tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi ini dimungkinkan terjadi mengingat antara lain karena tidak disadarinya manfaat dan fungsi pengolahan kotoran sapi; kurangnya pengetahuan proses pembuatan pupuk organik secara sederhana dan cepat; kurangnya pemahaman mengenai nilai tambah pupuk organik dari kotoran ternak; dan kurangnya pemahaman para peternak khususnya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak. Budiono menambahkan kotoran sapi yang dibuang di ruang terbuka ini akan berdampak pada pencemaran tanah serta udara karena kotoran hewan mengandung gas metan yang merupakan sumber emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dan akan berpengaruh terhadap pemanasan global.
Selanjutnya dilakukan praktek pembuatan pupuk organik, dengan menggunakan bahan kotoran ternak, serbuk gergaji, arang sekam, air EM4 dan tetes tebu untuk mempercepat proses fermentasi. Budiono menjelaskan cara membuat pupuk organik yaitu :
- Bahan kompos disiapkan kotoran sapi dibawah dan sekam padi di atasnya.
- Campur EM4 dan tetes tebu dengan air kemudian digunakan untuk menyiram kotoran hewan yang telah disiapkan.
- Aduk bahan kompos sampai rata.
- Atur kelembaban 60% dengan ciri bila digenggam tidak pecah, tidak ada tetesan air dan tangan tidak basah.
- Apabila kurang lembab ditambah air secukupnya.
- Bahan yang sudah diaduk ditutup dengan terpal.
- Pembalikan dilakukan setiap minggu.
- Pengecekan proses pengomposan dilakukan pada hari ketiga, apabila terasa panas, maka terjadi proses pengomposan.
- Proses pengomposan berlangsung selama 3 minggu.
- Setelah 3 minggu kompos sudah jadi ditandai dengan bahan kompos tidak panas dan tidak bau.
Budiono menambahkan ciri-ciri kompos sudah jadi dan baik adalah :
- Warna kompos coklat kehitaman
- Aroma kompos yang baik tidak menyengat, tetapi mengeluarkan aroma seperti bau tanah atau bau humus hutan
- Apabila dipegang dan dikepal, kompos akan menggumpal. Apabila ditekan dengan lunak, gumpalan kompos akan hancur dengan mudah.
Parwadi, salah satu peserta pelatihan menyampaikan setelah mengikuti pelatihan ini, menyadari bahwa penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas ahan pertanian karena memperbaiki sifat, kimia dan biologi pada tanah atau lahan pertanian, sehingga lebih mudah mengolah lahan pertanian dengan harga yang lebih murah dan mudah dibandingkan membeli pupuk kimia di kios pertanian. Selain itu untuk manusia, juga memberi manfaat untuk kesehatan manusia, karena banyak kandungan nutrisi lebih lengkap dan lebih sehat sehingga dalam mengkonsumsi juga lebih aman, sehingga Parwadi bersemnagat untuk mengolah kotoran hewan ternak yang dimilikinya untuk diolah menjadi pupuk organik.






