- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Pelajaran Berharga Dari Alam Bruno Hari Ini
Bruno, 17 November 2025__
Matahari pagi mulai naik bersama dengan turunnya kabut di tepi Kali Gowong. Dibawah sana terdengar sayup-sayup suara gemericik air kali layaknya orang yang sedang berzikir pelan.
Tampak seorang lelaki sepuh tengah duduk sambil membelah bambu sepertinya sedang membuat pagar atau ajir untuk tanaman. Dengan memakai kopiah putih, kaos tipis, celana yang lusuh, namun sorot matanya jernih, sejernih air sungai yang mengalir di bawah sana. Itulah Mbah Slamet lelaki yang yang rambutnya sudah memutih namun semangatnya tetap hijau seperti daun kopi di ladang miliknya.
Ia bukanlah warga desa Gowong. Ia adalah warga desa Kaliwungu. Namun entah bagaimana tanah Gowong seperti memanggilnya sejak usia masih muda. Suatu hari ia datang lalu tak pernah benar-benar pergi. Tanah-tanah itu seperti menahan langkahnya, dan ia pun menanam hidupnya di sini.
Kini diusianya yang tak lagi muda ia mengolah empat lokasi lahan miliknya. Tanah itu tidak dibeli dalam sekejap, tidak juga dari rezeki besar yang datang tiba-tiba. Semuanya berangkat dari sebuah langkah kecil—pelan tapi konsisten. Dan di tanah itulah tumbuh kopi, kelapa, pisang, durian, dan segala macam tanaman khas pegunungan yang ia pelihara dengan cinta.
Sebuah filosofi Jawa yang sederhana namun sangat dalam dan penuh dengan makna Baginya gerak adalah do'a. Keringat adalah syukur. Dan bekerja bukan sekadar urusan ekonomi melainkan sebuah kebutuhan jiwa. Karena itulah meski tubuhnya yang tak lagi muda ia tetap turun ke ladang.
“Le, awak iki yen ora digerakne, yo malah cepet rusak dhewe,” ucapnya disela-sela obrolan. “Keringet sing netes kuwi olah raga, tanduran kuwi hiburan. Sing penting awakku ora nganggur lan ora dadi bebane anak-anak.” Ia tak ingin dihari tuanya menjadi beban siapa pun, bahkan dengan keluarganya sendiri.
Ia berhenti sebentar dan menghela nafas sambil memandangi aliran sungai. Lalu kemudian menambahkan kata-katanya perlahan: "Syetan kuwi pinter, le. Ora tau kentekan akal. Jaman biyen godhaane mung bisik-bisik. Ning Jaman saiki? Syetan nduwé WiFi…”
Itulah caranya menanam nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya—tenang, sederhana, tanpa ceramah yang panjang-panjang.
Dan itulah warisan paling indah dari Mbah Slamet—warisan yang tidak mungkin dapat dicuri, tidak dapat ditiru secara dangkal, namuan hanya dapat diteladani dengan hati.... Wallohualam bishowab.






