- RAPAT KOORDINASI PERCEPATAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JUT
- SURVEY KE PETERNAKAN AYAM PETELUR
- Monitoring PPTS, Sinergi DKPP dan PPL Kec. Butuh Pastikan Pasokan Pupuk Bersubsidi Aman
- Purworejo Jadi Tuan Rumah Pembinaan Produsen Benih Hortikultura Se-Jawa Tengah
- Seleksi Perdana Hibah Domba Dimulai, DKPP Purworejo Pastikan Ternak Berkualitas Siap Disalurkan
- PEMERIKSAAN KUALITAS DAN KUANTITAS BANTUAN PANGAN BERAS PERIODE BULAN JULI-SEPTEMBER 2026 DI GUDANG BULOG BUTUH
- Kunjungi Kelompok Tani Makaryo Wonosari, Ditjen Hortikultura Bersama DKPP dan PPL Lakukan Verifikasi CPCL
- GERAKAN PANGAN MURAH KEMBALI MERIAHKAN ALUN-ALUN PURWOREJO DALAM RANGKAIAN KEGIATAN GEMAR TAHUN 2026
- Mendukung Mutu Benih Tembakau: DKPP Purworejo Bersama BPSB Jawa Tengah Lakukan Pemeriksaan Lapangan di Desa Rowobayem
- DKPP Purworejo Pastikan Kualitas Hibah Sejak Awal Melalui Seleksi Ketat Kambing Jawa Randu
Pelajaran Berharga Dari Alam Bruno Hari Ini
Bruno, 17 November 2025__
Matahari pagi mulai naik bersama dengan turunnya kabut di tepi Kali Gowong. Dibawah sana terdengar sayup-sayup suara gemericik air kali layaknya orang yang sedang berzikir pelan.
Tampak seorang lelaki sepuh tengah duduk sambil membelah bambu sepertinya sedang membuat pagar atau ajir untuk tanaman. Dengan memakai kopiah putih, kaos tipis, celana yang lusuh, namun sorot matanya jernih, sejernih air sungai yang mengalir di bawah sana. Itulah Mbah Slamet lelaki yang yang rambutnya sudah memutih namun semangatnya tetap hijau seperti daun kopi di ladang miliknya.
Ia bukanlah warga desa Gowong. Ia adalah warga desa Kaliwungu. Namun entah bagaimana tanah Gowong seperti memanggilnya sejak usia masih muda. Suatu hari ia datang lalu tak pernah benar-benar pergi. Tanah-tanah itu seperti menahan langkahnya, dan ia pun menanam hidupnya di sini.
Kini diusianya yang tak lagi muda ia mengolah empat lokasi lahan miliknya. Tanah itu tidak dibeli dalam sekejap, tidak juga dari rezeki besar yang datang tiba-tiba. Semuanya berangkat dari sebuah langkah kecil—pelan tapi konsisten. Dan di tanah itulah tumbuh kopi, kelapa, pisang, durian, dan segala macam tanaman khas pegunungan yang ia pelihara dengan cinta.
Sebuah filosofi Jawa yang sederhana namun sangat dalam dan penuh dengan makna Baginya gerak adalah do'a. Keringat adalah syukur. Dan bekerja bukan sekadar urusan ekonomi melainkan sebuah kebutuhan jiwa. Karena itulah meski tubuhnya yang tak lagi muda ia tetap turun ke ladang.
“Le, awak iki yen ora digerakne, yo malah cepet rusak dhewe,” ucapnya disela-sela obrolan. “Keringet sing netes kuwi olah raga, tanduran kuwi hiburan. Sing penting awakku ora nganggur lan ora dadi bebane anak-anak.” Ia tak ingin dihari tuanya menjadi beban siapa pun, bahkan dengan keluarganya sendiri.
Ia berhenti sebentar dan menghela nafas sambil memandangi aliran sungai. Lalu kemudian menambahkan kata-katanya perlahan: "Syetan kuwi pinter, le. Ora tau kentekan akal. Jaman biyen godhaane mung bisik-bisik. Ning Jaman saiki? Syetan nduwé WiFi…”
Itulah caranya menanam nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya—tenang, sederhana, tanpa ceramah yang panjang-panjang.
Dan itulah warisan paling indah dari Mbah Slamet—warisan yang tidak mungkin dapat dicuri, tidak dapat ditiru secara dangkal, namuan hanya dapat diteladani dengan hati.... Wallohualam bishowab.






